Senin, 03 Agustus 2026

 Lebih dari Sekadar Tempat Tinggal, Rumah Singgah YKI DIY Jadi Ruang Harapan Pasien Kanker


(Sumber: Tim Liputan STIA AAN Yogyakarta)

 

Yogyakarta, 13 Juli 2026 — Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Daerah Istimewa Yogyakarta terus memperkuat layanan pendampingan bagi pasien kanker melalui rumah singgah yang menyediakan tempat tinggal sementara, dukungan psikososial, hingga fasilitas penunjang selama menjalani pengobatan.

Yayasan Kanker Indonesia (YKI) DIY merupakan lembaga nirlaba yang berdiri sejak 1987 dan berfokus mendukung upaya pemerintah dalam penanggulangan kanker. Dalam menjalankan misinya, YKI DIY mengedepankan tiga upaya utama, yaitu promotif melalui penyuluhan kepada masyarakat, preventif melalui deteksi dini kanker, serta upaya suportif berupa pendampingan bagi pasien yang membutuhkan. Pendampingan tersebut mencakup dukungan spiritual, psikologis, sosial, hingga bantuan bagi pasien yang mengalami kendala selama menjalani pengobatan.

Sebagai bagian dari layanan suportif, YKI DIY menyediakan rumah singgah yang diperuntukkan bagi pasien kanker, khususnya mereka yang harus menjalani pengobatan dalam jangka waktu lama. Fasilitas ini juga dapat dimanfaatkan oleh seorang anggota keluarga yang mendampingi pasien. Selain menyediakan tempat tinggal sementara, rumah singgah dilengkapi dengan kebutuhan dasar, seperti peralatan memasak serta bahan pangan, agar pasien dan pendamping dapat menjalani masa pengobatan dengan lebih nyaman.

Selain itu, YKI DIY juga melibatkan relawan dalam memberikan pendampingan sesuai kebutuhan pasien. Para relawan berasal dari berbagai latar belakang, termasuk para penyintas kanker yang telah pulih dan ingin berbagi pengalaman kepada pasien dengan jenis kanker yang sama. Melalui layanan tersebut, rumah singgah tidak hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga menjadi ruang pendampingan yang memberikan dukungan moral, sosial, dan emosional bagi pasien maupun keluarganya selama menjalani proses pengobatan.

Ketua Bidang I (Organisasi) Yayasan Kanker Indonesia Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Dra. I. M. Sunarsih Sutaryo, SU., Apt., menjelaskan bahwa operasional rumah singgah sepenuhnya bergantung pada dukungan masyarakat tanpa pendanaan rutin dari pemerintah. Bantuan tersebut berasal dari donatur perorangan, kelompok, organisasi nonpemerintah, hingga perusahaan yang berkontribusi dalam bentuk dana, pembangunan fasilitas, maupun kebutuhan operasional.

Sementara itu, dukungan pemerintah diberikan melalui Dinas Kesehatan dalam bentuk penyuluhan, bukan bantuan dana. Menurut Sunarsih, masyarakat juga memiliki kesempatan untuk berkontribusi sebagai relawan. "Kami sama sekali tidak ada dana dari pemerintah. Dana ini berasal dari masyarakat, baik dari pribadi, kelompok, organisasi nonpemerintah, maupun perusahaan. Membantu itu tidak harus berupa uang, menjadi relawan dengan menyumbangkan tenaga juga sudah merupakan bentuk bantuan yang sangat berarti," ujarnya.

Rumah Singgah Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang DIY yang berlokasi di Jalan YKI Sendowo, Sinduadi, Mlati, Sleman, saat ini memiliki kapasitas untuk menampung sekitar 36 pasien. Fasilitas tersebut terdiri atas beberapa unit rumah singgah, termasuk unit khusus anak yang baru beroperasi beberapa bulan terakhir dengan kapasitas 12 pasien. Tingkat hunian atau Bed Occupancy Rate (BOR) bersifat fluktuatif, berkisar antara 50 hingga 100 persen sehingga dinilai masih mampu memenuhi kebutuhan pasien yang menjalani pengobatan di Yogyakarta. Hingga saat ini, pihak pengelola belum berencana menambah kapasitas rumah singgah karena fasilitas yang tersedia masih dianggap memadai. Adapun rumah singgah khusus anak diperuntukkan bagi pasien berusia mulai dari bayi hingga 18 tahun, sedangkan pasien dewasa tetap dilayani di unit rumah singgah yang terpisah sesuai kategori laki-laki dan perempuan.

Menutup wawancara, Sunarsih berharap semakin banyak pasien kanker yang menjalani pengobatan hingga tuntas dan tidak menghentikan terapi di tengah jalan. Menurutnya, berbagai kendala yang dihadapi pasien, baik secara spiritual, psikologis, sosial, maupun ekonomi, dapat diatasi melalui pendampingan yang diberikan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) DIY bersama para relawan. Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak takut melakukan deteksi dini kanker. Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak takut melakukan deteksi dini kanker. Pemeriksaan sejak awal menurutnya, dapat meningkatkan peluang keberhasilan penanganan sehingga penyuluhan dan kesadaran masyarakat perlu terus ditingkatkan. Selain itu, ia berharap semakin banyak masyarakat yang berkontribusi melalui berbagai cara, baik sebagai relawan, pendonor darah, maupun dengan memberikan bantuan sesuai kemampuan, agar rumah singgah dapat terus mendampingi pasien selama menjalani proses pengobatan.

 

Reporter: Tim Liputan STIA AAN

 

Saka Kalpataru Kwarcab Sleman Pelajari Budidaya Hidroponik untuk Mendukung Pertanian Ramah Lingkungan


Sumber: Saka Kalpataru Sleman

 

Sleman — Saka Kalpataru Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Sleman menggelar kegiatan pembelajaran budidaya tanaman hidroponik di Teras Ponik pada Sabtu (11/7/2026). Kegiatan ini diikuti oleh calon anggota, anggota, dan Dewan Saka Kalpataru sebagai upaya meningkatkan pengetahuan serta keterampilan di bidang pelestarian lingkungan hidup.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kak Dhimas selaku pengelola Teras Ponik serta Kak Restuti selaku Pinsaka Saka Kalpataru Sleman beserta jajaran pengurus. Acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kak Restuti.

Dalam sambutannya, Kak Restuti menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa hidroponik merupakan salah satu metode budidaya tanaman yang efisien karena tidak membutuhkan lahan yang luas serta lebih hemat dalam penggunaan air.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta memperoleh penjelasan mengenai konsep dasar hidroponik, mulai dari manfaat, jenis media tanam, proses penyemaian, perawatan tanaman, 

hingga teknik pemanenan. Tidak hanya menerima materi, peserta juga diajak melakukan praktik secara langsung sehingga pemahaman mereka terhadap proses tersebut semakin baik.

Melalui pengalaman tersebut, anggota Saka Kalpataru diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat. Budidaya hidroponik dinilai sebagai salah satu alternatif untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus mengurangi keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan.

Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan melalui penerapan pertanian berkelanjutan. Dengan memadukan teori dan praktik, peserta diharapkan semakin memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana yang memberikan manfaat bagi kehidupan.

Melalui program pembelajaran seperti ini, Saka Kalpataru Kwarcab Sleman terus berkomitmen membentuk Pramuka yang berwawasan lingkungan, berkarakter, serta mampu menjadi agen perubahan dalam mengajak masyarakat menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.


Reporter: Muhamad Farhan Aditya


 

Membeli Mi Ayam di Warung Soto

Oleh: Annisa Ramadhani

Ada satu hukum tidak tertulis yang gagal dipahami Kirani semester ini, yaitu iman seseorang mungkin tetap teguh, tetapi logikanya akan jatuh hingga titik nadir ketika ia sedang jatuh cinta. Sebagai mahasiswi yang terbiasa menyusun laporan dengan sistematika yang runtut, runtuhnya rasionalitas Kirani adalah sebuah ironi yang setara dengan tragedi besar. Semua bermula sejak pertemuan Kirani dengan Nathan. Kirani memutuskan untuk menyeberangi sungai berarus deras demi laki-laki yang sejak awal memiliki peta arah mata angin yang bertolak belakang dengan miliknya.

Sejak awal, perbedaan prinsip yang tak kasatmata, tetapi berdiri begitu tegap telah menghantui mereka. Mereka memang berada di bawah langit yang sama, tetapi memiliki penunjuk arah yang berbeda. Saat momentum perayaan tiba, selalu ada jeda sunyi di antara mereka. Sebuah pengingat bahwa mereka adalah dua keping puzzle dari kotak yang berbeda, sekeras apa pun keduanya dipaksa bersatu, lekukannya tidak akan pernah bertaut tepat. Namun, Kirani terlanjur jatuh hati. Sudah sering diingatkan bahwa hubungan mereka itu adalah sebuah anomali, tetapi Kirani memilih menutup mata hanya karena dirinya selalu membuat pembenaran dalam pikirannya. Seolah-olah perbedaan mendasar bisa disatukan hanya dengan perasaan saling suka.

Hubungan mereka kandas karena komunikasi yang tidak selaras menggerogoti fondasinya. Banyak kesalahpahaman yang terjadi antara mereka. Nathan memiliki keterbatasan dalam mengolah kata. Bahasanya sering terdengar mentah dan tajam. Diksi yang digunakannya pun kerap kurang tepat saat situasi memanas, “Kamu terlalu serius,” kerap menjadi narasi perbedaan mendasar sebagai tameng menghindari konflik.

Hubungan ini dari awal memang salah panggung karena kesalahpahaman ekspektasi. Persis seperti ketika seseorang mendatangi sebuah warung soto. Kirani hanya ingin memesan apa pun yang tersedia di menu demi mengisi perutnya, tetapi pemilik warung terlanjur ketakutan, merasa Kirani menuntut sebuah mangkuk mi ayam yang tak ada dalam menu. Nathan terlalu takut karena merasa tak bisa memenuhi permintaan yang sebenarnya tak diminta oleh Kirani. Tragisnya, Kirani adalah pihak yang selalu siap menghadapi kenyataan. Ia siap bertahan, tetapi ia juga sudah sangat siap untuk melangkah pergi jika memang harus selesai. Sayangnya, ia tidak pernah diberikan kejelasan ataupun dipilih untuk ditinggalkan. Ia digantung dalam ketidakpastian akibat penyampaian Nathan yang selalu mengambang, hingga akhirnya hubungan itu benar-benar usai.

Minggu, 05 Juli 2026

 

Menggali Potensi di Momen Dies Natalis, Dua Mahasiswi STIA AAN Yogyakarta Bagikan Kunci Sukses


 

Sumber: Dokumentasi LPM Super Jimo


Yogyakarta, 16 Juni 2026 – Perayaan Dies Natalis ke-47 Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi AAN Yogyakarta tidak hanya menjadi momentum refleksi bagi institusi, tetapi juga menjadi Ajang apresiasi bagi mahasiswa yang memiliki bakat dan prestasi luar biasa. Dalam rangkaian acara tersebut, dua mahasiswi berprestasi, Khoirine Moriesta Nuraini dan Vrisca Nabatiola Hindriani, berkesempatan membagikan kisah perjuangan serta kiat sukses mereka dalam menggali potensi diri di tengah dinamika perkuliahan.

Mahasiswi berprestasi, Khoirine Moriesta atau yang akrab disapa Rista, menjelaskan bahwa konsistensi dalam berproses merupakan kunci utama bagi mahasiswa untuk berkembang. Menurutnya, langkah awal yang paling krusial dalam menggali potensi diri adalah mengenali minat pribadi sejak dini. “Tips dari saya, yang pertama, kita harus mencari tahu dulu apa kesukaan kalian, lalu fokus pada bidang tersebut. Ketika teman-teman sudah berani mencoba, teruslah mencoba tanpa memikirkan hasilnya terlebih dahulu,” ujarnya penuh semangat. Ia menambahkan bahwa hasil akhir maupun capaian prestasi yang diraih nantinya hanyalah bonus dari proses belajar. Hal utama yang harus ditanamkan oleh setiap mahasiswa adalah keberanian untuk memulai serta komitmen untuk mengoptimalkan potensi diri semaksimal mungkin.

Senada dengan prinsip Rista mengenai keberanian untuk mencoba, cerita inspiratif lain datang dari Vrisca Nabatiola Hindriani, mahasiswi program studi S1 Administrasi Publik. Selain berprestasi di bidang akademik, Vrisca turut memeriahkan acara dengan menampilkan kemampuan olah vokalnya yang memukau lewat olah vokal dalam rangkaian Dies Natalis tersebut. Vrisca menceritakan bahwa kecintaannya pada dunia tarik suara bermula dari sebuah momen tidak terduga saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Saat itu, ia memberanikan diri mengikuti lomba menyanyi untuk pertama kalinya meskipun sempat diliputi rasa tidak percaya diri. “Waktu itu aku benar-benar tidak yakin, bahkan mungkin suaraku saat itu fals. Namun, ternyata di momen itu saya malah berhasil meraih juara pertama dan mewakili kabupaten untuk maju ke tingkat provinsi,” kenangnya.

Pengalaman berharga tersebut mendorong Vrisca untuk menyadari bahwa menyanyi merupakan passion yang perlu terus dikembangkan. Sejak saat itu, ia terus berkomitmen untuk mendalami dunia seni musik hingga mampu berprestasi di tingkat perguruan tinggi. Melalui kisah inspiratif Rista dan Vrisca, seluruh mahasiswa, khususnya di lingkungan STIA AAN Yogyakarta, diharapkan dapat termotivasi untuk terus menggali potensi diri. Transformasi dan prestasi mahasiswa diharapkan tidak hanya tercermin dalam penguasaan akademik, tetapi juga berani keluar dari zona nyaman demi meraih masa depan yang gemilang.

 

Reporter: Annisa Ramadhani



 

 

Peran Kampung Literasi Wijaya Kusuma dalam Mengembangkan Literasi, Seni, dan Pemberdayaan Masyarakat



Sumber: Dokumentasi Tim Liputan STIA AAN Yogyakarta, 2026.

 

Yogyakarta, 17 Juni 2026 — Kampung Literasi Wijaya Kusuma yang berlokasi di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, menjadi salah satu ruang belajar masyarakat yang berperan dalam mengembangkan literasi, seni, dan pemberdayaan masyarakat. Berawal dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang didirikan pada 2009, lembaga ini berkembang menjadi Kampung Literasi Wijaya Kusuma setelah memperoleh penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2018.

Pengelola Kampung Literasi Wijaya Kusuma, Hastuti, menjelaskan bahwa kampung literasi hadir sebagai wadah pengembangan enam literasi dasar, yaitu literasi baca tulis, numerasi, finansial, sains dan teknologi, budaya, serta keluarga. Program tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat secara aktif.

Salah satu program yang dijalankan adalah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Wijaya Kusuma yang dapat diikuti secara gratis. Kegiatan ini didukung dana Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik, termasuk penyediaan alat tulis. Selain itu, terdapat Sekolah Keterampilan Wijaya Kusuma yang menjadi sarana pengembangan keterampilan dan literasi finansial masyarakat.

Dalam bidang seni budaya, Kampung Literasi Wijaya Kusuma mengelola Sanggar Wijaya Kusuma yang menyelenggarakan kelas tari dan karawitan. Kelas tari dibagi menjadi kategori anak-anak serta remaja hingga dewasa. Latihan rutin dilaksanakan setiap Sabtu pukul 15.30–17.00 WIB untuk kelas kecil dan Minggu pukul 14.30–16.00 WIB untuk kelas besar.

Pelatih tari, Retno Vitrianingsih, S.Sn., mengungkapkan bahwa tantangan yang sering dihadapi adalah ketidakkonsistenan kehadiran peserta. “Terkadang anak-anak tidak rutin mengikuti latihan. Namun, yang bertahan biasanya memang memiliki keinginan kuat untuk belajar dan berkembang,” ujarnya. Menurut Retno, tujuan utama pendirian sanggar tari adalah untuk melestarikan budaya daerah atau nguri-uri kabudayan.

Keberadaan sanggar tidak hanya menjadi sarana pembelajaran seni, tetapi juga membuka peluang bagi peserta untuk tampil dalam berbagai kegiatan. Hastuti menjelaskan bahwa kemampuan peserta yang semakin berkembang membuat mereka sering mendapat undangan tampil dalam acara tingkat kabupaten. “Karena kemampuan anak-anak sudah bagus, mereka diberi kesempatan tampil di berbagai acara kabupaten. Terakhir, mereka tampil di rumah dinas bupati dan kegiatan di Candi Loka,” ujarnya.

Manfaat tersebut juga dirasakan oleh para orang tua peserta. Ibu Rolis, orang tua peserta kelas besar, mengungkapkan rasa syukurnya atas keberadaan sanggar tari. “Kami pernah mengisi acara syawalan bersama Sri Sultan. Namun, itu bukan tujuan utama kami. Sebagai orang tua, kami sangat berterima kasih karena bakat dan hobi anak-anak dapat berkembang melalui kegiatan yang positif,” tuturnya.

Terkait pendanaan kegiatan, Ibu Nur Atika, orang tua peserta kelas kecil, menjelaskan bahwa kegiatan pentas yang berasal dari undangan biasanya telah memiliki anggaran dari penyelenggara. Namun, pencairan dana tidak selalu dilakukan sebelum kegiatan berlangsung. Sementara itu, untuk kegiatan mandiri seperti perlombaan, biaya keikutsertaan umumnya diupayakan secara swadaya oleh orang tua. Hal tersebut juga diamini oleh Ibu Ari yang mendampingi peserta kelas kecil dan kelas besar.

Melalui berbagai program yang dijalankan, Kampung Literasi Wijaya Kusuma membuktikan perannya tidak hanya sebagai pusat pengembangan literasi, tetapi juga sebagai wadah pelestarian seni budaya dan pemberdayaan masyarakat. Hastuti berharap kampung literasi ini dapat memiliki kostum tari sendiri sehingga tidak perlu lagi menyewa saat mengikuti berbagai pertunjukan. Dengan semangat kolaborasi dan pembinaan yang berkelanjutan, Kampung Literasi Wijaya Kusuma terus berupaya menciptakan ruang belajar yang mendukung pengembangan potensi generasi muda sekaligus memperkuat kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Reporter: Tim Liputan STIA AAN Yogyakarta

 

Rabu, 01 Juli 2026

 

                         Semarak Puncak Dies Natalis ke-47 STIA AAN Yogyakarta

 


Sumber: Dokumentasi LPM Super Jimo

 

Yogyakarta, 13 Juni 2026 – Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di ruang kelas 12 dan 13 STIA AAN Yogyakarta. Seluruh sivitas akademika berkumpul dalam perayaan Dies Natalis ke-47. Perayaan tahun ini menjadi lebih istimewa karena selain menjadi puncak rangkaian Dies Natalis, pihak kampus juga secara resmi meluncurkan website berita, yaitu aanews.id sebagai media informasi dan literasi digital bagi mahasiswa.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Notokusumo, pimpinan kampus, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta berbagai tamu undangan. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata dukungan terhadap perjalanan STIA AAN Yogyakarta yang telah memasuki usia ke-47 tahun.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Ketua STIA AAN Yogyakarta, Happy Susanto. Kemudian dilanjutkan oleh Ketua Yayasan dan tamu undangan lainnya yang turut menyampaikan ucapan selamat serta harapan bagi kemajuan STIA AAN Yogyakarta di masa mendatang.

Salah satu agenda utama dalam acara tersebut adalah peresmian website aanews.id. Peresmian dilakukan secara simbolis melalui pemutaran video berdurasi 1 menit 23 detik yang menampilkan berbagai fitur website baru aanews.id. Tepuk tangan hadirin mengiringi peluncuran tersebut dengan harapan aanews dapat menjadi wadah informasi yang mampu menjembatani komunikasi antara kampus dengan sivitas akademika maupun masyarakat luas.

Suasana acara semakin meriah dengan pemberian apresiasi dan penghargaan kepada mahasiswa berprestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi kampus atas dedikasi dan pencapaian mahasiswa yang telah mengharumkan nama STIA AAN Yogyakarta dalam berbagai ajang perlombaan.

Selain itu, hadirin disuguhkan berbagai penampilan menarik, mulai dari tarian hingga penampilan Band Kampus STIA AAN Yogyakarta yang berhasil menghibur seluruh peserta. Sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan kampus selama 47 tahun, dilakukan pula pemotongan tumpeng yang diwakili oleh Happy Susanto bersama Sri Utami.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, acara ditutup dengan pembacaan doa sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar STIA AAN Yogyakarta senantiasa memperoleh kemajuan dan keberkahan dalam menjalankan tugasnya sebagai institusi pendidikan.


Reporter: Siti Indriyanti 

 

Orasi Ilmiah Dies Natalis ke-47 STIA AAN Soroti Digitalisasi Administrasi dan Promosi BUM Desa

Sumber: Dokumentasi LPM Super Jimo

 

Yogyakarta, 16 Juni 2026—Puncak peringatan Dies Natalis ke-47 Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) AAN Yogyakarta diisi dengan orasi ilmiah bertajuk “Digitalisasi Administrasi dan Promosi sebagai Support System Unit Usaha BUM Desa Binangun Jati Unggul”. Orasi tersebut disampaikan oleh dosen STIA AAN Yogyakarta, Lulu Anastesi Sayekti, S.Pi., S.A.P., M.Si., pada Sabtu, 13 Juni 2026. Orasi ilmiah tersebut memaparkan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan STIA AAN Yogyakarta dalam mendukung penguatan tata kelola dan pengembangan unit usaha Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) melalui pemanfaatan teknologi digital. Kegiatan ini sejalan dengan tema Dies Natalis ke-47 STIA AAN, yaitu “Transformasi Administrasi Digital Berbasis Nilai Luhur Notokusumo”.

Dalam pemaparannya, Lulu menjelaskan bahwa perkembangan teknologi mendorong berbagai organisasi untuk beradaptasi dengan sistem digital guna meningkatkan efisiensi, transparansi, dan kualitas pelayanan. Menurutnya, transformasi digital tidak hanya diterapkan di sektor swasta, tetapi juga menjadi kebutuhan bagi organisasi publik, termasuk pemerintah desa dan BUM Desa. “Perkembangan teknologi mengarah pada digitalisasi yang mengubah sistem manual menjadi digital. Hal ini tidak dapat dihindari karena tuntutan efisiensi, akses tanpa batas, dan skalabilitas,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa desa memiliki peran strategis sebagai garda terdepan pembangunan nasional. Namun, berbagai persoalan, seperti kemiskinan dan ketimpangan ekonomi, masih menjadi tantangan yang dihadapi masyarakat desa. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemberdayaan untuk mengoptimalkan potensi lokal sekaligus memperkuat perekonomian desa secara berkelanjutan. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah memperkuat peran BUM Desa sebagai lembaga usaha yang dikelola oleh pemerintah desa dan masyarakat. Dalam orasi tersebut, BUM Desa Binangun Jati Unggul di Kalurahan Jatirejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, dijadikan contoh penerapan teknologi digital dalam pengelolaan usaha desa.

BUM Desa yang berdiri sejak 2016 itu memiliki tiga unit usaha, yaitu jasa keuangan, jasa pertanian dan perdagangan, serta jasa pariwisata melalui Resto Bukit Cubung. Meskipun telah berkembang, BUM Desa tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, seperti administrasi yang masih dilakukan secara manual, pengelolaan arsip yang belum terdigitalisasi, serta promosi digital yang belum optimal. Melalui program pengabdian kepada masyarakat, STIA AAN memberikan pendampingan berupa penerapan Sistem Informasi Administrasi dan Kepegawaian (SIAK), digitalisasi arsip, serta pelatihan promosi digital bagi pengelola BUM Desa. Program tersebut bertujuan meningkatkan efektivitas pengelolaan administrasi sekaligus memperluas jangkauan promosi unit usaha yang dimiliki. Selain mendukung tata kelola organisasi yang lebih baik, pemanfaatan teknologi digital juga dinilai mampu meningkatkan daya saing usaha desa. Media digital memungkinkan promosi dilakukan secara lebih luas, terencana, dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

Hasil evaluasi program menunjukkan adanya peningkatan kapasitas pengelola BUM Desa dalam mengelola administrasi dan publikasi digital. Tingkat pemberdayaan peserta setelah mengikuti sosialisasi dan pelatihan meningkat sebesar 30,83 persen. Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya mendukung efisiensi kerja, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Melalui orasi ilmiah ini, STIA AAN Yogyakarta menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam pembangunan masyarakat melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang memberikan manfaat nyata bagi pengembangan desa serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 

Reporter: Salsa Nabila Suwarno

 

Dari Atma Anomali…

 

Atmanya membisu sunyi,

entah di mana hakikat diri.

Angannya pun lebam tak terperi,

entah ke mana harus pergi.

 

Raganya jauh mengembara,

Sedang jiwanya?

Mungkin tak sengaja tertunda,

di angka usia remaja.

 

Lidah menari liar unjuk diri,

merayu hati sang Dewi Ratri.

Nafsu pun serta untuk melandasi,

nirmala indah berhiaskan janji,

mengakhiri cerita bulan Juni.

 

Maafkan jiwa dan raga ini.

Cintanya menggores luka,

menjatuhkan air mata duka,

mengukir aksa halaman cerita,

menyimpan nestapa dalam tawa.

 

Karya: Hidayat (626)


Selasa, 23 Juni 2026

 

Dies Natalis STIA AAN Yogyakarta Tekankan Nilai Luhur Notokusumo di Era Digital


Yogyakarta, 16 Juni 2026—STIA AAN Yogyakarta menggelar Dies Natalis ke-47 dengan  tema “Transformasi Administrasi Digital Berbasis Nilai Luhur Notokusumo”. Tema tersebut menjadi refleksi bagi kampus dalam menghadapi perkembangan teknologi digital yang semakin pesat tanpa melepaskan nilai-nilai luhur Notokusumo yang menjadi identitas dan fondasi utama institusi.

Ketua Yayasan Notokusumo menjelaskan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, menuntut mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang kini semakin masif, bahkan digunakan di berbagai sektor. Menurutnya, mahasiswa perlu dibekali kemampuan menguasai teknologi agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. “Mahasiswa harus memiliki kemampuan mengoperasikan teknologi, tetapi juga mampu mengantisipasi berbagai risiko yang menyertainya, terutama terkait keamanan data,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa perkembangan AI tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga tantangan. Salah satu tantangan yang perlu diwaspadai adalah rendahnya kesadaran terhadap keamanan data. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami risiko penggunaan teknologi, termasuk ancaman terhadap data pribadi maupun institusi.

Dalam kesempatan yang sama, Yayasan Notokusumo juga menjelaskan makna di balik Notokusumo yang menjadi dasar nilai kampus. Nama tersebut berasal dari dua kata, yakni noto yang berarti menata atau mengelola dan kusumo yang merujuk pada anak-anak bangsa. Melalui filosofi tersebut, perguruan tinggi diharapkan mampu membentuk generasi penerus yang cerdas, berkarakter, dan siap menjadi pemimpin bangsa.

Menurut Yayasan Notokusumo, pendidikan tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga pada pembentukan karakter. Karena itu, nilai-nilai budi pekerti luhur yang diwariskan melalui Notokusumo tetap relevan untuk diterapkan di tengah perkembangan teknologi digital.

Selain penguasaan teknologi, Yayasan Notokusumo juga menyoroti fenomena degradasi moral yang muncul akibat penggunaan teknologi yang tidak disertai kesadaran etis. Sikap tidak sopan dalam berkomunikasi, penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab, hingga konflik yang dipicu oleh media digital menjadi tantangan yang perlu dihadapi bersama. “Dalam memanfaatkan teknologi, tetap harus berdasarkan nilai-nilai luhur yang dapat diterima oleh masyarakat. Jangan menganggap bahwa apa yang disampaikan melalui media digital tidak memiliki dampak karena dampaknya bisa sangat luas,” jelasnya.

Menanggapi tantangan tersebut, Ketua STIA AAN Yogyakarta, Happy Susanto, menegaskan pentingnya penyusunan panduan etika digital bagi mahasiswa. Menurutnya, transformasi digital harus diimbangi dengan penguatan nilai dan moral agar mahasiswa tidak hanya unggul dalam penguasaan teknologi, tetapi juga memiliki integritas. “Perlu ada panduan etika, nilai, dan moral dalam menggunakan media sosial maupun perangkat digital. Apa yang dilakukan mahasiswa juga menjadi tanggung jawab perguruan tinggi,” katanya. Ketua STIA AAN Yogyakarta, Happy Susanto, juga menambahkan juga bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mendidik calon pemimpin bangsa yang berkualitas dan berintegritas. Oleh sebab itu, nilai dan moral perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan di era digital.

Sebagai bagian dari transformasi digital, STIA AAN juga meluncurkan situs web AANews. Platform tersebut diharapkan menjadi media edukasi sekaligus ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan, pandangan, dan karya tulis mereka. “AANews diharapkan dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan pikiran dan gagasannya, baik mengenai kegiatan kampus maupun isu-isu nasional yang menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Melalui tema Dies Natalis tahun ini, STIA AAN menegaskan bahwa transformasi digital bukan hanya tentang pemanfaatan teknologi, melainkan juga tentang menjaga nilai luhur Notokusumo sebagai fondasi dalam membentuk generasi yang cerdas, beretika, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.

 

Reporter: Mahda Okta Azzahra 


Jalan Sehat Dies Natalis ke-47 STIA “AAN” Yogyakarta Pererat Kebersamaan Sivitas Akademika dan Masyarakat

Yogyakarta, 4 Juni 2026—Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi STIA “AAN” Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Jalan Sehat dalam rangka memperingati Dies Natalis ke-47 pada Sabtu, 30 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Kampus STIA “AAN” Yogyakarta ini diikuti oleh sivitas akademika, alumni, serta masyarakat sekitar. Acara semakin meriah dengan berbagai penampilan seni mahasiswa, kehadiran pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), stan kewirausahaan mahasiswa atau dana usaha (danusan), pembagian doorprize, serta pengundian hadiah utama berupa sepeda. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Ketua Yayasan Notokusumo beserta jajaran pimpinan kampus sebagai bentuk dukungan terhadap rangkaian peringatan Dies Natalis.

Wakil Koordinator Jalan Sehat Dies Natalis STIA “AAN” Yogyakarta, Daris, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan memeriahkan peringatan Dies Natalis, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan antar sivitas akademika dan masyarakat. “Jalan sehat ini diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis. Selain untuk menyemarakkan acara, kami juga ingin membangun kebersamaan antara dosen, pimpinan, karyawan, mahasiswa, alumni, dan masyarakat sekitar,” ujarnya. Menurutnya, pelaksanaan tahun ini memiliki keistimewaan karena panitia memberikan ruang yang lebih luas kepada mahasiswa untuk menampilkan kreativitas dan bakat mereka melalui berbagai pertunjukan seni, seperti tari, puisi, dan teater.

Ketua STIA “AAN” Yogyakarta, Happy Susanto, menekankan pentingnya hubungan antara kampus dan masyarakat sekitar. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga harus mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Melalui kegiatan seperti jalan sehat, masyarakat dapat berinteraksi langsung dengan sivitas akademika sehingga tercipta komunikasi yang baik dan hubungan yang harmonis. Selain itu, kehadiran pelaku UMKM dan stan kewirausahaan mahasiswa turut menjadi wadah pemberdayaan ekonomi masyarakat serta sarana pengembangan jiwa kewirausahaan mahasiswa.

Panggung hiburan mahasiswa menjadi salah satu daya tarik utama dalam kegiatan tersebut. Lina, mahasiswa semester dua yang tampil membawakan tari dan puisi, mengaku sangat bahagia karena mendapat kesempatan tampil di luar daerah asalnya, Maluku. Sementara itu, Zamiatul Aida dari Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), yang menampilkan Tari Manuk Dadali, mengaku pengalaman tersebut membuatnya lebih percaya diri. Hal serupa juga dirasakan oleh Lili dan Keysha dari kelompok teater yang menjadikan penampilan mereka sebagai sarana melatih keberanian di depan banyak penonton.

Kemeriahan acara turut dirasakan oleh para peserta. Dwi Musalim Mudrik mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut sangat menyenangkan karena mampu mempertemukan mahasiswa dengan masyarakat sekitar. Senada dengan itu, Bunga Agista Putri dan Natasha menilai kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang berkesan dan mempererat hubungan antarmahasiswa. Dari sisi masyarakat, Aditya mengapresiasi penyelenggaraan acara yang berjalan lancar dan berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan dengan beberapa perbaikan teknis. Melalui kegiatan jalan sehat ini, STIA “AAN” Yogyakarta tidak hanya merayakan bertambahnya usia institusi, tetapi juga memperkuat semangat kebersamaan, mendukung pemberdayaan ekonomi lokal, serta memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan bakat, kreativitas, dan jiwa kewirausahaan.

 

Reporter: Tim Liputan STIA “AAN” Yogyakarta 

Minggu, 31 Mei 2026

 

Asah Kepercayaan Diri,

LPM Super JIMO Gelar Pelatihan Public Speaking Perdana


Sumber: dokumentasi panitia 

Yogyakarta, 27 Mei 2026 – Minimnya ruang latihan berbicara di depan umum mendorong Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Super JIMO meluncurkan proker Public Speaking perdana. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 23 Mei 2026 di Kampus STIA “AAN” Yogyakarta bukan sekadar dirancang untuk pelatihan, tetapi juga upaya nyata agar anggota dan mahasiswa mampu menyampaikan ide secara jelas, terstruktur, dan berani di depan forum.

Mengusung tema “Membangun Karakter Mahasiswa yang Adaptif, Visioner, dan Unggul Melalui Publik Speaking,” dengan diadakannya kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri seseorang di depan umum. Kegiatan dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua STIA AAN Yogyakarta, Bapak Happy Susanto, S.Sos., M.A., M.P.A. Turut hadir memberikan dukungan, Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Humas, Ibu R.R. Elisabeth Anggraeni Eksi Wahyuni, S.I.P., M.P.A.

Pemaparan materi disampaikan oleh Maria Ulfah, M.Si. (yang akrab disapa Kak Jova), seorang konsultan komunikasi. Dalam sesinya, Kak Jova menjelaskan pentingnya public speaking dalam kehidupan sehari-hari, cara membangun rasa percaya diri, serta teknik menyampaikan komunikasi yang baik dan efektif. Setelah pemaparan teori, para peserta langsung diminta mempraktikkan cara public speaking yang baik dan benar melalui simulasi presentasi kelas. Beberapa peserta dipilih untuk melakukan presentasi singkat, yang kemudian dievaluasi langsung oleh pemateri agar mereka dapat memperbaiki kekurangan dan menerapkan ilmunya secara maksimal.

Ketua Pelaksana Public Speaking, Hanifah Nursya Bani mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran acara yang dipersiapkan melalui rapat mingguan tersebut serta harapan kedepannya untuk proker perdana LPM Super JIMO tersebut. “Saya merasa senang dan bangga karena proker ini bisa terlaksana dengan baik walaupun ini merupakan program baru. Saya juga mendapatkan banyak pengalaman baru, terutama dalam mengatur panitia, membangun komunikasi, dan belajar bertanggung jawab dalam sebuah kegiatan.” Hanifah juga berharap kegiatan ini dapat terus berjalan secara konsisten dan berkembang menjadi program yang lebih besar.

Bagi anggota LPM Super JIMO, terlaksananya kegiatan public speaking perdana tersebut menjadi pengalaman yang berkesan. Salah satu peserta dalam acara public speaking, Dhini Setyawati, mengungkapkan banyak mendapat pelajaran baru terkait cara berkomunikasi. “Mengikuti acara ini menjadi pengalaman yang berkesan karena memberikan banyak pembelajaran baru terkait cara berkomunikasi yang baik dan efektif. Kegiatan ini juga mampu meningkatkan rasa percaya diri peserta untuk tampil dan menyampaikan ide di depan banyak orang. Suasana acara yang aktif dan komunikatif membuat peserta lebih mudah memahami materi serta termotivasi untuk terus mengembangkan kemampuan diri,” ujar Dhini. 

Melalui suksesnya proker perdana ini, LPM Super JIMO berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal yang konsisten untuk melahirkan anggota dan mahasiswa yang berani berbicara serta menyampaikan informasi dengan penuh rasa percaya diri.

 

Reporter: Zahra Eka Putri Roseva


Jumat, 22 Mei 2026

 

Milad ke-24 BEM STIA AAN Yogyakarta: Dari Solidaritas Menuju Aksi, BEM Tegaskan Peran sebagai Katalis Perubahan



Sumber: dokumentasi panitia


Yogyakarta, 18 Mei 2026—Semangat kebersamaan, tawa, kerja keras, hingga dinamika persiapan menjadi warna tersendiri dalam perayaan Milad ke-24 BEM STIA “AAN” Yogyakarta yang sukses digelar pada Sabtu, 16 Mei 2026. Mengusung tema “Caturviṁśati Warsa BEM: Menjadi Katalis Perubahan di Tengah Dinamika Mahasiswa”, peringatan tahun ini tidak hanya menjadi ajang selebrasi, tetapi juga momentum refleksi atas perjalanan organisasi yang telah tumbuh selama lebih dari dua dekade.

Bagi Presiden Mahasiswa STIA “AAN” Yogyakarta, Ilham Ramadhan, Milad tahun ini membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar perayaan ulang tahun organisasi. Menurutnya, BEM dibangun bukan hanya oleh program kerja dan agenda formal, tetapi oleh solidaritas, kerja sama, serta semangat mahasiswa yang terus bergerak bersama.

“Sejauh apa pun BEM berkembang, semuanya tetap dibangun dari rasa solidaritas, kerja sama, dan semangat teman-teman mahasiswa untuk terus bergerak bersama,” ujar Ilham Ramadhan.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan organisasi mahasiswa tidak dapat dipisahkan dari peran aktif mahasiswa itu sendiri. Hal ini karena BEM hadir sebagai ruang bersama bagi mahasiswa untuk berkontribusi menyampaikan aspirasi, hingga mengambil bagian dalam proses perubahan di kampus.

“Ketika mahasiswa aktif berpartisipasi, memberikan masukan, atau ikut terlibat dalam kegiatan, program-program BEM akan menjadi lebih hidup dan manfaatnya akan terasa lebih nyata,” tambahnya.

Di balik kemeriahan Milad, terdapat proses panjang yang penuh tantangan. Ketua Panitia, Rina Dwi Rahayu, mengungkapkan bahwa persiapan acara sempat menghadapi berbagai hambatan, mulai dari kurangnya partisipasi sebagian anggota panitia hingga miskomunikasi yang memperlambat koordinasi antartim.

Namun, situasi tersebut tidak mematahkan semangat panitia. Justru melalui berbagai kendala itulah rasa kebersamaan semakin terbangun. “Kolaborasi dilakukan lewat komunikasi yang intens, koordinasi rutin, serta saling membantu antardivisi. Setiap panitia memiliki tanggung jawab masing-masing, tetapi kami tetap berusaha berjalan bersama demi kelancaran acara,” jelas Rina Dwi Rahayu.

Menurutnya, salah satu pengalaman paling berkesan selama persiapan terjadi saat proses dekorasi dan gladi bersih menjelang hari pelaksanaan. Momen tersebut menjadi ruang bagi panitia untuk belajar bekerja dalam tekanan sekaligus mempererat kekompakan satu sama lain.

Antusiasme anggota BEM terhadap Milad ke-24 ini pun mendapat respons positif. Kehadiran dan partisipasi aktif anggota, baik dalam perlombaan maupun puncak acara, menjadikan perayaan berlangsung meriah, hangat, dan penuh semangat kebersamaan.

Lebih dari sekadar perayaan organisasi, Milad ini juga menjadi pengingat bahwa dunia organisasi bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan, melainkan tentang belajar, bertumbuh, dan membangun relasi yang bermakna.

Sebagai Presiden Mahasiswa, Ilham Ramadhan berharap BEM STIA “AAN” Yogyakarta ke depan mampu terus menjadi organisasi yang aktif, adaptif, dan terbuka terhadap suara mahasiswa.

“Semoga teman-teman BEM tetap solid, tetap memiliki semangat untuk belajar dan berkembang, serta jangan mudah lelah dalam berproses. Apa yang dijalani di organisasi hari ini akan menjadi pengalaman berharga ke depannya,” tuturnya.

Senada dengan itu, Rina Dwi Rahayu berharap Milad ke-24 mampu meninggalkan dampak positif, tidak hanya bagi internal BEM, tetapi juga bagi lingkungan kampus secara lebih luas.

Dengan semangat “Menjadi Katalis Perubahan di Tengah Dinamika Mahasiswa”, Milad ke-24 BEM STIA “AAN” Yogyakarta menjadi bukti bahwa di tengah tantangan organisasi, solidaritas dan kolaborasi tetap menjadi energi utama dalam melahirkan perubahan.

 

Reporter: Novita Fitriani





 

Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri, Tradisi Penuh Makna yang Terus Dijaga Warga Parangtritis

 

Foto: Instagram/@dinparbantul

Bantul, 17 Mei 2026—Ratusan warga Dusun Mancingan, Parangtritis, Kretek, Bantul, menggelar upacara adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri pada Selasa, 12 Mei 2026, di kawasan Pantai Parangtritis hingga Pantai Parangkusumo. Tradisi tahunan tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas panen raya sekaligus doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan warga. 

Sejak siang hari, peserta kirab mulai bergerak dari kawasan Joglo Parangtritis menuju Pantai Parangkusumo dengan membawa berbagai perlengkapan adat, hasil bumi, sesajen, serta simbol budaya. Iring-iringan warga yang mengenakan beragam busana tradisional berjalan menyusuri bibir pantai dalam suasana budaya yang kental. 

Tradisi ini rutin dilaksanakan masyarakat Mancingan setelah musim panen raya. Bagi warga, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Tuhan atas limpahan rezeki dari tanah dan laut, sekaligus memohon kehidupan yang aman, tenteram, dan berkecukupan pada masa mendatang. 

Berbagai unsur dalam upacara mengandung filosofi tersendiri. Persembahan hasil pertanian yang dibawa dalam prosesi melambangkan penghormatan manusia terhadap alam sebagai sumber penghidupan. Kehadiran simbol Dewi Sri juga mempertegas harapan masyarakat akan keberlanjutan kesuburan lahan pertanian serta kesejahteraan warga.

Setelah menempuh perjalanan menuju kawasan Parangkusumo, seluruh sesajen didoakan bersama sebelum dilaksanakan prosesi pelarungan ke laut. Momen tersebut menjadi puncak ritual yang sarat makna spiritual dan kebersamaan. 

Lebih dari sekadar tradisi adat, Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri juga mencerminkan kuatnya solidaritas masyarakat Mancingan. Persiapan kegiatan melibatkan banyak warga melalui berbagai tahapan, seperti musyawaraj kampung, doa bersama, hingga gotong royong dalam menyiapkan kebutuhan upacara. Nilai kebersamaan dan saling membantu masih menjadi fondasi utama yang dipertahankan hingga kini.

Pelaksanaan ritual ini juga menarik perhatian masyarakat luas. Warga sekitar maupun pengunjung tampak memadati area prosesi untuk menyaksikan jalannya kirab hingga pelarungan sesaji. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki potensi untuk memperkuat identitas kawasan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. 

Bagi masyarakat, menjaga Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri berarti menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai leluhur yang telah diwariskan lintas generasi. Tradisi yang terus berlangsung selama puluhan tahun ini menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Reporter: Novita Fitriani 


  Lebih dari Sekadar Tempat Tinggal, Rumah Singgah YKI DIY Jadi Ruang Harapan Pasien Kanker (Sumber: Tim Liputan STIA AAN Yogyakarta)   Yo...