Tantang Adrenalin di Goa Kayu Ayu, Angkatan Arunaka Dharma Mapala AGNY Perdalam Teknik Caving
Sumber: Dokumentasi Mapala AGNY
Yogyakarta, 1 Mei 2026 — Seluruh anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala
AGNY) telah menyelesaikan kegiatan penelusuran gua (caving) yang
berlangsung selama tiga hari di Goa Kayu Ayu. Kegiatan yang dilaksanakan pada
24 hingga 26 April 2026 ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan agenda
krusial untuk mengasah keterampilan teknis dan memperkuat mental para anggota.
Bagi angkatan Arunaka Dharma, kegiatan ini menjadi proses pembelajaran
langsung yang sangat berharga. Tujuan utamanya adalah melatih teknik
penelusuran gua, membangun kerja sama tim yang solid, serta meningkatkan
keberanian di medan lapangan yang sesungguhnya. Gelapnya perut bumi Goa Kayu
Ayu tidak menyurutkan semangat mereka. Alih-alih gentar, para anggota justru
antusias bergelut dengan lumpur demi menuntaskan rasa penasaran.
Menembus batas di tengah berbagai keterbatasan, perjalanan ini bukannya
tanpa tantangan. Minimnya kadar oksigen di dalam gua menjadi ujian fisik
tersendiri bagi para peserta. Selain itu, keterbatasan peralatan operasional
memaksa tim untuk berkolaborasi dengan meminjam alat dari organisasi pecinta alam
(OPA) lain. Namun, keterbatasan ini justru menjadi bukti nyata solidaritas di kalangan
pecinta alam.
Beberapa kendala teknis pun sempat muncul di lapangan. Anggota muda bernama
Azizah mengungkapkan pengalamannya terjebak oleh capstan yang terlalu
kesat dengan tali karmantel, yang cukup menguras tenaga. Senada dengan
itu, Ferdian menyebutkan bahwa alat descender terkadang mengalami kemacetan
saat digunakan untuk turun. Ali juga menambahkan bahwa ketelitian terhadap
alat, seperti memastikan carabiner terkunci dengan benar dan tali tidak
terbelit, menjadi kunci keselamatan utama.
Keamanan tetap menjadi prioritas utama. Meski menghadapi berbagai tantangan
fisik dan alat, Mapala AGNY tetap mengedepankan standar keselamatan yang ketat.
Seluruh proses penelusuran dipastikan berjalan sesuai dengan standard operating
procedures (SOP) caving yang berlaku guna meminimalkan risiko
kecelakaan.
“Rasanya seru, senang, dan rasa penasaran kami terhadap gua sudah
terbayarkan,” ujar Ferdian. Baginya, rasa lelah menembus gua yang cukup dalam
terobati dengan melihat keindahan ornamen alami yang telah terbentuk selama
bertahun-tahun di dalam Goa Kayu Ayu.
Meskipun terdapat beberapa penyesuaian jadwal dari rencana awal (rundown)
dan tidak semua anggota baru hadir,
secara keseluruhan kegiatan ini dinilai berjalan dengan baik. Ke depan, para
anggota berharap kegiatan serupa dapat terus ditingkatkan kualitasnya. Harapan
besar juga disematkan agar seluruh anggota baru dapat berpartisipasi secara
lengkap dalam agenda selanjutnya untuk membangun chemistry yang lebih
kuat serta rutin berlatih agar semakin mahir dalam penguasaan peralatan pecinta
alam.
Pada akhirnya, penelusuran di Goa Kayu Ayu ini bukan sekadar tentang
seberapa dalam mereka mampu turun ke perut bumi, melainkan tentang seberapa
kuat mereka saling menjaga dalam kegelapan. Meski harus pulang dengan pakaian
yang penuh lumpur, angkatan Arunaka Dharma membawa pulang pengalaman tak
ternilai dan mental yang jauh lebih tangguh dari sebelumnya.
Reporter: Novita Fitriani

