Senin, 16 Maret 2026

 Puisi


Ada hari-hari
yang tidak meminta dimengerti,
hanya ingin dilewati tanpa kesimpulan.
Aku belajar menghormatinya.

Aku pernah percaya
segala sesuatu harus segera diberi nama.
Nyatanya, beberapa hal justru bertahan
karena dibiarkan terbuka.

Waktu tidak mengajariku apa-apa
selain cara berdiri
ketika sesuatu pergi
dan tidak kembali untuk dijelaskan.

Aku berjalan tanpa rencana besar.
Kadang berhenti terlalu lama,
kadang melangkah hanya karena
diam terasa seperti menunda hidup.

Tidak semua luka ingin ditutup.
Sebagian hanya ingin diakui
pernah ada,
dan masih tinggal di sini.

Aku tidak menyebut diriku kuat.
Aku hanya belum selesai
dengan apa yang sedang kuhadapi,
dan memilih tidak berhenti di tengahnya.

Jika hidup hari ini terasa biasa saja,
aku menerimanya tanpa perlawanan.
Sebab yang sedang berlangsung
tak selalu perlu tampak utuh.


Karya: Salsa Nabila Suwarno


Jumat, 13 Maret 2026

 

LPM Super JIMO STIA ‘AAN’ Yogyakarta Dorong Mahasiswa Menulis Kritis dan Berintegritas melalui kegitan (Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar) PJTD

 

Yogyakarta, 10 Maret 2026 – Kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) kembali diselenggarakan pada 13 Februari 2026 di Kampus STIA “AAN” Yogyakarta dengan mengusung tema “Pena Kritis Mengawal Transparansi Publik melalui Jurnalistik Berintegritas.” Tema ini mengandung makna bahwa mahasiswa yang tergabung dalam organisasi pers memiliki peran penting dalam mengawal keterbukaan informasi publik melalui karya jurnalistik yang berintegritas, kritis, dan objektif. Acara yang menghadirkan narasumber Shinta Maharani, seorang pengurus Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, ini berlangsung dengan sangat baik.

Kegiatan ini diikuti oleh anggota LPM Super JIMO, delegasi BEM, dan Mapala dengan antusiasme yang sangat tinggi dan positif. Hal tersebut terlihat dari kehadiran peserta yang lengkap, partisipasi aktif dalam sesi diskusi bersama narasumber, serta semangat dalam mengikuti pemaparan materi hingga praktik pembuatan berita dan presentasi hasil penulisan berita. Peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga langsung mempraktikkan teknik penulisan berita yang baik dan benar, kemudian memperoleh koreksi serta masukan langsung dari narasumber. Proses ini memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam bagi para anggota pers mahasiswa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama, dilanjutkan dengan pembacaan susunan acara serta sambutan dari Ketua Panitia, Pimpinan Umum LPM Super JIMO, dan Ketua STIA “AAN” Yogyakarta. Setelah itu, kegiatan inti berupa pemaparan materi jurnalistik oleh narasumber kak Shinta Maharani dan praktik penulisan berita bersama peserta.

Dalam proses persiapan, Ade mengungkapkan bahwa panitia telah melakukan berbagai tahapan penting. “Kami sebagai panitia memulai persiapan dari penentuan konsep dan tujuan acara, penyusunan anggaran, pembuatan proposal, pengiriman undangan, hingga menyiapkan konsumsi dan perlengkapan teknis sebelum pelaksanaan kegiatan pada hari H,” ujarnya.

Sebagai Ketua Panitia PJTD, Ade merasa sangat bersyukur dan bangga karena kegiatan PJTD dapat terlaksana dengan baik, lancar, dan sesuai rencana. “Kerja sama, kekompakan, serta tanggung jawab seluruh panitia dan peserta menjadi kunci utama keberhasilan kegiatan ini,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan PJTD pada tahun-tahun selanjutnya mampu memberikan pengalaman, pengetahuan, serta pembelajaran organisasi pers yang bermanfaat dan berkelanjutan bagi seluruh peserta. Pena yang kritis bukan sekadar alat untuk menulis, tetapi juga menjadi simbol keberanian untuk turun ke lapangan, menyampaikan fakta, serta menggali informasi yang berkembang di tengah masyarakat.

 

Reporter: Reni Pebriana Napitu

Solidaritas Digital Lintas Negara Menguat, Warganet Diminta Lebih Bijak Berkomentar


Ilustrasi aktivitas warganet dalam percakapan lintas negara di media sosial. (Foto: Camilo Jimenez/Unsplash)

 

Yogyakarta, 24 Februari 2026– Diskusi di media sosial dalam beberapa hari terakhir kembali menyoroti kolaborasi lintas negara di ruang digital. Respons warganet Indonesia dalam berinteraksi dengan warganet Korea dan sejumlah negara Asia Tenggara menunjukkan bahwa dukungan kolektif dapat berkembang dengan cepat, tetapi juga menuntut kedewasaan dalam berkomunikasi.

Salah satu mahasiswa yang diwawancarai pekan ini mengatakan bahwa pada awalnya warganet Indonesia termotivasi untuk berpartisipasi karena rasa solidaritas. “Pada awalnya ini adalah bentuk solidaritas karena warganet Korea mulai menyerang negara lain yang tidak seharusnya terlibat. Menurut saya, Malaysia hanya menegur karena aturan resmi melarang membawa kamera profesional,” ujarnya.

Menurut mahasiswa tersebut, munculnya dukungan tersebut didukung oleh rasa kebersamaan regional dan kedekatan antarnegara di kawasan Asia Tenggara. Mengekspresikan solidaritas menjadi salah satu cara menunjukkan empati terhadap negara yang dianggap berada di posisi yang benar. 

Namun, ruang digital tidak selalu stabil. Intensitas percakapan meningkat seiring bertambahnya keterlibatan warganet dari berbagai negara. Dalam situasi yang serba cepat, tanggapan yang awalnya empatik dapat berubah menjadi emosional. “Seiring berjalannya waktu, persoalan ini berubah menjadi emosional karena negara lain di Asia Tenggara mulai menyerang warganet Korea dan kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengakibatkan perpecahan antarnegara,” tambahnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa solidaritas digital memiliki batas yang tipis dengan perasaan kolektif. Ketika identitas nasional dimasukkan ke ruang publik daring, diskusi dapat berkembang dan melibatkan sensitivitas serta kebanggaan nasional. Mahasiswa tersebut menilai bahwa interaksi di platform seperti X dan Instagram tidak hanya berhenti pada percakapan, tetapi juga dapat memengaruhi persepsi global terhadap Indonesia.

“Hal tersebut berpengaruh karena saya pernah melihat penelitian yang beredar di media sosial yang menyatakan bahwa penggemar Indonesia termasuk yang kasar. Kondisi tersebut dapat memengaruhi citra Indonesia,” tuturnya.

Untuk mencegah solidaritas berubah menjadi sumber konflik, ia menegaskan pentingnya warganet untuk menjaga batasan dalam berkomentar. Ia menyarankan agar masyarakat berkomentar secukupnya dan tidak keluar dari ranah yang semestinya. Hal ini penting agar tidak mengganggu hubungan diplomasi antarnegara.

Ia percaya bahwa ada manfaat dari bersuara maupun menahan diri. “Bersuara itu tidak ada salahnya untuk menengahi agar situasi lebih baik. Namun, pada saat yang sama, diam adalah emas,” pungkasnya. Pada akhirnya, solidaritas lintas negara di era digital bukan semata tentang siapa yang dibela, melainkan tentang bagaimana dukungan diberikan untuk mempertahankan solidaritas dan mempererat hubungan. Di tengah arus komunikasi global yang cepat, penting untuk berkomunikasi dengan bijak.  


Kamis, 12 Maret 2026

Rumah Tanpa Alamat

 Tatkala menghadapi hiruk pikuk dunia,

dan lelah mengepung langkah yang rapuh.

Namun, seketika keresahan itu reda,

saat kau berikan dekapanmu yang teduh.


Tak ada koordinat dan jalan yang kutuju,

sebab kau hunian yang menyertai tiap langkah.

Tak butuh peta untuk menapaki arah baru,

sebab alamatku terukir di sukmamu dengan indah.


Saat badai datang membawa sembilu,

kau menjelma atap yang memberi rasa aman.

Hanya menatap secercah cahaya di matamu,

sirnalah gelap, terbitlah tenang dan nyaman.


Tak lagi kucari bangunan untuk kutuju,

sebab bersamamu segala gelisah telah reda.

Hanya padamu kusandarkan lara dan pilu,

kaulah rumah terbaik yang takkan pernah pudar rasa.



Karya: Reza Aulia

Minggu, 01 Maret 2026

Selalu Ada Harapan di antara Perbedaan “VERSUS”

 


Ada garis yang memisah, kata “versus” berbisik di udara. 

Namun, di sela-sela jurang itu, matahari merangkai jembatan cahaya.


Perbedaan menari seperti bayang, membawa ragu, membawa tanya.

Namun, selalu ada harapan yang lembut, menyulam kita menjadi satu cerita.


Peluk perbedaan, genggam erat kemungkinan. Di antara “versus” tumbuh pagi baru.


Puisi karya: Rheza Faadhilah

Tiga Petani Lansia di Seyegan, Sleman, Tersambar Petir, Dua Meninggal Dunia

 

[Ilustrasi] Petani yang berteduh di gubuk saat hujan lebat berisiko tersambar petir. (Sumber: Gemini)

Sleman, 9 Februari 2026—Peristiwa tragis menimpa tiga petani lansia di kawasan persawahan Bulak Barak, Kalurahan Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Senin siang. Ketiga warga tersebut tersambar petir ketika sedang mencari tempat berteduh di sebuah gubuk kecil saat hujan deras melanda wilayah setempat. Insiden terjadi sekitar pukul 12.30 WIB saat hujan deras disertai kilat dan petir.


Ketiga petani yang sedang menanam padi di sawah bergegas menuju gubuk sederhana di tengah lahan persawahan untuk berlindung dari hujan. Tidak lama kemudian, sambaran petir menyambar kawasan sekitar gubuk dan mengenai ketiganya sehingga mereka terjatuh dalam bangunan tersebut. Dua dari tiga korban yang tersambar petir, yakni Wakinah (63) dan Samiyah (64), dinyatakan meninggal dunia setelah dievakuasi ke Rumah Sakit At-Taurot, Kecamatan Seyegan. Sementara itu, satu korban lainnya, Sarinten (72), selamat meskipun mengalami trauma dan syok akibat kejadian tersebut. Korban yang selamat sempat meminta pertolongan warga sekitar sebelum akhirnya mendapatkan penanganan medis.


Petugas gabungan dari kepolisian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sleman, serta relawan setempat segera mendatangi lokasi kejadian setelah menerima laporan dari masyarakat. Proses evakuasi dilakukan dengan cepat guna memastikan korban mendapatkan penanganan yang tepat serta mengamankan lokasi kejadian. Aparat juga melakukan pendataan dan meminta keterangan dari sejumlah saksi untuk memastikan kronologi peristiwa.Kasi Humas Polresta Sleman menyampaikan bahwa kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar selalu waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba. Aktivitas di ruang terbuka, seperti persawahan dan ladang memiliki risiko tinggi ketika hujan disertai petir melanda. Masyarakat diimbau untuk segera mencari tempat yang lebih aman dan kokoh apabila cuaca mulai menunjukkan tanda-tanda buruk.


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi cuaca yang tidak menentu tersebut berpotensi membahayakan warga yang beraktivitas di luar ruangan. Oleh karena itu, pemerintah daerah mengingatkan masyarakat agar rutin memantau informasi prakiraan cuaca serta mengutamakan keselamatan diri dalam setiap kegiatan. Peristiwa ini menambah daftar kejadian akibat cuaca ekstrem di wilayah Sleman pada musim hujan tahun ini. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di kemudian hari serta mengurangi risiko korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi.

Sumber berita: Detikcom dan Republika.

Reporter: Nabila Livia Putri 

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIA “AAN” Yogyakarta Melaksanakan Srawung dan Makrab di Hari Libur Kuliah.

 

Sumber foto: BEM STIA “AAN” Yogyakarta

Yogyakarta, Februari 2026 – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi “AAN” Yogyakarta sukses menyelenggarakan kegiatan srawung dan makrab yang bertempat di Hotel Kana, Kaliurang. Acara yang mengusung tema “Merajut Kebersamaan, Menguatkan Solidaritas untuk Organisasi yang Progresif” ini dilaksanakan pada tanggal 14–15 Februari 2026. Tema tersebut menggambarkan upaya BEM STIA “AAN” Yogyakarta dalam membangun hubungan yang harmonis dan saling mendukung antaranggota. 


Ketua Panitia sekaligus Presiden Mahasiswa BEM STIA “AAN” Yogyakarta, Ilham Ramadhan, menjelaskan bahwa srawung dan makrab ini bukan program kerja BEM, melainkan kegiatan rutin BEM setiap tahun. “Ini bukan sekadar kegiatan keakraban saja, tetapi kegiatan ini menjadi ruang untuk saling kenal satu sama lain, paham dengan kementerian masing-masing, dan kegiatan untuk semua anggota menjalin kebersamaan,” ungkapnya. Agar acara dapat berlangsung dengan baik, panitia melakukan persiapan secara intensif. Untuk memastikan acara berjalan lancar, panitia melakukan persiapan intensif selama satu bulan. “Untuk persiapan acara ini kita mulai dari jauh-jauh hari, dimulai sejak satu bulan sebelum hari H,” ujar Ilham. 


Acara tersebut dihadiri oleh Ketua STIA “AAN” Yogyakarta, Wakil Ketua III bidang kemahasiswaan, alumni BEM, dan seluruh anggota BEM muda. Rangkaian kegiatan meliputi pembukaan oleh Ketua STIA “AAN” Yogyakarta, selanjutnya ada materi mengenai komitmen dan tanggung jawab dalam organisasi, presentasi tiap kementerian, sosialisasi AD/ART sekaligus pelantikan anggota muda, senam, game, nonton bersama, dan sharing session. Sebagai ketua panitia, Ilham mengaku puas meski lelah, “Walaupun capek tetapi acaranya terasa seru dan bagus. Semoga kegiatan ini di tahun selanjutnya bisa lebih baik dari tahun ini dan lebih seru lagi” tuturnya. 


Salah satu anggota baru BEM STIA “AAN” Yogyakarta, Samuel Agustian Siagian, turut membagikan kesannya selama mengikuti acara srawung dan makrab. “Awalnya saya merasa kurang beradaptasi, namun seiring berjalannya acara saya merasa diterima dan lebih nyaman berada di lingkungan BEM. Terdapat momen pengukuhan anggota dari situ, saya merasa dipercaya dan ada tanggung jawab yang harus dijalankan dengan baik,” ujarnya. Ia juga berharap kegiatan ini dapat terus berkembang. “Saya berharap nilai kebersamaan dan semangat yang terbentuk selama srawung dan makrab ini tidak berhenti di acara ini saja, tetapi terus diterapkan untuk kegiatan BEM ke depan, sehingga BEM bisa berjalan lebih solid, harmonis, dan produktif.”


Ilham juga menyampaikan harapannya agar acara ini berjalan sesuai dengan harapan. “Semoga dengan kegiatan ini seluruh anggota BEM saling kenal satu sama lain dan paham bagaimana program kerja yang ada di setiap kementerian,” katanya. Acara srawung dan makrab ini menjadi bukti bahwa kebersamaan itu merupakan kunci dari lahirnya solidaritas.


Reporter: Amanda

Kamis, 29 Januari 2026

Kebersamaan yang Indah

Kebersamaan yang Indah
Karya: Dhini Setyawati 

Manusia tak hidup seorang diri,
Tumbuh bersama dalam lingkaran sesama.
Saling menyapa, saling memahami,
Menjalin makna dalam hati yang murni.

Menghormati sesama adalah utama,
Hindari sikap ingin menang sendiri.
Bersama teman jalinlah kerukunan,
Hidup terasa damai, penuh kesenangan.

Bergandeng tangan dalam kebersamaan,
Beban terasa ringan, hilang kesedihan.
Saling menolong tanpa pamrih di jalan,
Menuju tujuan dengan hati sejalan.

Kejujuran menjadi landasan yang teguh,
Menumbuhkan rasa percaya tanpa ragu.
Hindari dusta, jauhi segala perselisihan,
Hidup pun tenteram, penuh kebahagiaan.

Tutur kata santun mencerminkan budi,
Membawa tenteram ke sudut hati.
Nilai luhur itulah yang patut dijaga,
Agar hidup bermakna, damai terasa nyata.

Daun Baru di Ranting Patah

 Daun Baru di Ranting Patah

Karya: Umi Ida Jauhariyah


Dari ranting yang patah,

Sehelai daun memilih tumbuh.

Ia lahir dari luka yang sama,

Namun menolak ikut luruh bersama waktu,


Angin kerap datang membawa ragu,

Menggoyang yang rapuh tanpa suara.

Daun itu belajar bertahan,

Meski tahu jatuh selalu mungkin.


Patah tak selalu akhir cerita,

Kadang ia sunyi sebelum mekar.

Sebab dari ranting yang terluka,

Hidup diam-diam menemukan caranya tumbuh.

Banjir Kembali Rendam Karawang, Ribuan Warga Telukjambe Barat Terdampak

 


(Sumber foto: Google)

Yogyakarta, 21 Januari 2026 — Banjir kembali merendam sebagian besar wilayah Kabupaten Karawang akibat luapan Sungai Cibeet dan Sungai Citarum. Kondisi ini dipicu tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir. Banjir terbaru terjadi sejak Sabtu malam (17/1) yang menyebabkan ribuan warga terdampak serta terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Wilayah Kecamatan Telukjambe Barat menjadi salah satu wilayah paling parah terdampak banjir. Air sungai meluap dengan cepat menggenangi permukiman warga, lahan pertanian, dan akses jalan lingkungan. Di beberapa titik, tinggi muka air mencapai lutut hingga dada orang dewasa, sehingga kegiatan aktivitas warga lumpuh total. Sejumlah warga mengatakan banjir mulai masuk ke permukiman sejak malam hari dan terus meningkat hingga dini hari.


Kondisi tersebut mengakibatkan sebagian warga tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga. Alhasil, perabotan rumah tangga, peralatan elektronik, serta dokumen penting rusak terendam air banjir. Selain merusak rumah warga, banjir juga mengakibatkan kerusakan pada sektor pertanian. Area persawahan dan tambak milik warga tergenang air cukup lama, sehingga warga mengkhawatirkan besarnya kerugian ekonomi, terutama bagi para petani yang menggantungkan hidup dari hasil pertanian.


Aparat setempat bersama relawan telah melakukan penanganan darurat dengan mengevakuasi warga ke lokasi yang lebih aman serta membuka pos pengungsian sementara.


Banjir di Karawang dipicu oleh tingginya curah hujan yang menyebabkan debit air Sungai Cibeet dan Sungai Citarum meningkat drastis. Selain faktor alam, kondisi tanggul sungai serta saluran air yang belum optimal mengakibatkan luapan air meluas ke permukiman dan persawahan. Hingga saat ini, warga dan aparat masih bersiaga untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan. Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan evaluasi serta penanganan jangka panjang guna meminimalkan risiko banjir yang kerap melanda wilayah Karawang.

Reporter: Andika Putri Sagita

Rabu, 28 Januari 2026

Perayaan Natal Bersama STIA “AAN” dan STIKES Notokusumo

 Perayaan Natal Bersama STIA “AAN” dan STIKES Notokusumo

Yogyakarta, 24 Januari 2026 — Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) “AAN” Yogyakarta menyelenggarakan ibadah dan perayaan Natal bersama dengan STIKES Notokusumo. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 19 Januari 2026, bertempat di Auditorium STIKES Notokusumo dengan mengusung tema “Berbagi Kasih Menghadirkan Sukacita”.

Perayaan Natal bersama ini diikuti oleh sekitar 150 peserta yang terdiri atas mahasiswa dan dosen dari STIA “AAN” Yogyakarta serta STIKES Notokusumo. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh tamu undangan serta perwakilan organisasi mahasiswa STIA “AAN” Yogyakarta. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta kasih, persaudaraan, serta kerekatan baik dari STIA “AAN” maupun STIKES Notokusumo. 

Acara perayaan Natal dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan rangkaian kegiatan pembukaan yang diawali dengan sambutan dari pimpinan masing-masing kampus, Ketua Yayasan Notokusumo, serta ketua panitia penyelenggara. Setelah sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan ibadah Natal yang dipimpin oleh Pendeta Boydo Rajiv Hutagalung, S.Si.Teol., M.A. Ibadah berlangsung dengan khidmat dan penuh penghayatan, diiringi oleh puji-pujian yang menambah suasana sukacita dalam perayaan tersebut. Selain memimpin ibadah, Pendeta Boydo Rajiv Hutagalung, S.Si.Teol., M.A., juga menyampaikan khotbah mengenai pentingnya keberagaman. 

Setelah ibadah selesai, acara dilanjutkan dengan kegiatan tukar kado yang berisi makanan maupun barang sebagai simbol kebersamaan dan kasih antarpeserta. Kegiatan ini disambut dengan antusias dan penuh keakraban oleh seluruh peserta yang hadir sehingga suasana menjadi penuh kebahagiaan. 

Ayu selaku panitia penyelenggara menyampaikan bahwa tujuan diadakannya kegiatan ini bukan hanya untuk merayakan Natal seperti biasa, tetapi juga sebagai momen refleksi bagi seluruh peserta. “Perayaan Natal ini diharapkan menjadi pengingat untuk hidup lebih penuh kasih, damai, serta peduli terhadap sesama, terutama di lingkungan kampus,” ujarnya. Selain itu, Irma, salah satu peserta dari kampus STIA “AAN” Yogyakarta yang mengikuti kegiatan Natal ini, mengatakan bahwa ia merasa sangat senang karena mendapat teman baru, menambah pandangan baru, dan merasakan adanya kasih dan damai sukacita yang hadir. Harapannya semoga ke depannya orang-orang semakin nyata dalam merasakan kehadiran kasih sukacita dan merayakan Natal di mana pun. Semoga dalam setiap rangkaian penyambutan Natal diiringi bulir-bulir kebaikan dan kasih yang tulus.  


Reporter: Artika Rahma Danti


Minggu, 14 Desember 2025

“Harmonisasi dalam Kreasi Muda” A.Annual Fest #4 Tunjukkan Kolaborasi dan Kreativitas Tanpa Batas

 

Sumber: Dok. Panitia A.Annual Fest

Yogyakarta, 10 Desember 2025 — Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi “AAN” Yogyakarta kembali mengadakan A.Annual Fest Sabtu, 29 November 2025, bertempat di kampus STIA “AAN” Yogyakarta. A.Annual Fest merupakan program kerja Kementerian Pemuda dan Olahraga. Acara yang dimulai pukul 18.00 WIB ini mengusung tema “Harmonisasi dalam Kreasi Muda” dan menjadi ajang kolaborasi serta ekspresi mahasiswa yang penuh energi dan semangat muda.

Tema “Harmonisasi dalam Kreasi Muda” dipilih sebagai simbol persatuan dan kreativitas generasi muda. Acara ini tidak hanya menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menampilkan karya terbaiknya, tetapi juga berfungsi sebagai ruang yang membangun budaya kampus yang inklusif, kreatif, dan saling mendukung. “Kami ingin menunjukkan bahwa karya besar lahir dari kolaborasi. Tahun ini kami fokus membuka ruang ekspresi seluas-luasnya bagi mahasiswa,” ujar Cahyo Wulandari selaku ketua panitia.

Persiapan panitia berjalan dengan lancar melalui koordinasi intensif di setiap divisi, sehingga seluruh rangkaian acara dapat terselenggara dengan tertib dan sesuai rencana. A.Annual Fest #4 menampilkan beragam pentas seni mahasiswa, mulai dari tari, teater, puisi, hingga penampilan kreatif lainnya yang mencerminkan keragaman bakat di lingkungan kampus. Suasana semakin meriah dengan hadirnya tiga bintang tamu favorit mahasiswa, yaitu Gento Kates (ISI) yang tampil energik dan memukau para penonton, Linda Adista yang dengan gaya khasnya yang mampu membangun suasana hangat dan meriah, serta Koplo Krunch yang sukses memberikan warna musik koplo modern dan berhasil membuat penonton ikut berdiri menikmati irama.

Kehadiran mereka memperkaya warna acara dan memperkuat harmonisasi antara karya mahasiswa dan performer profesional. Antusiasme peserta serta pengunjung sangat luar biasa, banyak yang mengaku puas dan bangga karena acara tahun ini terasa lebih hidup, terarah, dan penuh energi positif. Salah satu pengunjung yang baru pertama kali menonton A.Annual Fest, Anisa Dewi Maharani, mengungkapkan bahwa ia sama sekali tidak menyangka acaranya semeriah itu. “Aku nggak expect bakal sebagus dan semeriah ini. Pertama kali nonton dan langsung terkesan banget!” ujarnya dengan penuh antusias.

Sebagai Ketua Panitia, Cahyo Wulandari berharap A.Annual Fest dapat terus berkembang dan menjadi ikon kampus yang selalu dinantikan setiap tahun. “Semoga ke depan lebih besar, lebih kreatif, dan semakin menjadi ruang berekspresi bagi mahasiswa. Kami ingin acara ini menjadi simbol semangat muda yang berkarya tanpa batas,” katanya.

Melalui keberhasilan penyelenggaraan tahun ini, A.Annual Fest #4 semakin membuktikan bahwa kreativitas mahasiswa merupakan kekuatan utama dalam membangun kehidupan kampus yang harmonis dan inovatif. Acara ini menunjukkan bahwa ide-ide kreatif, selalu semangat dalam berkarya dan saling berkolaborasi, mampu menciptakan suasana yang dinamis, inspiratif, dan memperkuat semangat kebersamaan yang kuat di lingkungan kampus STIA “AAN” Yogyakarta.


Reporter: Nana Lestari


Perayaan Milad ke-13 dan Launching Buletin Vol. 19 LPM Super JIMO Berlangsung Meriah dan Penuh Makna di Puri Mataram

 

Sumber: Dok. Panitia Milad LPM

Yogyakarta, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Super JIMO Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi “AAN” Yogyakarta kembali merayakan Milad ke-13 dan Launching Buletin Intens Vol. 19 bertempat di Puri Mataram. Acara istimewa ini mengusung tema “Tetap Menulis, Tetap Ada. 13 Tahun Super JIMO Bertahan Karena Makna”, serta tema Launching Buletin “Generasi Bertanya, Negeri Menjawab”, yang mencerminkan ruang dialog kritis antara generasi muda dan isu–isu kebangsaan yang terus berkembang.

Ketua Panitia, Amanda Rahmawati, menjelaskan bahwa kedua tema tersebut mencerminkan perjalanan panjang LPM Super JIMO sekaligus semangat baru dalam dunia literasi kampus. “Makna acara ini bukan hanya perayaan ulang tahun organisasi, tetapi kesempatan untuk menjalin silaturahmi dengan alumni, dosen, dan sesama anggota LPM” ungkapnya. Agar acara dapat berlangsung dengan baik, panitia melakukan persiapan secara intensif. Amanda menjelaskan bahwa setiap minggu panitia mengadakan rapat rutin. “Kami benar-benar memaksimalkan persiapan. Setiap minggu kami rapat supaya pada hari H semuanya berjalan lancar,” ujarnya.

Acara dimulai dengan sesi sambutan dari Ketua STIA “AAN” dan Pimpinan Umum LPM Super JIMO, kemudian dilanjutkan dengan bedah buletin sebagai agenda utama yang dilakukan oleh Divisi Keredaksian. Selanjutnya momen pemotongan kue menjadi simbol perayaan usia ke-13 LPM Super JIMO, menandai perjalanan panjang organisasi pers mahasiswa. Sebagai ketua panitia. Amanda mengungkapkan rasa bangganya, “Aku senang bisa ikut merayakan dan terlibat langsung. Dua acara ini sangat penting bagi LPM, dan menjadi kebanggaan tersendiri buat aku,” tuturnya.

Salah satu anggota baru LPM Super JIMO tahun 2025, Salsa Nabila Suwarno, turut membagikan kesan pertamanya mengikuti milad dan launching buletin. “Kesan saya sangat baik dan menyenangkan. Acaranya sederhana, tetapi justru itu yang membuat suasana terasa dekat dan hangat. Saya juga bangga bisa ikut melihat langsung semangat dan kerja keras teman-teman dalam menerbitkan buletin,” ujarnya. Ia juga berharap kegiatan ini dapat terus berkembang dan melibatkan lebih banyak anggota. “Semoga acaranya bisa dipertahankan dan dibuat lebih ramai. Untuk buletinnya, semoga terus konsisten terbit sebagai wadah berbagi cerita dan karya. Saya berharap organisasi ini semakin maju ke depannya.”

Amanda juga menyampaikan harapannya agar Perayaan Milad dan Launching Buletin Vol. 19 menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya. “Semoga tahun depan acaranya bisa lebih baik dan menghadirkan inovasi baru yang berbeda,” katanya. PerayaanMmilad ke-13 dan Launching Buletin Vol. 19 menjadi bukti bahwa LPM Super JIMO terus tumbuh, berdiri, dan berkarya. Dengan semangat luar biasa dan tidak mudah pantang menyerah, organisasi ini berkomitmen untuk terus menjadi ruang kreatif, ruang belajar, dan ruang berproses bagi mahasiswa yang mencintai dunia literasi dan jurnalistik.

Reporter: Nana Lestari

 

 


Jumat, 12 Desember 2025

“Jam Dinding yang Bernapas”

Di sebuah rumah tua yang terletak di ujung kebun pala, tergantung sebuah jam dinding tua berwarna coklat kusam. Tidak ada yang istimewa dari jam itu—sampai kau berdiri tepat di hadapannya dan menutup mata selama lima detik.

 

Saat detik kelima berlalu, jam itu mulai... bernapas.

Pelan, seperti seseorang yang baru bangun dari tidur panjang. Napasnya terdengar seperti desir kain tua yang disentuh angin.

 

Raya, cucu pemilik rumah itu, adalah orang pertama yang menyadarinya.

Malam itu, ketika listrik padam, ia berjalan melewati ruang tengah hanya dengan cahaya lilin. Lilin itu tiba-tiba meredup, seolah takut pada sesuatu. Raya berhenti.

Ia mendengar tarikan napas—panjang, berat, dan teratur—dari arah dinding.

 

Jam itu perlahan bergetar… lalu berbicara.

Suara tuanya terdengar menggema seperti kayu retak.

“Waktu yang kaulihat di wajahku… bukan waktumu.”

 

Raya merinding.

“Apa maksudmu?”

 

Detik jam berhenti. Jarumnya tidak bergerak, namun sang jam tetap menghela napas.

“Aku menyimpan waktu yang hilang. Waktu yang manusia buang tanpa sadar. Setiap penyesalan, setiap niat yang gagal, setiap rencana yang hanya tinggal angan—semua itu menjadi milikku.”

 

Raya menelan ludah.

“Lalu… kenapa kau bicara padaku?”

 

Jam itu menghembuskan napas yang lebih berat.

“Karena kau punya menit yang ingin kautarik kembali.”

Raya langsung paham: menit di mana ia terlambat meminta maaf pada ibunya sebelum kepergian terakhir.

Sesuatu yang selalu menghantuinya.

“Bisakah… aku mengambilnya kembali?” suara Raya gemetar.

 

Jam itu tidak menjawab dengan kata-kata.

Jarumnya bergerak mundur dengan cepat—tik-tik-tik-tik—seperti seseorang yang sedang menata ulang kenangan. Ruangan mendadak dipenuhi aroma bunga melati yang dulu sering dipakai ibunya.

 

Lilin di tangan Raya padam.

 

Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di ruang tamu.

Ia berdiri di dapur terang dengan aroma sayur sop. Ibunya sedang memotong wortel, tersenyum seperti hari biasa. Senyum yang sudah lama hilang.

 

Raya tahu ia hanya diberi satu menit.

Satu menit untuk melakukan hal yang tak pernah sempat ia lakukan.

Ia memeluk ibunya dari belakang.

“Aku pulang, Bu… maaf kalau selama ini aku terlambat.”

Ibunya tertawa kecil. “Kamu kenapa tiba-tiba sedih begitu?”

Raya tidak menjawab. Ia hanya memeluk lebih erat.

Ketika menit itu habis, semua cahaya runtuh seperti pasir.

Raya kembali berdiri di depan jam dinding yang kini diam, tidak bernapas lagi.

Jarum jam menunjukkan waktu yang sama seperti tadi pertama kali ia melihatnya.

Namun kali ini Raya tersenyum.

 

Ia tidak mendapatkan ibunya kembali—tapi ia mendapatkan waktu yang tidak lagi menusuk.

 

Jam itu berderak pelan, lalu bisikannya memudar:

“Waktu yang dipulangkan… tidak akan hilang.”

 

 Oleh: Eviani candran D.P

 


Sumatera Dilanda Banjir dan Longsor: Evakuasi Terhambat, Korban Terus Bertambah

 


(Sumber foto: Google)

Yogyakarta, 7 Desember 2025 - Bencana banjir dan longsor melanda sebagian besar wilayah Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat). Laporan terbaru menunjukkan bahwa musibah ini menimbulkan dampak yang sangat besar bagi masyarakat di ketiga provinsi tersebut. Situasi ini membuat berbagai pihak meningkatkan kewaspadaan karena kondisi di lapangan masih berubah-ubah dan memerlukan penanganan cepat.

Jumlah korban jiwa terus bertambah dan kini telah mencapai 940 orang. Selain itu, ratusan warga masih belum diketahui keberadaannya, dengan jumlah orang hilang tercatat sebanyak 276 jiwa. Ribuan korban lainnya mengalami luka-luka dan masih dalam proses penanganan medis. Tingginya jumlah korban ini menunjukkan besarnya bencana yang terjadi selama beberapa hari terakhir, serta sulitnya proses evakuasi yang dilakukan di daerah-daerah terpencil.

Kerusakan terhadap permukiman warga juga tidak kalah parah. Sekitar 147 ribu rumah mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan hingga hancur total. Kondisi ini menyebabkan banyak keluarga harus meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengungsi ke lokasi yang dianggap lebih aman. Banyak pengungsi masih membutuhkan bantuan seperti makanan, air bersih, selimut, serta layanan kesehatan yang memadai.

Secara geografis, bencana ini berdampak pada 52 kabupaten/kota. Kabupaten Agam di Sumatera Barat menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal tertinggi, sementara Aceh Utara mencatat jumlah pengungsi terbesar, mencapai lebih dari 300 ribu orang. Besarnya angka pengungsian ini dipengaruhi oleh kerusakan pemukiman dan meluasnya area terdampak banjir.

Proses evakuasi hingga saat ini masih berlangsung. Petugas terus mencoba membuka akses ke daerah-daerah yang terisolasi akibat jalanan tertutup material longsor. Kondisi infrastruktur juga masih belum pulih sepenuhnya. Listrik dan jaringan komunikasi di sejumlah wilayah masih belum stabil sehingga menghambat proses penyaluran bantuan yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Upaya pembersihan material bencana, pendataan ulang, serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi para pengungsi menjadi fokus utama pemerintah dan relawan. Situasi di lapangan menunjukkan bahwa proses pemulihan masih membutuhkan waktu panjang, mengingat luasnya wilayah terdampak dan banyaknya warga yang harus dibantu. Para petugas juga terus mengingatkan warga untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan yang bisa terjadi akibat kondisi cuaca yang belum sepenuhnya membaik.

Reporter: Eviani candran D.P


Sabtu, 29 November 2025

Aktivitas Meningkat, Semeru Naik ke Level Siaga

 


Gunung Semeru Kembali Erupsi, Ratusan Warga Dievakuasi, dan Status Siaga Ditingkatkan.

Yogyakarta – Gunung Semeru kembali mengalami erupsi yang cukup signifikan pada Jumat (21/11/2025), dengan memuntahkan kolom abu setinggi sekitar dua kilometer, serta memicu proses evakuasi besar-besaran bagi warga serta pendaki di kawasan rawan bencana.

Erupsi yang terjadi pada pagi hari tersebut mengejutkan masyarakat sekitar karena disertai luncuran awan panas yang menuju ke beberapa wilayah lereng. Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa, aktivitas vulkanik ini menyebabkan kepanikan dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lebih dari 900 warga dan pendaki berhasil dievakuasi ke titik aman. Tim SAR gabungan bersama relawan setempat sigap melakukan penyisiran di jalur pendakian dan permukiman sekitar radius bahaya.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyampaikan bahwa status Gunung Semeru kini berada pada Level Siaga. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pada radius delapan kilometer dari puncak, serta mewaspadai potensi aliran lahar panas di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Semeru.

Erupsi ini juga berdampak pada kualitas udara di beberapa titik permukiman. Awan abu yang terbawa angin menyebabkan jarak pandang berkurang dan memaksa sebagian warga menggunakan masker untuk beraktivitas. Petugas kesehatan telah disiagakan untuk mengantisipasi gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan.

Di sisi lain, pihak Bandara Internasional Juanda mengeluarkan peringatan kewaspadaan terhadap jalur penerbangan, mengingat penyebaran abu vulkanik dapat membahayakan keamanan penerbangan. Hingga laporan ini diterbitkan, belum ada pembatalan penerbangan. Tetapi proses pemantauan dilakukan secara berkala.

BNPB menegaskan bahwa seluruh proses penanganan darurat akan terus dilaksanakan hingga situasi dinyatakan kondusif. Pemerintah daerah bersama relawan juga menyiapkan posko bantuan guna memenuhi kebutuhan logistik warga terdampak.

Dengan meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Semeru, masyarakat diharapkan tetap waspada dan mengikuti seluruh arahan petugas di lapangan. Keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana ini.

Reporter: Khoirul Fadhli


Kamis, 27 November 2025

“Lebih dari Sekadar Pelatihan, Alam Mendidik Persaudaraan Menguatkan”


Yogyakarta – Pada tanggal 16–21 November 2025, Mapala “AGNY” melaksanakan kegiatan DIKSAR atau yang biasa disebut “Special Camp”. DIKSAR dalam kegiatan Mapala merupakan singkatan dari Pendidikan Dasar, yang merupakan tahap awal atau pelatihan dasar yang wajib diikuti calon anggota Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) ”AGNY” sebelum resmi dilantik menjadi anggota. Pada tahun ini, Mapala “AGNY” mengambil tema special camp “Dilatih oleh Alam, Dikuatkan oleh Persaudaraan”. ”Alasan pengambilan tema ini karena melihat antusiasme dan kekompakan calon anggota baru pada angkatan ini”, ujar Karolus Engfaldus Talrim selaku Ketua Panitia Special Camp XXIX.

Pada tahun ini, Mapala “AGNY” memilih lokasi yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang biasanya dilaksanakan di daerah Purworejo. Untuk tahun ini, pelaksanaan special camp dilaksanakan di Bukit Sikunci, Krajan, Pulosaren, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Persiapan special camp dimulai sejak akhir bulan Agustus karena banyak rangkaian latihan serta materi-materi yang akan diimplementasikan di lapangan nantinya. ”Saat survei lokasi tersebut, ditemukan beberapa ular di sekitar wilayah itu, sehingga dalam persiapannya kami menambahkan materi tentang terkait bagaimana cara menghadapi situasi jika peserta bertemu ular”, ujar Ika Wijayanti selaku Ketua Umum Mapala“AGNY”.

”Tujuan DIKSAR ini yaitu untuk melatih dan membentuk karakter yang tangguh, berjiwa petualang, serta belajar survive dan navigasi dalam bertahan hidup di hutan”, ujar Karolus Engfaldus Talrim. Ketua Umum Mapala AGNY, Ika Wijayanti juga menjelaskan dalam pelaksanaan special camp ini terdapat beberapa tantangan yang dihadapi, yaitu mulai dari persiapan karena panitia hanya terdiri atas beberapa orang sementara peserta cukup banyak sehingga memerlukan persiapan ekstra dengan keterbatasan sumber daya manusia. Beberapa kendala seperti kebingungan terkait alat-alat yang diperlukan karena jumlahnya banyak membuat panitia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk meminjam alat ke Mapala lain. Selain itu, kegiatan ini berlangsung bersamaan dengan kegiatan LDK di kampus sehingga sebagian anggota Mapala mengikuti kepanitiaan LDK, menyebabkan semakin sedikit anggota yang terlibat dalam pencarian kebutuhan kegiatan ini. Pada saat pelaksanaan, para peserta juga disambut hujan sehingga jalur menjadi licin dan menyebabkan beberapa peserta terpeleset. Hujan yang membasahi mereka juga menyebabkan barang bawaan menjadi lebih berat saat perjalanan pulang, 

Eva Nur Habibah, salah satu peserta Special Camp XXIX membagikan kesannya setelah mengikuti kegiatan ini. ”Pengalaman paling berkesan dari kegiatan ini adalah kekompakan kami, karena di sana kami saling membantu dan saling menjaga satu sama lain”. Kegiatan ini juga menjadi wadah pembelajaran, dan dalam kegiatan ini banyak ilmu yang dapat digunakan dalam kegiatan Mapala ke depannya.

Reporter: Aprillia Nanda Rahayu

 

 

 

 

Anak Rantau

Aku pergi dengan rindu yang belum sempat selesai,

meninggalkan pintu rumah yang perlahan menutup sunyi.

Di saku kecilku, kusimpan doa Ibu,

di langkahku kutahan gemetar harapan Ayah.


Di kota asing,

aku belajar memeluk sepi tanpa suara.

Kadang hanya dinding kamar

yang tahu beratnya air mata.

 

Ada hari-hari ketika aku ingin pulang,

menyerah pada jarak yang terasa tak berujung.

Namun, aku ingat,

ada mimpi yang menunggu untuk diwujudkan.

 

Namun, aku bertahan

sebab masa depan, tidak tumbuh dari menyerah.

Aku anak rantau,

yang menyulam mimpi dari jarak dan luka.


Dan suatu hari,

aku pulang membawa kemenangan,

serta nama keluarga

yang kutinggikan dengan perjuangan.

Karya: Umi Ida Jauhariyah

 

 

Selasa, 28 Oktober 2025

STIA “AAN” Yogyakarta Gelar Wisuda Ke-21 Program Sarjana dan Ke-42 Program Diploma Administrasi Publik

 

Sumber: Youtube STIA AAN Yogyakarta

Yogyakarta, 23 Oktober 2025 – Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) “AAN” Yogyakarta di bawah naungan Yayasan Notokusumo kembali menggelar Wisuda Program Sarjana dan Diploma Administrasi Publik Tahun Akademik 2024/2025. Acara berlangsung khidmat di Ballroom Hotel The Rich, Yogyakarta, pada Kamis (23/10/2025).

Acara wisuda ini dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta, jajaran pembina dan pengurus Yayasan Notokusumo, Ketua STIA “AAN”, para dosen, staf akademik, alumni, orang tua, serta tamu undangan. Suasana penuh kebanggaan dan haru mewarnai prosesi wisuda yang menjadi momen puncak perjalanan akademik para lulusan.

Dalam laporan akademik yang disampaikan oleh Wakil Ketua Bidang Akademik STIA “AAN” Yogyakarta, disebutkan bahwa jumlah lulusan tahun ini mencapai 119 orang, terdiri atas 87 lulusan Program Sarjana Administrasi Publik dan 32 lulusan Program Diploma Administrasi Publik.

Pada wisuda kali ini, lulusan terbaik Program Sarjana Administrasi Publik diraih oleh Saudari Raffinati, S.A.P., asal Tuban, Jawa Timur, dengan IPK 3,94. Sementara itu, lulusan terbaik Program Diploma Administrasi Publik diraih oleh Saudara Alvito Dwi Aji Prasetyo, A.Md.  A.P., asal Bantul, Yogyakarta, dengan IPK 3,90. Keduanya menerima penghargaan langsung dari pihak kampus sebagai bentuk apresiasi atas prestasi akademik yang gemilang.

Dalam sambutannya, Ketua STIA “AAN” Yogyakarta, Happy Susanto, S.Sos., M.A., M.P.A., menyampaikan rasa bangga atas keberhasilan para wisudawan yang telah menyelesaikan studinya dengan baik. Beliau menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras, ketekunan, serta dukungan dari keluarga dan para dosen.

Ketua STIA juga berpesan agar para lulusan tidak berhenti belajar dan terus mengembangkan diri di tengah tantangan era digital. “Kuasai teknologi, asah kemampuan kepemimpinan, dan jaga integritas. Ketiga hal ini menjadi kunci bagi Ananda semua untuk sukses dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya. Beliau menutup sambutannya dengan ucapan terima kasih kepada orang tua, dosen, dan seluruh pihak yang telah mendukung proses pendidikan hingga wisuda ini dapat terselenggara dengan baik.

Salah satu momen paling berkesan dalam acara Wisuda STIA “AAN” Yogyakarta tahun ini adalah sambutan dari wisudawati berprestasi sekaligus perwakilan mahasiswa, Raffinati, S.A.P., yang berhasil memukau seluruh hadirin melalui pidato penuh haru dan makna. Dalam pidatonya, ia menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta ucapan terima kasih kepada para dosen, staf, dan orang tua yang telah menjadi sumber kekuatan selama masa studi.

Raffinati menggambarkan perjuangan orang tua dengan kata-kata yang menyentuh, “Jika kehidupan adalah sebuah buku, maka setiap halamannya ditulis oleh doa ibu dan setiap cetakannya berasal dari keringat seorang ayah.” Ia menegaskan bahwa toga yang dikenakan bukan sekadar simbol kelulusan, melainkan tanda cinta dan pengorbanan yang tidak ternilai.

Menutup pidatonya, Raffinati mengajak rekan-rekannya untuk tidak berhenti belajar dan terus beradaptasi di tengah perubahan zaman. Ia menekankan bahwa menjadi sarjana bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal dari perjalanan pengabdian kepada masyarakat. “Dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga orang yang mau tumbuh,” ujarnya. Ia juga menyampaikan pesan inspiratif, “Lilin kecil tetap mampu memberi cahaya bagi lilin lainnya. Mencari ilmu tidak harus di ruang kelas, karena kehidupan pun adalah guru yang tak pernah berhenti mengajar.” Pidato tersebut mendapat sambutan hangat dan tepuk tangan meriah dari seluruh hadirin.

Dengan terselenggaranya Wisuda Ke-21 Program Sarjana dan Wisuda Ke-42 Program Diploma, STIA “AAN” Yogyakarta kembali menegaskan perannya sebagai institusi yang konsisten mencetak lulusan berkualitas, beretika, serta siap bersaing di dunia kerja.

Semoga seluruh lulusan STIA “AAN” Yogyakarta dapat terus berkarya, berkontribusi, dan menjadi kebanggaan bagi keluarga, almamater, serta bangsa Indonesia.


Reporter: Novita Fitriani


Suara Anak Muda, Suara Masa Depan

Di tanganmu, harapan negeri tercurahkan,

Langkahmu nyala bagi kebenaran.

Bukan sekadar suara yang diabaikan,

Tapi cahaya untuk melawan kebusukan.

 

Jangan biarkan nurani tertidur,

Ketika janji dijual murah.

Tegakkan hati, jangan mundur,

Meski arus dusta datang pasrah.

 

Korupsi bukan takdir bangsa,

Tapi luka yang harus diobati.

Anak muda, bangkit dan bersuara,

Jangan biarkan negeri mati.

 

Bukan hanya orasi di jalan,

Tapi aksi nyata dalam perbuatan.

Menjaga kejujuran dalam tantangan,

Menolak suap jadi kebiasaan.

 

Kini saatnya engkau bersuara,

Dengan pena, dengan karya,

Dengan cinta pada Indonesia,

Bersihkan jalan menuju cahaya.

 

Jangan tunggu waktu mendewasa,

Karena masa depan adalah milik kita.

Bersatulah, lawan korupsi yang meraja,

Dengan semangat yang membara.


Oleh: Ina Auliya

 Puisi Ada hari-hari yang tidak meminta dimengerti, hanya ingin dilewati tanpa kesimpulan. Aku belajar menghormatinya. Aku pernah per...