Selasa, 24 Maret 2026

 

Linger Vellichor

In the Quiet of Fleeting Echoes

We were twin flames once,

or so they said.

 

Your name still rests

at the top of my screen,

but the cold blue light

keeps me fragile.

 

In winter,

we were good to each other.

I grow wistful for your presence.

I ache in quiet limerence.

 

We were happy once.

I remember that.

 

I miss who we were.

I liked how we felt

more than I meant to.

 

And I sit in solitude,

day by day, growing ephemeral.

Some days, I still reach for you.

I’m sorry I held

on to something unnamed.

 

Karya: Mahda Okta Azzahra

Senin, 16 Maret 2026

 Puisi


Ada hari-hari
yang tidak meminta dimengerti,
hanya ingin dilewati tanpa kesimpulan.
Aku belajar menghormatinya.

Aku pernah percaya
segala sesuatu harus segera diberi nama.
Nyatanya, beberapa hal justru bertahan
karena dibiarkan terbuka.

Waktu tidak mengajariku apa-apa
selain cara berdiri
ketika sesuatu pergi
dan tidak kembali untuk dijelaskan.

Aku berjalan tanpa rencana besar.
Kadang berhenti terlalu lama,
kadang melangkah hanya karena
diam terasa seperti menunda hidup.

Tidak semua luka ingin ditutup.
Sebagian hanya ingin diakui
pernah ada,
dan masih tinggal di sini.

Aku tidak menyebut diriku kuat.
Aku hanya belum selesai
dengan apa yang sedang kuhadapi,
dan memilih tidak berhenti di tengahnya.

Jika hidup hari ini terasa biasa saja,
aku menerimanya tanpa perlawanan.
Sebab yang sedang berlangsung
tak selalu perlu tampak utuh.


Karya: Salsa Nabila Suwarno


Jumat, 13 Maret 2026

 

LPM Super JIMO STIA ‘AAN’ Yogyakarta Dorong Mahasiswa Menulis Kritis dan Berintegritas melalui kegitan (Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar) PJTD

 

Yogyakarta, 10 Maret 2026 – Kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasar (PJTD) kembali diselenggarakan pada 13 Februari 2026 di Kampus STIA “AAN” Yogyakarta dengan mengusung tema “Pena Kritis Mengawal Transparansi Publik melalui Jurnalistik Berintegritas.” Tema ini mengandung makna bahwa mahasiswa yang tergabung dalam organisasi pers memiliki peran penting dalam mengawal keterbukaan informasi publik melalui karya jurnalistik yang berintegritas, kritis, dan objektif. Acara yang menghadirkan narasumber Shinta Maharani, seorang pengurus Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, ini berlangsung dengan sangat baik.

Kegiatan ini diikuti oleh anggota LPM Super JIMO, delegasi BEM, dan Mapala dengan antusiasme yang sangat tinggi dan positif. Hal tersebut terlihat dari kehadiran peserta yang lengkap, partisipasi aktif dalam sesi diskusi bersama narasumber, serta semangat dalam mengikuti pemaparan materi hingga praktik pembuatan berita dan presentasi hasil penulisan berita. Peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga langsung mempraktikkan teknik penulisan berita yang baik dan benar, kemudian memperoleh koreksi serta masukan langsung dari narasumber. Proses ini memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam bagi para anggota pers mahasiswa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama, dilanjutkan dengan pembacaan susunan acara serta sambutan dari Ketua Panitia, Pimpinan Umum LPM Super JIMO, dan Ketua STIA “AAN” Yogyakarta. Setelah itu, kegiatan inti berupa pemaparan materi jurnalistik oleh narasumber kak Shinta Maharani dan praktik penulisan berita bersama peserta.

Dalam proses persiapan, Ade mengungkapkan bahwa panitia telah melakukan berbagai tahapan penting. “Kami sebagai panitia memulai persiapan dari penentuan konsep dan tujuan acara, penyusunan anggaran, pembuatan proposal, pengiriman undangan, hingga menyiapkan konsumsi dan perlengkapan teknis sebelum pelaksanaan kegiatan pada hari H,” ujarnya.

Sebagai Ketua Panitia PJTD, Ade merasa sangat bersyukur dan bangga karena kegiatan PJTD dapat terlaksana dengan baik, lancar, dan sesuai rencana. “Kerja sama, kekompakan, serta tanggung jawab seluruh panitia dan peserta menjadi kunci utama keberhasilan kegiatan ini,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan PJTD pada tahun-tahun selanjutnya mampu memberikan pengalaman, pengetahuan, serta pembelajaran organisasi pers yang bermanfaat dan berkelanjutan bagi seluruh peserta. Pena yang kritis bukan sekadar alat untuk menulis, tetapi juga menjadi simbol keberanian untuk turun ke lapangan, menyampaikan fakta, serta menggali informasi yang berkembang di tengah masyarakat.

 

Reporter: Reni Pebriana Napitu

Solidaritas Digital Lintas Negara Menguat, Warganet Diminta Lebih Bijak Berkomentar


Ilustrasi aktivitas warganet dalam percakapan lintas negara di media sosial. (Foto: Camilo Jimenez/Unsplash)

 

Yogyakarta, 24 Februari 2026– Diskusi di media sosial dalam beberapa hari terakhir kembali menyoroti kolaborasi lintas negara di ruang digital. Respons warganet Indonesia dalam berinteraksi dengan warganet Korea dan sejumlah negara Asia Tenggara menunjukkan bahwa dukungan kolektif dapat berkembang dengan cepat, tetapi juga menuntut kedewasaan dalam berkomunikasi.

Salah satu mahasiswa yang diwawancarai pekan ini mengatakan bahwa pada awalnya warganet Indonesia termotivasi untuk berpartisipasi karena rasa solidaritas. “Pada awalnya ini adalah bentuk solidaritas karena warganet Korea mulai menyerang negara lain yang tidak seharusnya terlibat. Menurut saya, Malaysia hanya menegur karena aturan resmi melarang membawa kamera profesional,” ujarnya.

Menurut mahasiswa tersebut, munculnya dukungan tersebut didukung oleh rasa kebersamaan regional dan kedekatan antarnegara di kawasan Asia Tenggara. Mengekspresikan solidaritas menjadi salah satu cara menunjukkan empati terhadap negara yang dianggap berada di posisi yang benar. 

Namun, ruang digital tidak selalu stabil. Intensitas percakapan meningkat seiring bertambahnya keterlibatan warganet dari berbagai negara. Dalam situasi yang serba cepat, tanggapan yang awalnya empatik dapat berubah menjadi emosional. “Seiring berjalannya waktu, persoalan ini berubah menjadi emosional karena negara lain di Asia Tenggara mulai menyerang warganet Korea dan kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengakibatkan perpecahan antarnegara,” tambahnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa solidaritas digital memiliki batas yang tipis dengan perasaan kolektif. Ketika identitas nasional dimasukkan ke ruang publik daring, diskusi dapat berkembang dan melibatkan sensitivitas serta kebanggaan nasional. Mahasiswa tersebut menilai bahwa interaksi di platform seperti X dan Instagram tidak hanya berhenti pada percakapan, tetapi juga dapat memengaruhi persepsi global terhadap Indonesia.

“Hal tersebut berpengaruh karena saya pernah melihat penelitian yang beredar di media sosial yang menyatakan bahwa penggemar Indonesia termasuk yang kasar. Kondisi tersebut dapat memengaruhi citra Indonesia,” tuturnya.

Untuk mencegah solidaritas berubah menjadi sumber konflik, ia menegaskan pentingnya warganet untuk menjaga batasan dalam berkomentar. Ia menyarankan agar masyarakat berkomentar secukupnya dan tidak keluar dari ranah yang semestinya. Hal ini penting agar tidak mengganggu hubungan diplomasi antarnegara.

Ia percaya bahwa ada manfaat dari bersuara maupun menahan diri. “Bersuara itu tidak ada salahnya untuk menengahi agar situasi lebih baik. Namun, pada saat yang sama, diam adalah emas,” pungkasnya. Pada akhirnya, solidaritas lintas negara di era digital bukan semata tentang siapa yang dibela, melainkan tentang bagaimana dukungan diberikan untuk mempertahankan solidaritas dan mempererat hubungan. Di tengah arus komunikasi global yang cepat, penting untuk berkomunikasi dengan bijak.  


Kamis, 12 Maret 2026

Rumah Tanpa Alamat

 Tatkala menghadapi hiruk pikuk dunia,

dan lelah mengepung langkah yang rapuh.

Namun, seketika keresahan itu reda,

saat kau berikan dekapanmu yang teduh.


Tak ada koordinat dan jalan yang kutuju,

sebab kau hunian yang menyertai tiap langkah.

Tak butuh peta untuk menapaki arah baru,

sebab alamatku terukir di sukmamu dengan indah.


Saat badai datang membawa sembilu,

kau menjelma atap yang memberi rasa aman.

Hanya menatap secercah cahaya di matamu,

sirnalah gelap, terbitlah tenang dan nyaman.


Tak lagi kucari bangunan untuk kutuju,

sebab bersamamu segala gelisah telah reda.

Hanya padamu kusandarkan lara dan pilu,

kaulah rumah terbaik yang takkan pernah pudar rasa.



Karya: Reza Aulia

Minggu, 01 Maret 2026

Selalu Ada Harapan di antara Perbedaan “VERSUS”

 


Ada garis yang memisah, kata “versus” berbisik di udara. 

Namun, di sela-sela jurang itu, matahari merangkai jembatan cahaya.


Perbedaan menari seperti bayang, membawa ragu, membawa tanya.

Namun, selalu ada harapan yang lembut, menyulam kita menjadi satu cerita.


Peluk perbedaan, genggam erat kemungkinan. Di antara “versus” tumbuh pagi baru.


Puisi karya: Rheza Faadhilah

Tiga Petani Lansia di Seyegan, Sleman, Tersambar Petir, Dua Meninggal Dunia

 

[Ilustrasi] Petani yang berteduh di gubuk saat hujan lebat berisiko tersambar petir. (Sumber: Gemini)

Sleman, 9 Februari 2026—Peristiwa tragis menimpa tiga petani lansia di kawasan persawahan Bulak Barak, Kalurahan Margoluwih, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Senin siang. Ketiga warga tersebut tersambar petir ketika sedang mencari tempat berteduh di sebuah gubuk kecil saat hujan deras melanda wilayah setempat. Insiden terjadi sekitar pukul 12.30 WIB saat hujan deras disertai kilat dan petir.


Ketiga petani yang sedang menanam padi di sawah bergegas menuju gubuk sederhana di tengah lahan persawahan untuk berlindung dari hujan. Tidak lama kemudian, sambaran petir menyambar kawasan sekitar gubuk dan mengenai ketiganya sehingga mereka terjatuh dalam bangunan tersebut. Dua dari tiga korban yang tersambar petir, yakni Wakinah (63) dan Samiyah (64), dinyatakan meninggal dunia setelah dievakuasi ke Rumah Sakit At-Taurot, Kecamatan Seyegan. Sementara itu, satu korban lainnya, Sarinten (72), selamat meskipun mengalami trauma dan syok akibat kejadian tersebut. Korban yang selamat sempat meminta pertolongan warga sekitar sebelum akhirnya mendapatkan penanganan medis.


Petugas gabungan dari kepolisian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sleman, serta relawan setempat segera mendatangi lokasi kejadian setelah menerima laporan dari masyarakat. Proses evakuasi dilakukan dengan cepat guna memastikan korban mendapatkan penanganan yang tepat serta mengamankan lokasi kejadian. Aparat juga melakukan pendataan dan meminta keterangan dari sejumlah saksi untuk memastikan kronologi peristiwa.Kasi Humas Polresta Sleman menyampaikan bahwa kejadian ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar selalu waspada terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara tiba-tiba. Aktivitas di ruang terbuka, seperti persawahan dan ladang memiliki risiko tinggi ketika hujan disertai petir melanda. Masyarakat diimbau untuk segera mencari tempat yang lebih aman dan kokoh apabila cuaca mulai menunjukkan tanda-tanda buruk.


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi cuaca yang tidak menentu tersebut berpotensi membahayakan warga yang beraktivitas di luar ruangan. Oleh karena itu, pemerintah daerah mengingatkan masyarakat agar rutin memantau informasi prakiraan cuaca serta mengutamakan keselamatan diri dalam setiap kegiatan. Peristiwa ini menambah daftar kejadian akibat cuaca ekstrem di wilayah Sleman pada musim hujan tahun ini. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di kemudian hari serta mengurangi risiko korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi.

Sumber berita: Detikcom dan Republika.

Reporter: Nabila Livia Putri 

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIA “AAN” Yogyakarta Melaksanakan Srawung dan Makrab di Hari Libur Kuliah.

 

Sumber foto: BEM STIA “AAN” Yogyakarta

Yogyakarta, Februari 2026 – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi “AAN” Yogyakarta sukses menyelenggarakan kegiatan srawung dan makrab yang bertempat di Hotel Kana, Kaliurang. Acara yang mengusung tema “Merajut Kebersamaan, Menguatkan Solidaritas untuk Organisasi yang Progresif” ini dilaksanakan pada tanggal 14–15 Februari 2026. Tema tersebut menggambarkan upaya BEM STIA “AAN” Yogyakarta dalam membangun hubungan yang harmonis dan saling mendukung antaranggota. 


Ketua Panitia sekaligus Presiden Mahasiswa BEM STIA “AAN” Yogyakarta, Ilham Ramadhan, menjelaskan bahwa srawung dan makrab ini bukan program kerja BEM, melainkan kegiatan rutin BEM setiap tahun. “Ini bukan sekadar kegiatan keakraban saja, tetapi kegiatan ini menjadi ruang untuk saling kenal satu sama lain, paham dengan kementerian masing-masing, dan kegiatan untuk semua anggota menjalin kebersamaan,” ungkapnya. Agar acara dapat berlangsung dengan baik, panitia melakukan persiapan secara intensif. Untuk memastikan acara berjalan lancar, panitia melakukan persiapan intensif selama satu bulan. “Untuk persiapan acara ini kita mulai dari jauh-jauh hari, dimulai sejak satu bulan sebelum hari H,” ujar Ilham. 


Acara tersebut dihadiri oleh Ketua STIA “AAN” Yogyakarta, Wakil Ketua III bidang kemahasiswaan, alumni BEM, dan seluruh anggota BEM muda. Rangkaian kegiatan meliputi pembukaan oleh Ketua STIA “AAN” Yogyakarta, selanjutnya ada materi mengenai komitmen dan tanggung jawab dalam organisasi, presentasi tiap kementerian, sosialisasi AD/ART sekaligus pelantikan anggota muda, senam, game, nonton bersama, dan sharing session. Sebagai ketua panitia, Ilham mengaku puas meski lelah, “Walaupun capek tetapi acaranya terasa seru dan bagus. Semoga kegiatan ini di tahun selanjutnya bisa lebih baik dari tahun ini dan lebih seru lagi” tuturnya. 


Salah satu anggota baru BEM STIA “AAN” Yogyakarta, Samuel Agustian Siagian, turut membagikan kesannya selama mengikuti acara srawung dan makrab. “Awalnya saya merasa kurang beradaptasi, namun seiring berjalannya acara saya merasa diterima dan lebih nyaman berada di lingkungan BEM. Terdapat momen pengukuhan anggota dari situ, saya merasa dipercaya dan ada tanggung jawab yang harus dijalankan dengan baik,” ujarnya. Ia juga berharap kegiatan ini dapat terus berkembang. “Saya berharap nilai kebersamaan dan semangat yang terbentuk selama srawung dan makrab ini tidak berhenti di acara ini saja, tetapi terus diterapkan untuk kegiatan BEM ke depan, sehingga BEM bisa berjalan lebih solid, harmonis, dan produktif.”


Ilham juga menyampaikan harapannya agar acara ini berjalan sesuai dengan harapan. “Semoga dengan kegiatan ini seluruh anggota BEM saling kenal satu sama lain dan paham bagaimana program kerja yang ada di setiap kementerian,” katanya. Acara srawung dan makrab ini menjadi bukti bahwa kebersamaan itu merupakan kunci dari lahirnya solidaritas.


Reporter: Amanda

Cerpen Karya Arini Zakina

                                                          Senja di Balik Jendela Lama   Karya oleh: Arini Zakina Langit senja itu berwar...