Kamis, 30 April 2026

“DLH Kota Yogyakarta Gelar Bersih Sungai Code, Mahasiswa STIA “AAN” Turut Berpartisipasi”

 


peserta kerja bakti membersihkan bantaran Sungai Code, Jumat (17/4/2026).

Yogyakarta – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta menggelar Kerja Bakti Gerakan Bersih Sungai Code pada Jumat (17/4/2026) sebagai upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pukul 07.00 WIB dengan lokasi apel di Lapangan Parkir Hotel Tentrem Yogyakarta.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menjaga kebersihan serta kelestarian Sungai Code yang menjadi salah satu aliran vital di Kota Yogyakarta. Area kegiatan meliputi sepanjang aliran Sungai Code, dimulai dari wilayah RW 08 Petinggen hingga Jembatan Sardjito.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai elemen, mulai dari pemerintah, TNI, mahasiswa, hingga masyarakat setempat. Mahasiswa STIA “AAN” Yogyakarta turut terlibat aktif dalam kegiatan ini. Kehadiran mereka bukan sekadar sebagai peserta, melainkan juga sebagai wujud nyata pengabdian kepada masyarakat serta implementasi nilai kepedulian terhadap lingkungan yang dipelajari di bangku perkuliahan.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, turut hadir dan terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kegiatan bersih sungai memiliki dua

tujuan utama yang saling berkaitan, yaitu menciptakan lingkungan yang bersih dan tertata serta sebagai langkah mitigasi bencana, khususnya banjir.


Peserta kerja bakti membersihkan Sungai Code.


“Jadi kegiatan ini bukan sekadar bersih-bersih, tapi bagian dari mitigasi bencana,” ujar Hasto. Ia juga menjelaskan bahwa sungai yang dipenuhi sampah dan hambatan berpotensi menyebabkan aliran air tersumbat, sehingga meningkatkan risiko meluap saat hujan deras. Hal ini menjadi perhatian serius, mengingat kawasan Sungai Code pernah mengalami curah hujan ekstrem hingga 80 mm/jam yang hampir membuat debit air melampaui batas tanggul.

Rangkaian kegiatan diawali dengan apel bersama, dilanjutkan dengan aksi pembersihan sampah di sepanjang aliran sungai. Para peserta, termasuk mahasiswa STIA “AAN”, tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Mereka bekerja sama mengangkat sampah, membersihkan bantaran sungai, serta memastikan aliran air tetap lancar.

Partisipasi mahasiswa dalam kegiatan ini bukan hanya memberikan kontribusi langsung bagi lingkungan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual. Mahasiswa dapat memahami secara langsung tentang pentingnya menjaga ekosistem serta membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi persoalan lingkungan.

DLH Kota Yogyakarta berharap kegiatan ini menjadi langkah berkelanjutan dalam menjaga kebersihan Sungai Code. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat diharapkan dapat terus diperkuat demi terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga Kota Yogyakarta.

Reporter: Alfina Dwi Aulia Latifa


 

Rumah dalam Langit

 

Sunyi…

Tak bersuara ia sama sekali,

Berbisik apalagi…

 

Dalam rengkuhnya kami hidup tak kekurangan,

Dalam genggamnya kami dijaga dua puluh empat jam.

Tidakkah ia merasa lelah,

Meski usia, siapalah yang mengira.

 

Tapi, tak sedikit yang kian menyakiti,

Hanya terhitung yang tahu balas budi.

Tubuhnya digores monster besar bergigi tajam,

Tubuhnya dikikir besi, pisau, dan sembilu tajam.

Terpaku, terantai…

Rambut hijaunya telah digunduli,

Berganti pasir, tanah, dan kerikil.

 

Ia sudah sering menangis,

Air matanya selalu membendung bak lautan.

Tapi, siapa yang peduli?

Tak ada yang mengaku salah,

Semua merasa benar dan hanya menganggap takdir alam.

 

Sampai kapan?

Sampai ia melepas kita dari rengkuhnya?

Sampai ia tak lagi mau menjadi rumah?

 

          Karya: Salwa Azzahra Muthi  

 

Juangku 

 

Nampak sudah buku-buku menggunung,

Mata sayu, sendu, langkah terasa limbung.

Menuntut ilmu memang tidaklah mudah,

Tapi siapa yang tak ingin segera sudah? 

Niat, doa di sepertiga malam,

 

Langkah demi langkah kupastikan terarah.

Namun, siapa yang tahu?

Juangku terkadang penuh ragu,

Anganku seolah terlalu ingin dirindu.

 

Apakah badai yang memiliki waktu,

Menentukan sampai mana juangku akan berakhir.

 

Aku terdiam tanpa suara,

Mengingat senyum indah yang telah pergi ke surga,

Mengingat ia yang doanya sampai kini melindungiku.

 

Aku harus bisa…

Aku mampu…

Untuk ibu, ayah, dan masa depanku.

 

          Karya: Salwa Azzahra Muthi 


Kamis, 16 April 2026

 

                                                        Senja di Balik Jendela Lama

 Karya oleh: Arini Zakina

Langit senja itu berwarna jingga, seakan matahari enggan menutup hari. Arga duduk di samping jendela kayu yang mulai lapuk, senja memperhatikan jalan kecil di depan rumahnya sembari menikmati angin yang membawa aroma tanah basah. Ia telah tinggal di rumah sederhana itu selama lima tahun bersama neneknya setelah kedua orang tuanya pergi merantau ke kota lain.

Meskipun menjalani kehidupan yang sederhana, Arga merasa rumah tersebut penuh dengan kehangatan dan kenangan. Namun, di balik suasana tenang itu, ada rasa rindu yang kerap muncul, terutama saat ia melihat senja yang mengingatkannya pada momen bersama kedua orang tuanya.

Suara nenek memanggilnya dari dapur, mengganggu lamunannya. Arga segera membantu menyiapkan makan malam sambil menyampaikan bahwa ia akan menghadapi ujian keesokan harinya. Nenek memberikan saran agar ia belajar dengan baik dan tidak menyia-nyiakan peluang yang ada. Pada malam itu, Arga belajar dengan serius di kamarnya. Sesekali, ia menatap keluar jendela, berusaha tetap termotivasi. Ia menyadari bahwa harapan nenek dan orang tuanya ada di tangannya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia mampu meraih masa depan yang lebih baik meskipun harus terpisah dari orang tua.

Hari ujian berlangsung dengan cepat. Arga merasa cukup optimis mengenai hasil yang telah ia kerjakan. Suatu sore, ketika ia kembali duduk di dekat jendela seperti biasanya, ia mendengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Dengan rasa ingin tahu, ia keluar dan sangat terkejut melihat kedua orang tuanya berada di sana. Tanpa ragu, Arga langsung memeluk mereka dengan penuh emosi. Air mata yang selama ini terpendam akhirnya mengalir. Orang tuanya menjelaskan bahwa mereka sengaja pulang untuk menemuinya. Nenek yang menyaksikan adegan tersebut hanya tersenyum bahagia melihat keluarganya bersatu kembali.

Malam hari itu terasa istimewa. Mereka menikmati makan malam bersama sambil berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Arga menceritakan rutinitasnya di desa, cerita tentang sekolahnya, dan perjuangannya menghadapi ujian. Ayahnya memberikan pujian atas usaha Arga, sementara ibunya menatapnya dengan penuh kasih. Di saat tersebut, Arga merasakan kebahagiaan yang sederhana namun sangat berharga. Ia menyadari bahwa kehadiran keluarga adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Keesokan harinya, Arga kembali duduk di dekat jendela, memandangi senja yang perlahan menghilang. Namun kali ini, ia tidak merasakan kesendirian. Senja itu terasa lebih hangat, seolah membawa pengharapan baru. Ia mulai memahami bahwa hidup tidak hanya tentang kepemilikan, melainkan tentang menghargai setiap momen yang ada. Rumah sederhana, kasih sayang dari nenek, dan kehadiran orang tuanya menjadi sumber kekuatan bagi dirinya untuk terus melanjutkan langkah. Dengan senyum kecil, Arga memandang langit yang mulai gelap dan berbisik dalam hati, mengucapkan rasa syukur atas semua yang dimilikinya.


Sabtu, 04 April 2026

 

Mahasiswa Sadar Kebijakan Publik

 

Burung terbang di pagi hari,

Hinggap sebentar di atas dahan,

Jangan hanya pintar sendiri,

Pahami juga arah kebijakan.

 

Ke pasar membeli buah pepaya,

Tak lupa membeli ikan teri,

Kebijakan publik harus dikawal semua,

Agar adil untuk seluruh negeri.

 

Jalan-jalan ke kota tua,

Melihat senja di tepi pantai,

Mahasiswa jangan hanya diam saja,

Berani kritis demi masa depan bangsa.

 

Oleh: Bukhari


 

FuncFact 

Karya : Rheza Fadhilah




 

BEM STIA “AAN” Yogyakarta Gelar Kajian Ramadan dan Buka Bersama


KEBERSAMAAN RAMADHAN: Suasana hangat saat civitas akademika STIA "AAN" Yogyakarta melakukan foto bersama usai kajian. (Dokumentasi: BEM STIA "AAN" Yogyakarta)

 

Yogyakarta, 28 Februari 2026 – Badan Eksekutif  Mahasiswa (BEM) STIA “AAN” Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan kajian Ramadan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama di Ruang 12 dan 13 Kampus STIA. Mengusung tema “Tebarkan Kebaikan, Raih Kebersamaan, dan Raih Keberkahan di Bulan Ramadan,” acara ini dihadiri oleh anggota BEM serta civitas akademika kampus, termasuk dosen dan karyawan STIA “AAN” Yogyakarta, dalam suasana penuh kebersamaan.

Kajian ini menghadirkan penceramah Dr. Suyanto, S.Ag., M.S.I., M.Pd. yang menyampaikan materi mengenai pentingnya memanfaatkan bulan Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas diri, memperbanyak amal kebaikan, serta menjaga hubungan baik dengan sesama. Ketua panitia menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih karena bulan Ramadan merupakan waktu yang tepat bagi mahasiswa untuk memperbaiki diri sekaligus mempererat kebersamaan dalam organisasi. “Ramadan merupakan momen yang tepat untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya. Peserta lainnya juga menilai bahwa kegiatan tersebut memberikan banyak manfaat.

Melalui kegiatan kajian dan buka puasa bersama ini, diharapkan kebersamaan antaranggota BEM dan civitas akademika STIA “AAN” Yogyakarta semakin kuat. Semangat menebarkan kebaikan pun diharapkan tidak berhenti di bulan Ramadan, melainkan terus terjaga dalam setiap kegiatan organisasi ke depan.

 

Reporter: Naila Nur Arifah


Review Novel, Penulis: Syta Syana Iscara

 

Review Novel Tragedi Pedang Keadilan (Samayou Yaiba / さまよう刃) karya Keigo Higashino


Sumber gambar: Google Images

 

Novel ini menceritakan perjalanan pembalasan dendam seorang ayah bernama Nagamine Shigeki. Ia adalah ayah dari Nagamine Ema yang menjadi korban pelecehan seksual sekaligus pembunuhan. Ema saat itu pergi menonton festival musim panas, tetapi ia tidak pernah pulang hingga mayatnya ditemukan di sungai. Di tengah proses penyelidikan, Nagamine Shigeki menerima telepon dari seseorang yang tidak dikenalnya. Orang tersebut memberikan alamat serta informasi mengenai para pelaku. 

Setelah mengetahui alamat tersebut, Shigeki menyusup ke apartemen sesuai dengan informasi dari penelepon tak dikenal itu. Di sana, ia menemukan beberapa tumpukan tape recorder yang berisi rekaman korban-korban pembunuhan, termasuk anaknya yang dieksekusi dengan cara tak lazim. Duka dan amarah Shigeki memuncak setelah melihat rekaman yang menggambarkan penderitaan anak semata wayangnya. Peristiwa tragis tersebut menyulut emosi dan dendam dalam diri Shigeki. Ia bahkan tidak segan mengadili pelaku dengan tangannya sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh fakta bahwa para pelaku masih di bawah umur. Sesuai dengan ketentuan hukum di Jepang, pelaku anak di bawah umur hukumannya jauh lebih ringan. Oleh karena itu, Shigeki bersikeras menemukan pelaku sebelum polisi menemukannya. Ia merasa tidak adil jika pelaku mendapatkan hukuman yang ringan.

Novel ini merupakan novel misteri yang sangat realistis dalam aspek kasusnya, hukum yang berjalan, serta dampak psikologis bagi korban dan pelaku. Dibandingkan dengan beberapa novel karya Keigo Higashino lainnya, novel ini lebih mudah dibaca dan bahasanya tidak terlalu berat. Hal ini karena beberapa novel terjemahan terkadang memiliki perbedaan makna yang sulit dipahami.

Dalam buku ini, saya sangat mengapresiasi bagaimana penulis menonjolkan dampak dari meninggalnya Ema yang mampu mengubah sang ayah menjadi sedemikian rupa. Suasana yang digambarkan juga begitu menegangkan, seolah-olah pembaca ikut terlibat dalam proses pengejaran para pelaku. Selain itu, pembaca juga diajak melihat berbagai sudut pandang mengenai hukum pidana anak yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.


 Penulis: Syta Syana Iscara





 

Mahasiswa Belajar Membaca Arah

 

 Di bawah lampu ruang baca yang redup,

 kami menatap lembar kebijakan dengan tekun,

 mencari makna di balik setiap huruf, 

 yang menentukan masa depan kampung dan kebun.


 Kami belajar bahwa satu keputusan,

 bisa mengubah harga di pasar,

 bisa membuat petani tersenyum syukur, 

 atau justru membuat hidup semakin sukar. 


 Mahasiswa tidak boleh buta arah, 

 tidak cukup hanya tahu teori dan definisi,

 kami harus berani bertanya dengan gagah,

 ketika kebijakan kehilangan empati dan nurani.


 Mahasiswa bukan hanya penghafal teori, 

 bukan sekadar pemburu nilai tinggi, 

 kami adalah generasi yang peduli, 

 pada masa depan bangsa dan demokrasi. 


 Karya: Anisa Nurrokhimah 

 

Di Balik Lembar Peraturan

karya: Novita Fitriani

Di sudut kantin Fakultas Ilmu Sosial yang ramai oleh tawa dan suara peralatan makan, Aris memilih duduk agak menjauh. Bukan karena ia sendiri, tetapi karena pikirannya sedang tenggelam pada layar laptopnya. Ia tidak membuka media sosial atau berita viral, melainkan membaca draf Peraturan Daerah tentang tata ruang kota.

Keningnya sedikit berkerut saat menelusuri pasal demi pasal, mencoba memahami makna di balik bahasa hukum yang rumit.

“Ris, kamu serius baca itu?” tanya Bimo sambil duduk di depannya dan menyodorkan kopi.

“Iya,” jawab Aris singkat.

Bimo menghela napas. “Buat apa? Itu kan sudah disahkan. Nggak bakal berubah juga.” Aris menutup laptopnya perlahan.

“Justru karena sudah disahkan, Bim. Dari sini kelihatan kalau zonasi baru bisa menggusur komunitas kreatif di pinggiran kota studio kecil, ruang seni, sampai UMKM.”

Bimo terdiam. Selama ini ia hanya tahu isu itu dari media sosial. “Kamu tahu dari mana?”

Aris tersenyum tipis. “Dari membaca, bukan sekadar scroll.”

Hari-hari berikutnya, Aris mulai mengajak beberapa temannya berdiskusi. Awalnya hanya obrolan santai setelah kelas, tapi lama-kelamaan berkembang menjadi kelompok belajar. Mereka mencetak dokumen, menandai bagian penting, dan membagi tugas membaca.

Kini, mereka tidak hanya membahas apa yang salah, tetapi juga mengapa hal itu terjadi dan apa yang bisa dilakukan.

“Ada celah di sini,” ujar Aris suatu sore.

“Pasal ini belum sinkron. Bisa jadi bahan judicial review atau masuk lewat Perwali.” Diskusi mereka berubah arah dari keluhan menjadi strategi.

Di perpustakaan, mereka mulai menyusun policy brief. Prosesnya tidak mudah. Mereka harus mencari data, membandingkan kebijakan kota lain, dan merumuskan solusi yang masuk akal.

Beberapa kali mereka merasa buntu.

“Ini berat banget, kita cuma mahasiswa,” kata salah satu dari mereka. Aris menjawab pelan, “Justru karena kita mahasiswa. Kita punya waktu belajar dan belum terikat kepentingan.” Kalimat itu cukup untuk membuat mereka bertahan.

Saat hari audiensi tiba, mereka datang dengan pakaian rapi dan dokumen di tangan bukan spanduk. Awalnya dipandang biasa saja, tetapi suasana berubah saat Aris mulai berbicara. Ia menjelaskan dampak ekonomi, potensi hilangnya pekerjaan, hingga contoh kebijakan kota lain dengan tenang dan jelas.

Kepala dinas yang mendengar mulai mencatat.

“Kalian berbeda,” katanya. “Biasanya datang hanya untuk protes. Kalian datang dengan solusi.”

Malamnya, Aris kembali ke perpustakaan. Ia menatap dokumen yang dulu terasa berat, kini terasa bermakna. Ia sadar, melek kebijakan bukan soal terlihat pintar, tapi tentang kepedulian dan keberanian untuk terlibat.

Ia tersenyum pelan. Besok masih ada skripsi dan deadline, tapi ia merasa lebih tenang. Ia bukan lagi sekadar mahasiswa yang mengejar gelar, melainkan warga yang tahu bagaimana menggunakan suaranya.

Di luar, kota tetap berjalan seperti biasa. Namun dalam dirinya, arah telah berubah seperti kompas yang akhirnya menemukan tujuan.

Pesan Moral:

Melek kebijakan publik bukan sekadar mengikuti berita, tetapi memahami isi, dampak, serta cara berpartisipasi dengan cerdas. Kritik yang bermakna lahir dari pemahaman, dan perubahan sering dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

 

              Retak yang Menolak Hancur   Di pundaknya merayap letih yang tak kunjung usai, Memikul langit yang ia tahu, barangkali terlal...