Jumat, 08 Mei 2026

 

Tantang Adrenalin di Goa Kayu Ayu, Angkatan Arunaka Dharma Mapala AGNY Perdalam Teknik Caving


Sumber: Dokumentasi Mapala AGNY


Yogyakarta, 1 Mei 2026 — Seluruh anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala AGNY) telah menyelesaikan kegiatan penelusuran gua (caving) yang berlangsung selama tiga hari di Goa Kayu Ayu. Kegiatan yang dilaksanakan pada 24 hingga 26 April 2026 ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan agenda krusial untuk mengasah keterampilan teknis dan memperkuat mental para anggota.

Bagi angkatan Arunaka Dharma, kegiatan ini menjadi proses pembelajaran langsung yang sangat berharga. Tujuan utamanya adalah melatih teknik penelusuran gua, membangun kerja sama tim yang solid, serta meningkatkan keberanian di medan lapangan yang sesungguhnya. Gelapnya perut bumi Goa Kayu Ayu tidak menyurutkan semangat mereka. Alih-alih gentar, para anggota justru antusias bergelut dengan lumpur demi menuntaskan rasa penasaran.

Menembus batas di tengah berbagai keterbatasan, perjalanan ini bukannya tanpa tantangan. Minimnya kadar oksigen di dalam gua menjadi ujian fisik tersendiri bagi para peserta. Selain itu, keterbatasan peralatan operasional memaksa tim untuk berkolaborasi dengan meminjam alat dari organisasi pecinta alam (OPA) lain. Namun, keterbatasan ini justru menjadi bukti nyata solidaritas di kalangan pecinta alam.

Beberapa kendala teknis pun sempat muncul di lapangan. Anggota muda bernama Azizah mengungkapkan pengalamannya terjebak oleh capstan yang terlalu kesat dengan tali karmantel, yang cukup menguras tenaga. Senada dengan itu, Ferdian menyebutkan bahwa alat descender terkadang mengalami kemacetan saat digunakan untuk turun. Ali juga menambahkan bahwa ketelitian terhadap alat, seperti memastikan carabiner terkunci dengan benar dan tali tidak terbelit, menjadi kunci keselamatan utama.

Keamanan tetap menjadi prioritas utama. Meski menghadapi berbagai tantangan fisik dan alat, Mapala AGNY tetap mengedepankan standar keselamatan yang ketat. Seluruh proses penelusuran dipastikan berjalan sesuai dengan standard operating procedures (SOP) caving yang berlaku guna meminimalkan risiko kecelakaan.

“Rasanya seru, senang, dan rasa penasaran kami terhadap gua sudah terbayarkan,” ujar Ferdian. Baginya, rasa lelah menembus gua yang cukup dalam terobati dengan melihat keindahan ornamen alami yang telah terbentuk selama bertahun-tahun di dalam Goa Kayu Ayu.

Meskipun terdapat beberapa penyesuaian jadwal dari rencana awal (rundown) dan tidak semua anggota baru  hadir, secara keseluruhan kegiatan ini dinilai berjalan dengan baik. Ke depan, para anggota berharap kegiatan serupa dapat terus ditingkatkan kualitasnya. Harapan besar juga disematkan agar seluruh anggota baru dapat berpartisipasi secara lengkap dalam agenda selanjutnya untuk membangun chemistry yang lebih kuat serta rutin berlatih agar semakin mahir dalam penguasaan peralatan pecinta alam.

Pada akhirnya, penelusuran di Goa Kayu Ayu ini bukan sekadar tentang seberapa dalam mereka mampu turun ke perut bumi, melainkan tentang seberapa kuat mereka saling menjaga dalam kegelapan. Meski harus pulang dengan pakaian yang penuh lumpur, angkatan Arunaka Dharma membawa pulang pengalaman tak ternilai dan mental yang jauh lebih tangguh dari sebelumnya.

 

Reporter: Novita Fitriani

Kamis, 30 April 2026

“DLH Kota Yogyakarta Gelar Bersih Sungai Code, Mahasiswa STIA “AAN” Turut Berpartisipasi”

 


peserta kerja bakti membersihkan bantaran Sungai Code, Jumat (17/4/2026).

Yogyakarta – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta menggelar Kerja Bakti Gerakan Bersih Sungai Code pada Jumat (17/4/2026) sebagai upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pukul 07.00 WIB dengan lokasi apel di Lapangan Parkir Hotel Tentrem Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menjaga kebersihan serta kelestarian Sungai Code yang menjadi salah satu aliran vital di Kota Yogyakarta. Area kegiatan meliputi sepanjang aliran Sungai Code, dimulai dari wilayah RW 08 Petinggen hingga Jembatan Sardjito.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai elemen, mulai dari pemerintah, TNI, mahasiswa, hingga masyarakat setempat. Mahasiswa STIA “AAN” Yogyakarta turut terlibat aktif dalam kegiatan ini. Kehadiran mereka bukan sekadar sebagai peserta, melainkan juga sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat serta implementasi nilai kepedulian terhadap lingkungan yang dipelajari di bangku perkuliahan.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, turut hadir dan terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kegiatan bersih sungai memiliki dua

tujuan utama yang saling berkaitan, yaitu menciptakan lingkungan yang bersih dan tertata serta sebagai langkah mitigasi bencana, khususnya banjir.


Peserta kerja bakti membersihkan Sungai Code.


“Jadi kegiatan ini bukan sekadar bersih-bersih, tapi bagian dari mitigasi bencana,” ujar Hasto. Ia juga menjelaskan bahwa sungai yang dipenuhi sampah dan hambatan berpotensi menyebabkan aliran air tersumbat, sehingga meningkatkan risiko meluap saat hujan deras. Hal ini menjadi perhatian serius, mengingat kawasan Sungai Code pernah mengalami curah hujan ekstrem hingga 80 mm/jam yang hampir membuat debit air melampaui batas tanggul.

Rangkaian kegiatan diawali dengan apel bersama, dilanjutkan dengan aksi pembersihan sampah di sepanjang aliran sungai. Para peserta, termasuk mahasiswa STIA “AAN”, tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Mereka bekerja sama mengangkat sampah, membersihkan bantaran sungai, serta memastikan aliran air tetap lancar.

Partisipasi mahasiswa dalam kegiatan ini bukan hanya memberikan kontribusi langsung bagi lingkungan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual. Mahasiswa dapat memahami secara langsung tentang pentingnya menjaga ekosistem serta membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi persoalan lingkungan.

DLH Kota Yogyakarta berharap kegiatan ini menjadi langkah berkelanjutan dalam menjaga kebersihan Sungai Code. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat diharapkan dapat terus diperkuat demi terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga Kota Yogyakarta.

Reporter: Alfina Dwi Aulia Latifa


 

Rumah dalam Langit

 

Sunyi…

Tak bersuara ia sama sekali,

Berbisik apalagi…

 

Dalam rengkuhnya kami hidup tak kekurangan,

Dalam genggamnya kami dijaga dua puluh empat jam.

Tidakkah ia merasa lelah,

Meski usia, siapalah yang mengira.

 

Tapi, tak sedikit yang kian menyakiti,

Hanya terhitung yang tahu balas budi.

Tubuhnya digores monster besar bergigi tajam,

Tubuhnya dikikir besi, pisau, dan sembilu tajam.

Terpaku, terantai…

Rambut hijaunya telah digunduli,

Berganti pasir, tanah, dan kerikil.

 

Ia sudah sering menangis,

Air matanya selalu membendung bak lautan.

Tapi, siapa yang peduli?

Tak ada yang mengaku salah,

Semua merasa benar dan hanya menganggap takdir alam.

 

Sampai kapan?

Sampai ia melepas kita dari rengkuhnya?

Sampai ia tak lagi mau menjadi rumah?

 

          Karya: Salwa Azzahra Muthi  

 

Juangku 

 

Nampak sudah buku-buku menggunung,

Mata sayu, sendu, langkah terasa limbung.

Menuntut ilmu memang tidaklah mudah,

Tapi siapa yang tak ingin segera sudah? 

Niat, doa di sepertiga malam,

 

Langkah demi langkah kupastikan terarah.

Namun, siapa yang tahu?

Juangku terkadang penuh ragu,

Anganku seolah terlalu ingin dirindu.

 

Apakah badai yang memiliki waktu,

Menentukan sampai mana juangku akan berakhir.

 

Aku terdiam tanpa suara,

Mengingat senyum indah yang telah pergi ke surga,

Mengingat ia yang doanya sampai kini melindungiku.

 

Aku harus bisa…

Aku mampu…

Untuk ibu, ayah, dan masa depanku.

 

          Karya: Salwa Azzahra Muthi 


Kamis, 16 April 2026

 

                                                        Senja di Balik Jendela Lama

 Karya oleh: Arini Zakina

Langit senja itu berwarna jingga, seakan matahari enggan menutup hari. Arga duduk di samping jendela kayu yang mulai lapuk, senja memperhatikan jalan kecil di depan rumahnya sembari menikmati angin yang membawa aroma tanah basah. Ia telah tinggal di rumah sederhana itu selama lima tahun bersama neneknya setelah kedua orang tuanya pergi merantau ke kota lain.

Meskipun menjalani kehidupan yang sederhana, Arga merasa rumah tersebut penuh dengan kehangatan dan kenangan. Namun, di balik suasana tenang itu, ada rasa rindu yang kerap muncul, terutama saat ia melihat senja yang mengingatkannya pada momen bersama kedua orang tuanya.

Suara nenek memanggilnya dari dapur, mengganggu lamunannya. Arga segera membantu menyiapkan makan malam sambil menyampaikan bahwa ia akan menghadapi ujian keesokan harinya. Nenek memberikan saran agar ia belajar dengan baik dan tidak menyia-nyiakan peluang yang ada. Pada malam itu, Arga belajar dengan serius di kamarnya. Sesekali, ia menatap keluar jendela, berusaha tetap termotivasi. Ia menyadari bahwa harapan nenek dan orang tuanya ada di tangannya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia mampu meraih masa depan yang lebih baik meskipun harus terpisah dari orang tua.

Hari ujian berlangsung dengan cepat. Arga merasa cukup optimis mengenai hasil yang telah ia kerjakan. Suatu sore, ketika ia kembali duduk di dekat jendela seperti biasanya, ia mendengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Dengan rasa ingin tahu, ia keluar dan sangat terkejut melihat kedua orang tuanya berada di sana. Tanpa ragu, Arga langsung memeluk mereka dengan penuh emosi. Air mata yang selama ini terpendam akhirnya mengalir. Orang tuanya menjelaskan bahwa mereka sengaja pulang untuk menemuinya. Nenek yang menyaksikan adegan tersebut hanya tersenyum bahagia melihat keluarganya bersatu kembali.

Malam hari itu terasa istimewa. Mereka menikmati makan malam bersama sambil berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Arga menceritakan rutinitasnya di desa, cerita tentang sekolahnya, dan perjuangannya menghadapi ujian. Ayahnya memberikan pujian atas usaha Arga, sementara ibunya menatapnya dengan penuh kasih. Di saat tersebut, Arga merasakan kebahagiaan yang sederhana namun sangat berharga. Ia menyadari bahwa kehadiran keluarga adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Keesokan harinya, Arga kembali duduk di dekat jendela, memandangi senja yang perlahan menghilang. Namun kali ini, ia tidak merasakan kesendirian. Senja itu terasa lebih hangat, seolah membawa pengharapan baru. Ia mulai memahami bahwa hidup tidak hanya tentang kepemilikan, melainkan tentang menghargai setiap momen yang ada. Rumah sederhana, kasih sayang dari nenek, dan kehadiran orang tuanya menjadi sumber kekuatan bagi dirinya untuk terus melanjutkan langkah. Dengan senyum kecil, Arga memandang langit yang mulai gelap dan berbisik dalam hati, mengucapkan rasa syukur atas semua yang dimilikinya.


Sabtu, 04 April 2026

 

Mahasiswa Sadar Kebijakan Publik

 

Burung terbang di pagi hari,

Hinggap sebentar di atas dahan,

Jangan hanya pintar sendiri,

Pahami juga arah kebijakan.

 

Ke pasar membeli buah pepaya,

Tak lupa membeli ikan teri,

Kebijakan publik harus dikawal semua,

Agar adil untuk seluruh negeri.

 

Jalan-jalan ke kota tua,

Melihat senja di tepi pantai,

Mahasiswa jangan hanya diam saja,

Berani kritis demi masa depan bangsa.

 

Oleh: Bukhari


 

FuncFact 

Karya : Rheza Fadhilah




 

BEM STIA “AAN” Yogyakarta Gelar Kajian Ramadan dan Buka Bersama


KEBERSAMAAN RAMADHAN: Suasana hangat saat civitas akademika STIA "AAN" Yogyakarta melakukan foto bersama usai kajian. (Dokumentasi: BEM STIA "AAN" Yogyakarta)

 

Yogyakarta, 28 Februari 2026 – Badan Eksekutif  Mahasiswa (BEM) STIA “AAN” Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan kajian Ramadan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama di Ruang 12 dan 13 Kampus STIA. Mengusung tema “Tebarkan Kebaikan, Raih Kebersamaan, dan Raih Keberkahan di Bulan Ramadan,” acara ini dihadiri oleh anggota BEM serta civitas akademika kampus, termasuk dosen dan karyawan STIA “AAN” Yogyakarta, dalam suasana penuh kebersamaan.

Kajian ini menghadirkan penceramah Dr. Suyanto, S.Ag., M.S.I., M.Pd. yang menyampaikan materi mengenai pentingnya memanfaatkan bulan Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas diri, memperbanyak amal kebaikan, serta menjaga hubungan baik dengan sesama. Ketua panitia menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih karena bulan Ramadan merupakan waktu yang tepat bagi mahasiswa untuk memperbaiki diri sekaligus mempererat kebersamaan dalam organisasi. “Ramadan merupakan momen yang tepat untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya. Peserta lainnya juga menilai bahwa kegiatan tersebut memberikan banyak manfaat.

Melalui kegiatan kajian dan buka puasa bersama ini, diharapkan kebersamaan antaranggota BEM dan civitas akademika STIA “AAN” Yogyakarta semakin kuat. Semangat menebarkan kebaikan pun diharapkan tidak berhenti di bulan Ramadan, melainkan terus terjaga dalam setiap kegiatan organisasi ke depan.

 

Reporter: Naila Nur Arifah


Review Novel, Penulis: Syta Syana Iscara

 

Review Novel Tragedi Pedang Keadilan (Samayou Yaiba / さまよう刃) karya Keigo Higashino


Sumber gambar: Google Images

 

Novel ini menceritakan perjalanan pembalasan dendam seorang ayah bernama Nagamine Shigeki. Ia adalah ayah dari Nagamine Ema yang menjadi korban pelecehan seksual sekaligus pembunuhan. Ema saat itu pergi menonton festival musim panas, tetapi ia tidak pernah pulang hingga mayatnya ditemukan di sungai. Di tengah proses penyelidikan, Nagamine Shigeki menerima telepon dari seseorang yang tidak dikenalnya. Orang tersebut memberikan alamat serta informasi mengenai para pelaku. 

Setelah mengetahui alamat tersebut, Shigeki menyusup ke apartemen sesuai dengan informasi dari penelepon tak dikenal itu. Di sana, ia menemukan beberapa tumpukan tape recorder yang berisi rekaman korban-korban pembunuhan, termasuk anaknya yang dieksekusi dengan cara tak lazim. Duka dan amarah Shigeki memuncak setelah melihat rekaman yang menggambarkan penderitaan anak semata wayangnya. Peristiwa tragis tersebut menyulut emosi dan dendam dalam diri Shigeki. Ia bahkan tidak segan mengadili pelaku dengan tangannya sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh fakta bahwa para pelaku masih di bawah umur. Sesuai dengan ketentuan hukum di Jepang, pelaku anak di bawah umur hukumannya jauh lebih ringan. Oleh karena itu, Shigeki bersikeras menemukan pelaku sebelum polisi menemukannya. Ia merasa tidak adil jika pelaku mendapatkan hukuman yang ringan.

Novel ini merupakan novel misteri yang sangat realistis dalam aspek kasusnya, hukum yang berjalan, serta dampak psikologis bagi korban dan pelaku. Dibandingkan dengan beberapa novel karya Keigo Higashino lainnya, novel ini lebih mudah dibaca dan bahasanya tidak terlalu berat. Hal ini karena beberapa novel terjemahan terkadang memiliki perbedaan makna yang sulit dipahami.

Dalam buku ini, saya sangat mengapresiasi bagaimana penulis menonjolkan dampak dari meninggalnya Ema yang mampu mengubah sang ayah menjadi sedemikian rupa. Suasana yang digambarkan juga begitu menegangkan, seolah-olah pembaca ikut terlibat dalam proses pengejaran para pelaku. Selain itu, pembaca juga diajak melihat berbagai sudut pandang mengenai hukum pidana anak yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.


 Penulis: Syta Syana Iscara





 

Mahasiswa Belajar Membaca Arah

 

 Di bawah lampu ruang baca yang redup,

 kami menatap lembar kebijakan dengan tekun,

 mencari makna di balik setiap huruf, 

 yang menentukan masa depan kampung dan kebun.


 Kami belajar bahwa satu keputusan,

 bisa mengubah harga di pasar,

 bisa membuat petani tersenyum syukur, 

 atau justru membuat hidup semakin sukar. 


 Mahasiswa tidak boleh buta arah, 

 tidak cukup hanya tahu teori dan definisi,

 kami harus berani bertanya dengan gagah,

 ketika kebijakan kehilangan empati dan nurani.


 Mahasiswa bukan hanya penghafal teori, 

 bukan sekadar pemburu nilai tinggi, 

 kami adalah generasi yang peduli, 

 pada masa depan bangsa dan demokrasi. 


 Karya: Anisa Nurrokhimah 

 

Di Balik Lembar Peraturan

karya: Novita Fitriani

Di sudut kantin Fakultas Ilmu Sosial yang ramai oleh tawa dan suara peralatan makan, Aris memilih duduk agak menjauh. Bukan karena ia sendiri, tetapi karena pikirannya sedang tenggelam pada layar laptopnya. Ia tidak membuka media sosial atau berita viral, melainkan membaca draf Peraturan Daerah tentang tata ruang kota.

Keningnya sedikit berkerut saat menelusuri pasal demi pasal, mencoba memahami makna di balik bahasa hukum yang rumit.

“Ris, kamu serius baca itu?” tanya Bimo sambil duduk di depannya dan menyodorkan kopi.

“Iya,” jawab Aris singkat.

Bimo menghela napas. “Buat apa? Itu kan sudah disahkan. Nggak bakal berubah juga.” Aris menutup laptopnya perlahan.

“Justru karena sudah disahkan, Bim. Dari sini kelihatan kalau zonasi baru bisa menggusur komunitas kreatif di pinggiran kota studio kecil, ruang seni, sampai UMKM.”

Bimo terdiam. Selama ini ia hanya tahu isu itu dari media sosial. “Kamu tahu dari mana?”

Aris tersenyum tipis. “Dari membaca, bukan sekadar scroll.”

Hari-hari berikutnya, Aris mulai mengajak beberapa temannya berdiskusi. Awalnya hanya obrolan santai setelah kelas, tapi lama-kelamaan berkembang menjadi kelompok belajar. Mereka mencetak dokumen, menandai bagian penting, dan membagi tugas membaca.

Kini, mereka tidak hanya membahas apa yang salah, tetapi juga mengapa hal itu terjadi dan apa yang bisa dilakukan.

“Ada celah di sini,” ujar Aris suatu sore.

“Pasal ini belum sinkron. Bisa jadi bahan judicial review atau masuk lewat Perwali.” Diskusi mereka berubah arah dari keluhan menjadi strategi.

Di perpustakaan, mereka mulai menyusun policy brief. Prosesnya tidak mudah. Mereka harus mencari data, membandingkan kebijakan kota lain, dan merumuskan solusi yang masuk akal.

Beberapa kali mereka merasa buntu.

“Ini berat banget, kita cuma mahasiswa,” kata salah satu dari mereka. Aris menjawab pelan, “Justru karena kita mahasiswa. Kita punya waktu belajar dan belum terikat kepentingan.” Kalimat itu cukup untuk membuat mereka bertahan.

Saat hari audiensi tiba, mereka datang dengan pakaian rapi dan dokumen di tangan bukan spanduk. Awalnya dipandang biasa saja, tetapi suasana berubah saat Aris mulai berbicara. Ia menjelaskan dampak ekonomi, potensi hilangnya pekerjaan, hingga contoh kebijakan kota lain dengan tenang dan jelas.

Kepala dinas yang mendengar mulai mencatat.

“Kalian berbeda,” katanya. “Biasanya datang hanya untuk protes. Kalian datang dengan solusi.”

Malamnya, Aris kembali ke perpustakaan. Ia menatap dokumen yang dulu terasa berat, kini terasa bermakna. Ia sadar, melek kebijakan bukan soal terlihat pintar, tapi tentang kepedulian dan keberanian untuk terlibat.

Ia tersenyum pelan. Besok masih ada skripsi dan deadline, tapi ia merasa lebih tenang. Ia bukan lagi sekadar mahasiswa yang mengejar gelar, melainkan warga yang tahu bagaimana menggunakan suaranya.

Di luar, kota tetap berjalan seperti biasa. Namun dalam dirinya, arah telah berubah seperti kompas yang akhirnya menemukan tujuan.

Pesan Moral:

Melek kebijakan publik bukan sekadar mengikuti berita, tetapi memahami isi, dampak, serta cara berpartisipasi dengan cerdas. Kritik yang bermakna lahir dari pemahaman, dan perubahan sering dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

 

Selasa, 24 Maret 2026

 

Linger Vellichor

In the Quiet of Fleeting Echoes

We were twin flames once,

or so they said.

 

Your name still rests

at the top of my screen,

but the cold blue light

keeps me fragile.

 

In winter,

we were good to each other.

I grow wistful for your presence.

I ache in quiet limerence.

 

We were happy once.

I remember that.

 

I miss who we were.

I liked how we felt

more than I meant to.

 

And I sit in solitude,

day by day, growing ephemeral.

Some days, I still reach for you.

I’m sorry I held

on to something unnamed.

 

Karya: Mahda Okta Azzahra

Senin, 16 Maret 2026

 Puisi


Ada hari-hari
yang tidak meminta dimengerti,
hanya ingin dilewati tanpa kesimpulan.
Aku belajar menghormatinya.

Aku pernah percaya
segala sesuatu harus segera diberi nama.
Nyatanya, beberapa hal justru bertahan
karena dibiarkan terbuka.

Waktu tidak mengajariku apa-apa
selain cara berdiri
ketika sesuatu pergi
dan tidak kembali untuk dijelaskan.

Aku berjalan tanpa rencana besar.
Kadang berhenti terlalu lama,
kadang melangkah hanya karena
diam terasa seperti menunda hidup.

Tidak semua luka ingin ditutup.
Sebagian hanya ingin diakui
pernah ada,
dan masih tinggal di sini.

Aku tidak menyebut diriku kuat.
Aku hanya belum selesai
dengan apa yang sedang kuhadapi,
dan memilih tidak berhenti di tengahnya.

Jika hidup hari ini terasa biasa saja,
aku menerimanya tanpa perlawanan.
Sebab yang sedang berlangsung
tak selalu perlu tampak utuh.


Karya: Salsa Nabila Suwarno


Jumat, 13 Maret 2026

 

LPM Super JIMO STIA ‘AAN’ Yogyakarta Dorong Mahasiswa Menulis Kritis dan Berintegritas melalui kegitan (Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar) PJTD

 

Yogyakarta, 10 Maret 2026 – Kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) kembali diselenggarakan pada 13 Februari 2026 di Kampus STIA “AAN” Yogyakarta dengan mengusung tema “Pena Kritis Mengawal Transparansi Publik melalui Jurnalistik Berintegritas.” Tema ini mengandung makna bahwa mahasiswa yang tergabung dalam organisasi pers memiliki peran penting dalam mengawal keterbukaan informasi publik melalui karya jurnalistik yang berintegritas, kritis, dan objektif. Acara yang menghadirkan narasumber Shinta Maharani, seorang pengurus Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, ini berlangsung dengan sangat baik.

Kegiatan ini diikuti oleh anggota LPM Super JIMO, delegasi BEM, dan Mapala dengan antusiasme yang sangat tinggi dan positif. Hal tersebut terlihat dari kehadiran peserta yang lengkap, partisipasi aktif dalam sesi diskusi bersama narasumber, serta semangat dalam mengikuti pemaparan materi hingga praktik pembuatan berita dan presentasi hasil penulisan berita. Peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga langsung mempraktikkan teknik penulisan berita yang baik dan benar, kemudian memperoleh koreksi serta masukan langsung dari narasumber. Proses ini memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam bagi para anggota pers mahasiswa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama, dilanjutkan dengan pembacaan susunan acara serta sambutan dari Ketua Panitia, Pimpinan Umum LPM Super JIMO, dan Ketua STIA “AAN” Yogyakarta. Setelah itu, kegiatan inti berupa pemaparan materi jurnalistik oleh narasumber kak Shinta Maharani dan praktik penulisan berita bersama peserta.

Dalam proses persiapan, Ade mengungkapkan bahwa panitia telah melakukan berbagai tahapan penting. “Kami sebagai panitia memulai persiapan dari penentuan konsep dan tujuan acara, penyusunan anggaran, pembuatan proposal, pengiriman undangan, hingga menyiapkan konsumsi dan perlengkapan teknis sebelum pelaksanaan kegiatan pada hari H,” ujarnya.

Sebagai Ketua Panitia PJTD, Ade merasa sangat bersyukur dan bangga karena kegiatan PJTD dapat terlaksana dengan baik, lancar, dan sesuai rencana. “Kerja sama, kekompakan, serta tanggung jawab seluruh panitia dan peserta menjadi kunci utama keberhasilan kegiatan ini,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan PJTD pada tahun-tahun selanjutnya mampu memberikan pengalaman, pengetahuan, serta pembelajaran organisasi pers yang bermanfaat dan berkelanjutan bagi seluruh peserta. Pena yang kritis bukan sekadar alat untuk menulis, tetapi juga menjadi simbol keberanian untuk turun ke lapangan, menyampaikan fakta, serta menggali informasi yang berkembang di tengah masyarakat.

 

Reporter: Reni Pebriana Napitu

Solidaritas Digital Lintas Negara Menguat, Warganet Diminta Lebih Bijak Berkomentar


Ilustrasi aktivitas warganet dalam percakapan lintas negara di media sosial. (Foto: Camilo Jimenez/Unsplash)

 

Yogyakarta, 24 Februari 2026– Diskusi di media sosial dalam beberapa hari terakhir kembali menyoroti kolaborasi lintas negara di ruang digital. Respons warganet Indonesia dalam berinteraksi dengan warganet Korea dan sejumlah negara Asia Tenggara menunjukkan bahwa dukungan kolektif dapat berkembang dengan cepat, tetapi juga menuntut kedewasaan dalam berkomunikasi.

Salah satu mahasiswa yang diwawancarai pekan ini mengatakan bahwa pada awalnya warganet Indonesia termotivasi untuk berpartisipasi karena rasa solidaritas. “Pada awalnya ini adalah bentuk solidaritas karena warganet Korea mulai menyerang negara lain yang tidak seharusnya terlibat. Menurut saya, Malaysia hanya menegur karena aturan resmi melarang membawa kamera profesional,” ujarnya.

Menurut mahasiswa tersebut, munculnya dukungan tersebut didukung oleh rasa kebersamaan regional dan kedekatan antarnegara di kawasan Asia Tenggara. Mengekspresikan solidaritas menjadi salah satu cara menunjukkan empati terhadap negara yang dianggap berada di posisi yang benar. 

Namun, ruang digital tidak selalu stabil. Intensitas percakapan meningkat seiring bertambahnya keterlibatan warganet dari berbagai negara. Dalam situasi yang serba cepat, tanggapan yang awalnya empatik dapat berubah menjadi emosional. “Seiring berjalannya waktu, persoalan ini berubah menjadi emosional karena negara lain di Asia Tenggara mulai menyerang warganet Korea dan kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengakibatkan perpecahan antarnegara,” tambahnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa solidaritas digital memiliki batas yang tipis dengan perasaan kolektif. Ketika identitas nasional dimasukkan ke ruang publik daring, diskusi dapat berkembang dan melibatkan sensitivitas serta kebanggaan nasional. Mahasiswa tersebut menilai bahwa interaksi di platform seperti X dan Instagram tidak hanya berhenti pada percakapan, tetapi juga dapat memengaruhi persepsi global terhadap Indonesia.

“Hal tersebut berpengaruh karena saya pernah melihat penelitian yang beredar di media sosial yang menyatakan bahwa penggemar Indonesia termasuk yang kasar. Kondisi tersebut dapat memengaruhi citra Indonesia,” tuturnya.

Untuk mencegah solidaritas berubah menjadi sumber konflik, ia menegaskan pentingnya warganet untuk menjaga batasan dalam berkomentar. Ia menyarankan agar masyarakat berkomentar secukupnya dan tidak keluar dari ranah yang semestinya. Hal ini penting agar tidak mengganggu hubungan diplomasi antarnegara.

Ia percaya bahwa ada manfaat dari bersuara maupun menahan diri. “Bersuara itu tidak ada salahnya untuk menengahi agar situasi lebih baik. Namun, pada saat yang sama, diam adalah emas,” pungkasnya. Pada akhirnya, solidaritas lintas negara di era digital bukan semata tentang siapa yang dibela, melainkan tentang bagaimana dukungan diberikan untuk mempertahankan solidaritas dan mempererat hubungan. Di tengah arus komunikasi global yang cepat, penting untuk berkomunikasi dengan bijak.  


Kamis, 12 Maret 2026

Rumah Tanpa Alamat

 Tatkala menghadapi hiruk pikuk dunia,

dan lelah mengepung langkah yang rapuh.

Namun, seketika keresahan itu reda,

saat kau berikan dekapanmu yang teduh.


Tak ada koordinat dan jalan yang kutuju,

sebab kau hunian yang menyertai tiap langkah.

Tak butuh peta untuk menapaki arah baru,

sebab alamatku terukir di sukmamu dengan indah.


Saat badai datang membawa sembilu,

kau menjelma atap yang memberi rasa aman.

Hanya menatap secercah cahaya di matamu,

sirnalah gelap, terbitlah tenang dan nyaman.


Tak lagi kucari bangunan untuk kutuju,

sebab bersamamu segala gelisah telah reda.

Hanya padamu kusandarkan lara dan pilu,

kaulah rumah terbaik yang takkan pernah pudar rasa.



Karya: Reza Aulia

Minggu, 01 Maret 2026

Selalu Ada Harapan di antara Perbedaan “VERSUS”

 


Ada garis yang memisah, kata “versus” berbisik di udara. 

Namun, di sela-sela jurang itu, matahari merangkai jembatan cahaya.


Perbedaan menari seperti bayang, membawa ragu, membawa tanya.

Namun, selalu ada harapan yang lembut, menyulam kita menjadi satu cerita.


Peluk perbedaan, genggam erat kemungkinan. Di antara “versus” tumbuh pagi baru.


Puisi karya: Rheza Faadhilah

Tiga Petani Lansia di Seyegan, Sleman, Tersambar Petir, Dua Meninggal Dunia

 

[Ilustrasi] Petani yang berteduh di gubuk saat hujan lebat berisiko tersambar petir. (Sumber: Gemini)

Sleman, 9 Februari 2026—Peristiwa tragis menimpa tiga petani lansia di kawasan persawahan Bulak Barak, Kalurahan Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Senin siang. Ketiga warga tersebut tersambar petir ketika sedang mencari tempat berteduh di sebuah gubuk kecil saat hujan deras melanda wilayah setempat. Insiden terjadi sekitar pukul 12.30 WIB saat hujan deras disertai kilat dan petir.


Ketiga petani yang sedang menanam padi di sawah bergegas menuju gubuk sederhana di tengah lahan persawahan untuk berlindung dari hujan. Tidak lama kemudian, sambaran petir menyambar kawasan sekitar gubuk dan mengenai ketiganya sehingga mereka terjatuh dalam bangunan tersebut. Dua dari tiga korban yang tersambar petir, yakni Wakinah (63) dan Samiyah (64), dinyatakan meninggal dunia setelah dievakuasi ke Rumah Sakit At-Taurot, Kecamatan Seyegan. Sementara itu, satu korban lainnya, Sarinten (72), selamat meskipun mengalami trauma dan syok akibat kejadian tersebut. Korban yang selamat sempat meminta pertolongan warga sekitar sebelum akhirnya mendapatkan penanganan medis.


Petugas gabungan dari kepolisian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sleman, serta relawan setempat segera mendatangi lokasi kejadian setelah menerima laporan dari masyarakat. Proses evakuasi dilakukan dengan cepat guna memastikan korban mendapatkan penanganan yang tepat serta mengamankan lokasi kejadian. Aparat juga melakukan pendataan dan meminta keterangan dari sejumlah saksi untuk memastikan kronologi peristiwa.Kasi Humas Polresta Sleman menyampaikan bahwa kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar selalu waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba. Aktivitas di ruang terbuka, seperti persawahan dan ladang memiliki risiko tinggi ketika hujan disertai petir melanda. Masyarakat diimbau untuk segera mencari tempat yang lebih aman dan kokoh apabila cuaca mulai menunjukkan tanda-tanda buruk.


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi cuaca yang tidak menentu tersebut berpotensi membahayakan warga yang beraktivitas di luar ruangan. Oleh karena itu, pemerintah daerah mengingatkan masyarakat agar rutin memantau informasi prakiraan cuaca serta mengutamakan keselamatan diri dalam setiap kegiatan. Peristiwa ini menambah daftar kejadian akibat cuaca ekstrem di wilayah Sleman pada musim hujan tahun ini. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di kemudian hari serta mengurangi risiko korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi.

Sumber berita: Detikcom dan Republika.

Reporter: Nabila Livia Putri 

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIA “AAN” Yogyakarta Melaksanakan Srawung dan Makrab di Hari Libur Kuliah.

 

Sumber foto: BEM STIA “AAN” Yogyakarta

Yogyakarta, Februari 2026 – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi “AAN” Yogyakarta sukses menyelenggarakan kegiatan srawung dan makrab yang bertempat di Hotel Kana, Kaliurang. Acara yang mengusung tema “Merajut Kebersamaan, Menguatkan Solidaritas untuk Organisasi yang Progresif” ini dilaksanakan pada tanggal 14–15 Februari 2026. Tema tersebut menggambarkan upaya BEM STIA “AAN” Yogyakarta dalam membangun hubungan yang harmonis dan saling mendukung antaranggota. 


Ketua Panitia sekaligus Presiden Mahasiswa BEM STIA “AAN” Yogyakarta, Ilham Ramadhan, menjelaskan bahwa srawung dan makrab ini bukan program kerja BEM, melainkan kegiatan rutin BEM setiap tahun. “Ini bukan sekadar kegiatan keakraban saja, tetapi kegiatan ini menjadi ruang untuk saling kenal satu sama lain, paham dengan kementerian masing-masing, dan kegiatan untuk semua anggota menjalin kebersamaan,” ungkapnya. Agar acara dapat berlangsung dengan baik, panitia melakukan persiapan secara intensif. Untuk memastikan acara berjalan lancar, panitia melakukan persiapan intensif selama satu bulan. “Untuk persiapan acara ini kita mulai dari jauh-jauh hari, dimulai sejak satu bulan sebelum hari H,” ujar Ilham. 


Acara tersebut dihadiri oleh Ketua STIA “AAN” Yogyakarta, Wakil Ketua III bidang kemahasiswaan, alumni BEM, dan seluruh anggota BEM muda. Rangkaian kegiatan meliputi pembukaan oleh Ketua STIA “AAN” Yogyakarta, selanjutnya ada materi mengenai komitmen dan tanggung jawab dalam organisasi, presentasi tiap kementerian, sosialisasi AD/ART sekaligus pelantikan anggota muda, senam, game, nonton bersama, dan sharing session. Sebagai ketua panitia, Ilham mengaku puas meski lelah, “Walaupun capek tetapi acaranya terasa seru dan bagus. Semoga kegiatan ini di tahun selanjutnya bisa lebih baik dari tahun ini dan lebih seru lagi” tuturnya. 


Salah satu anggota baru BEM STIA “AAN” Yogyakarta, Samuel Agustian Siagian, turut membagikan kesannya selama mengikuti acara srawung dan makrab. “Awalnya saya merasa kurang beradaptasi, namun seiring berjalannya acara saya merasa diterima dan lebih nyaman berada di lingkungan BEM. Terdapat momen pengukuhan anggota dari situ, saya merasa dipercaya dan ada tanggung jawab yang harus dijalankan dengan baik,” ujarnya. Ia juga berharap kegiatan ini dapat terus berkembang. “Saya berharap nilai kebersamaan dan semangat yang terbentuk selama srawung dan makrab ini tidak berhenti di acara ini saja, tetapi terus diterapkan untuk kegiatan BEM ke depan, sehingga BEM bisa berjalan lebih solid, harmonis, dan produktif.”


Ilham juga menyampaikan harapannya agar acara ini berjalan sesuai dengan harapan. “Semoga dengan kegiatan ini seluruh anggota BEM saling kenal satu sama lain dan paham bagaimana program kerja yang ada di setiap kementerian,” katanya. Acara srawung dan makrab ini menjadi bukti bahwa kebersamaan itu merupakan kunci dari lahirnya solidaritas.


Reporter: Amanda

Kamis, 29 Januari 2026

Kebersamaan yang Indah

Kebersamaan yang Indah
Karya: Dhini Setyawati 

Manusia tak hidup seorang diri,
Tumbuh bersama dalam lingkaran sesama.
Saling menyapa, saling memahami,
Menjalin makna dalam hati yang murni.

Menghormati sesama adalah utama,
Hindari sikap ingin menang sendiri.
Bersama teman jalinlah kerukunan,
Hidup terasa damai, penuh kesenangan.

Bergandeng tangan dalam kebersamaan,
Beban terasa ringan, hilang kesedihan.
Saling menolong tanpa pamrih di jalan,
Menuju tujuan dengan hati sejalan.

Kejujuran menjadi landasan yang teguh,
Menumbuhkan rasa percaya tanpa ragu.
Hindari dusta, jauhi segala perselisihan,
Hidup pun tenteram, penuh kebahagiaan.

Tutur kata santun mencerminkan budi,
Membawa tenteram ke sudut hati.
Nilai luhur itulah yang patut dijaga,
Agar hidup bermakna, damai terasa nyata.

  Tantang Adrenalin di Goa Kayu Ayu, Angkatan Arunaka Dharma Mapala AGNY Perdalam Teknik Caving Sumber: Dokumentasi Mapala AGNY Yogyakarta, ...