Minggu, 05 Juli 2026

 

Menggali Potensi di Momen Dies Natalis, Dua Mahasiswi STIA AAN Yogyakarta Bagikan Kunci Sukses


 

Sumber: Dokumentasi LPM Super Jimo


Yogyakarta, 16 Juni 2026 – Perayaan Dies Natalis ke-47 Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi AAN Yogyakarta tidak hanya menjadi momentum refleksi bagi institusi, tetapi juga menjadi Ajang apresiasi bagi mahasiswa yang memiliki bakat dan prestasi luar biasa. Dalam rangkaian acara tersebut, dua mahasiswi berprestasi, Khoirine Moriesta Nuraini dan Vrisca Nabatiola Hindriani, berkesempatan membagikan kisah perjuangan serta kiat sukses mereka dalam menggali potensi diri di tengah dinamika perkuliahan.

Mahasiswi berprestasi, Khoirine Moriesta atau yang akrab disapa Rista, menjelaskan bahwa konsistensi dalam berproses merupakan kunci utama bagi mahasiswa untuk berkembang. Menurutnya, langkah awal yang paling krusial dalam menggali potensi diri adalah mengenali minat pribadi sejak dini. “Tips dari saya, yang pertama, kita harus mencari tahu dulu apa kesukaan kalian, lalu fokus pada bidang tersebut. Ketika teman-teman sudah berani mencoba, teruslah mencoba tanpa memikirkan hasilnya terlebih dahulu,” ujarnya penuh semangat. Ia menambahkan bahwa hasil akhir maupun capaian prestasi yang diraih nantinya hanyalah bonus dari proses belajar. Hal utama yang harus ditanamkan oleh setiap mahasiswa adalah keberanian untuk memulai serta komitmen untuk mengoptimalkan potensi diri semaksimal mungkin.

Senada dengan prinsip Rista mengenai keberanian untuk mencoba, cerita inspiratif lain datang dari Vrisca Nabatiola Hindriani, mahasiswi program studi S1 Administrasi Publik. Selain berprestasi di bidang akademik, Vrisca turut memeriahkan acara dengan menampilkan kemampuan olah vokalnya yang memukau lewat olah vokal dalam rangkaian Dies Natalis tersebut. Vrisca menceritakan bahwa kecintaannya pada dunia tarik suara bermula dari sebuah momen tidak terduga saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Saat itu, ia memberanikan diri mengikuti lomba menyanyi untuk pertama kalinya meskipun sempat diliputi rasa tidak percaya diri. “Waktu itu aku benar-benar tidak yakin, bahkan mungkin suaraku saat itu fals. Namun, ternyata di momen itu saya malah berhasil meraih juara pertama dan mewakili kabupaten untuk maju ke tingkat provinsi,” kenangnya.

Pengalaman berharga tersebut mendorong Vrisca untuk menyadari bahwa menyanyi merupakan passion yang perlu terus dikembangkan. Sejak saat itu, ia terus berkomitmen untuk mendalami dunia seni musik hingga mampu berprestasi di tingkat perguruan tinggi. Melalui kisah inspiratif Rista dan Vrisca, seluruh mahasiswa, khususnya di lingkungan STIA AAN Yogyakarta, diharapkan dapat termotivasi untuk terus menggali potensi diri. Transformasi dan prestasi mahasiswa diharapkan tidak hanya tercermin dalam penguasaan akademik, tetapi juga berani keluar dari zona nyaman demi meraih masa depan yang gemilang.

 

Reporter: Annisa Ramadhani



 

 

Peran Kampung Literasi Wijaya Kusuma dalam Mengembangkan Literasi, Seni, dan Pemberdayaan Masyarakat



Sumber: Dokumentasi Tim Liputan STIA AAN Yogyakarta, 2026.

 

Yogyakarta, 17 Juni 2026 — Kampung Literasi Wijaya Kusuma yang berlokasi di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, menjadi salah satu ruang belajar masyarakat yang berperan dalam mengembangkan literasi, seni, dan pemberdayaan masyarakat. Berawal dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang didirikan pada 2009, lembaga ini berkembang menjadi Kampung Literasi Wijaya Kusuma setelah memperoleh penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2018.

Pengelola Kampung Literasi Wijaya Kusuma, Hastuti, menjelaskan bahwa kampung literasi hadir sebagai wadah pengembangan enam literasi dasar, yaitu literasi baca tulis, numerasi, finansial, sains dan teknologi, budaya, serta keluarga. Program tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat secara aktif.

Salah satu program yang dijalankan adalah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Wijaya Kusuma yang dapat diikuti secara gratis. Kegiatan ini didukung dana Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik, termasuk penyediaan alat tulis. Selain itu, terdapat Sekolah Keterampilan Wijaya Kusuma yang menjadi sarana pengembangan keterampilan dan literasi finansial masyarakat.

Dalam bidang seni budaya, Kampung Literasi Wijaya Kusuma mengelola Sanggar Wijaya Kusuma yang menyelenggarakan kelas tari dan karawitan. Kelas tari dibagi menjadi kategori anak-anak serta remaja hingga dewasa. Latihan rutin dilaksanakan setiap Sabtu pukul 15.30–17.00 WIB untuk kelas kecil dan Minggu pukul 14.30–16.00 WIB untuk kelas besar.

Pelatih tari, Retno Vitrianingsih, S.Sn., mengungkapkan bahwa tantangan yang sering dihadapi adalah ketidakkonsistenan kehadiran peserta. “Terkadang anak-anak tidak rutin mengikuti latihan. Namun, yang bertahan biasanya memang memiliki keinginan kuat untuk belajar dan berkembang,” ujarnya. Menurut Retno, tujuan utama pendirian sanggar tari adalah untuk melestarikan budaya daerah atau nguri-uri kabudayan.

Keberadaan sanggar tidak hanya menjadi sarana pembelajaran seni, tetapi juga membuka peluang bagi peserta untuk tampil dalam berbagai kegiatan. Hastuti menjelaskan bahwa kemampuan peserta yang semakin berkembang membuat mereka sering mendapat undangan tampil dalam acara tingkat kabupaten. “Karena kemampuan anak-anak sudah bagus, mereka diberi kesempatan tampil di berbagai acara kabupaten. Terakhir, mereka tampil di rumah dinas bupati dan kegiatan di Candi Loka,” ujarnya.

Manfaat tersebut juga dirasakan oleh para orang tua peserta. Ibu Rolis, orang tua peserta kelas besar, mengungkapkan rasa syukurnya atas keberadaan sanggar tari. “Kami pernah mengisi acara syawalan bersama Sri Sultan. Namun, itu bukan tujuan utama kami. Sebagai orang tua, kami sangat berterima kasih karena bakat dan hobi anak-anak dapat berkembang melalui kegiatan yang positif,” tuturnya.

Terkait pendanaan kegiatan, Ibu Nur Atika, orang tua peserta kelas kecil, menjelaskan bahwa kegiatan pentas yang berasal dari undangan biasanya telah memiliki anggaran dari penyelenggara. Namun, pencairan dana tidak selalu dilakukan sebelum kegiatan berlangsung. Sementara itu, untuk kegiatan mandiri seperti perlombaan, biaya keikutsertaan umumnya diupayakan secara swadaya oleh orang tua. Hal tersebut juga diamini oleh Ibu Ari yang mendampingi peserta kelas kecil dan kelas besar.

Melalui berbagai program yang dijalankan, Kampung Literasi Wijaya Kusuma membuktikan perannya tidak hanya sebagai pusat pengembangan literasi, tetapi juga sebagai wadah pelestarian seni budaya dan pemberdayaan masyarakat. Hastuti berharap kampung literasi ini dapat memiliki kostum tari sendiri sehingga tidak perlu lagi menyewa saat mengikuti berbagai pertunjukan. Dengan semangat kolaborasi dan pembinaan yang berkelanjutan, Kampung Literasi Wijaya Kusuma terus berupaya menciptakan ruang belajar yang mendukung pengembangan potensi generasi muda sekaligus memperkuat kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Reporter: Tim Liputan STIA AAN Yogyakarta

 

  Menggali Potensi di Momen Dies Natalis, Dua Mahasiswi STIA AAN Yogyakarta Bagikan Kunci Sukses   Sumber: Dokumentasi LPM Super Jimo Yogy...