Jumat, 22 Mei 2026

 

Milad ke-24 BEM STIA AAN Yogyakarta: Dari Solidaritas Menuju Aksi, BEM Tegaskan Peran sebagai Katalis Perubahan



Sumber: dokumentasi panitia


Yogyakarta, 18 Mei 2026—Semangat kebersamaan, tawa, kerja keras, hingga dinamika persiapan menjadi warna tersendiri dalam perayaan Milad ke-24 BEM STIA “AAN” Yogyakarta yang sukses digelar pada Sabtu, 16 Mei 2026. Mengusung tema “Caturviṁśati Warsa BEM: Menjadi Katalis Perubahan di Tengah Dinamika Mahasiswa”, peringatan tahun ini tidak hanya menjadi ajang selebrasi, tetapi juga momentum refleksi atas perjalanan organisasi yang telah tumbuh selama lebih dari dua dekade.

Bagi Presiden Mahasiswa STIA “AAN” Yogyakarta, Ilham Ramadhan, Milad tahun ini membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar perayaan ulang tahun organisasi. Menurutnya, BEM dibangun bukan hanya oleh program kerja dan agenda formal, tetapi oleh solidaritas, kerja sama, serta semangat mahasiswa yang terus bergerak bersama.

“Sejauh apa pun BEM berkembang, semuanya tetap dibangun dari rasa solidaritas, kerja sama, dan semangat teman-teman mahasiswa untuk terus bergerak bersama,” ujar Ilham Ramadhan.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan organisasi mahasiswa tidak dapat dipisahkan dari peran aktif mahasiswa itu sendiri. Hal ini karena BEM hadir sebagai ruang bersama bagi mahasiswa untuk berkontribusi menyampaikan aspirasi, hingga mengambil bagian dalam proses perubahan di kampus.

“Ketika mahasiswa aktif berpartisipasi, memberikan masukan, atau ikut terlibat dalam kegiatan, program-program BEM akan menjadi lebih hidup dan manfaatnya akan terasa lebih nyata,” tambahnya.

Di balik kemeriahan Milad, terdapat proses panjang yang penuh tantangan. Ketua Panitia, Rina Dwi Rahayu, mengungkapkan bahwa persiapan acara sempat menghadapi berbagai hambatan, mulai dari kurangnya partisipasi sebagian anggota panitia hingga miskomunikasi yang memperlambat koordinasi antartim.

Namun, situasi tersebut tidak mematahkan semangat panitia. Justru melalui berbagai kendala itulah rasa kebersamaan semakin terbangun. “Kolaborasi dilakukan lewat komunikasi yang intens, koordinasi rutin, serta saling membantu antardivisi. Setiap panitia memiliki tanggung jawab masing-masing, tetapi kami tetap berusaha berjalan bersama demi kelancaran acara,” jelas Rina Dwi Rahayu.

Menurutnya, salah satu pengalaman paling berkesan selama persiapan terjadi saat proses dekorasi dan gladi bersih menjelang hari pelaksanaan. Momen tersebut menjadi ruang bagi panitia untuk belajar bekerja dalam tekanan sekaligus mempererat kekompakan satu sama lain.

Antusiasme anggota BEM terhadap Milad ke-24 ini pun mendapat respons positif. Kehadiran dan partisipasi aktif anggota, baik dalam perlombaan maupun puncak acara, menjadikan perayaan berlangsung meriah, hangat, dan penuh semangat kebersamaan.

Lebih dari sekadar perayaan organisasi, Milad ini juga menjadi pengingat bahwa dunia organisasi bukan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan, melainkan tentang belajar, bertumbuh, dan membangun relasi yang bermakna.

Sebagai Presiden Mahasiswa, Ilham Ramadhan berharap BEM STIA “AAN” Yogyakarta ke depan mampu terus menjadi organisasi yang aktif, adaptif, dan terbuka terhadap suara mahasiswa.

“Semoga teman-teman BEM tetap solid, tetap memiliki semangat untuk belajar dan berkembang, serta jangan mudah lelah dalam berproses. Apa yang dijalani di organisasi hari ini akan menjadi pengalaman berharga ke depannya,” tuturnya.

Senada dengan itu, Rina Dwi Rahayu berharap Milad ke-24 mampu meninggalkan dampak positif, tidak hanya bagi internal BEM, tetapi juga bagi lingkungan kampus secara lebih luas.

Dengan semangat “Menjadi Katalis Perubahan di Tengah Dinamika Mahasiswa”, Milad ke-24 BEM STIA “AAN” Yogyakarta menjadi bukti bahwa di tengah tantangan organisasi, solidaritas dan kolaborasi tetap menjadi energi utama dalam melahirkan perubahan.

 

Reporter: Novita Fitriani





 

Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri, Tradisi Penuh Makna yang Terus Dijaga Warga Parangtritis

 

Foto: Instagram/@dinparbantul

Bantul, 17 Mei 2026—Ratusan warga Dusun Mancingan, Parangtritis, Kretek, Bantul, menggelar upacara adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri pada Selasa, 12 Mei 2026, di kawasan Pantai Parangtritis hingga Pantai Parangkusumo. Tradisi tahunan tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas panen raya sekaligus doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan warga. 

Sejak siang hari, peserta kirab mulai bergerak dari kawasan Joglo Parangtritis menuju Pantai Parangkusumo dengan membawa berbagai perlengkapan adat, hasil bumi, sesajen, serta simbol budaya. Iring-iringan warga yang mengenakan beragam busana tradisional berjalan menyusuri bibir pantai dalam suasana budaya yang kental. 

Tradisi ini rutin dilaksanakan masyarakat Mancingan setelah musim panen raya. Bagi warga, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Tuhan atas limpahan rezeki dari tanah dan laut, sekaligus memohon kehidupan yang aman, tenteram, dan berkecukupan pada masa mendatang. 

Berbagai unsur dalam upacara mengandung filosofi tersendiri. Persembahan hasil pertanian yang dibawa dalam prosesi melambangkan penghormatan manusia terhadap alam sebagai sumber penghidupan. Kehadiran simbol Dewi Sri juga mempertegas harapan masyarakat akan keberlanjutan kesuburan lahan pertanian serta kesejahteraan warga.

Setelah menempuh perjalanan menuju kawasan Parangkusumo, seluruh sesajen didoakan bersama sebelum dilaksanakan prosesi pelarungan ke laut. Momen tersebut menjadi puncak ritual yang sarat makna spiritual dan kebersamaan. 

Lebih dari sekadar tradisi adat, Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri juga mencerminkan kuatnya solidaritas masyarakat Mancingan. Persiapan kegiatan melibatkan banyak warga melalui berbagai tahapan, seperti musyawaraj kampung, doa bersama, hingga gotong royong dalam menyiapkan kebutuhan upacara. Nilai kebersamaan dan saling membantu masih menjadi fondasi utama yang dipertahankan hingga kini.

 Pelaksanaan ritual ini juga menarik perhatian masyarakat luas. Warga sekitar maupun pengunjung tampak memadati area prosesi untuk menyaksikan jalannya kirab hingga pelarungan sesaji. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki potensi untuk memperkuat identitas kawasan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. 

Bagi masyarakat, menjaga Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri berarti menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai leluhur yang telah diwariskan lintas generasi. Tradisi yang terus berlangsung selama puluhan tahun ini menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Reporter: Novita Fitriani 


  Milad ke-24 BEM STIA AAN Yogyakarta: Dari Solidaritas Menuju Aksi, BEM Tegaskan Peran sebagai Katalis Perubahan Sumber: dokumentasi panit...