Jumat, 13 Maret 2026

Solidaritas Digital Lintas Negara Menguat, Warganet Diminta Lebih Bijak Berkomentar


Ilustrasi aktivitas warganet dalam percakapan lintas negara di media sosial. (Foto: Camilo Jimenez/Unsplash)

 

Yogyakarta, 24 Februari 2026– Diskusi di media sosial dalam beberapa hari terakhir kembali menyoroti kolaborasi lintas negara di ruang digital. Respons warganet Indonesia dalam berinteraksi dengan warganet Korea dan sejumlah negara Asia Tenggara menunjukkan bahwa dukungan kolektif dapat berkembang dengan cepat, tetapi juga menuntut kedewasaan dalam berkomunikasi.

Salah satu mahasiswa yang diwawancarai pekan ini mengatakan bahwa pada awalnya warganet Indonesia termotivasi untuk berpartisipasi karena rasa solidaritas. “Pada awalnya ini adalah bentuk solidaritas karena warganet Korea mulai menyerang negara lain yang tidak seharusnya terlibat. Menurut saya, Malaysia hanya menegur karena aturan resmi melarang membawa kamera profesional,” ujarnya.

Menurut mahasiswa tersebut, munculnya dukungan tersebut didukung oleh rasa kebersamaan regional dan kedekatan antarnegara di kawasan Asia Tenggara. Mengekspresikan solidaritas menjadi salah satu cara menunjukkan empati terhadap negara yang dianggap berada di posisi yang benar. 

Namun, ruang digital tidak selalu stabil. Intensitas percakapan meningkat seiring bertambahnya keterlibatan warganet dari berbagai negara. Dalam situasi yang serba cepat, tanggapan yang awalnya empatik dapat berubah menjadi emosional. “Seiring berjalannya waktu, persoalan ini berubah menjadi emosional karena negara lain di Asia Tenggara mulai menyerang warganet Korea dan kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengakibatkan perpecahan antarnegara,” tambahnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa solidaritas digital memiliki batas yang tipis dengan perasaan kolektif. Ketika identitas nasional dimasukkan ke ruang publik daring, diskusi dapat berkembang dan melibatkan sensitivitas serta kebanggaan nasional. Mahasiswa tersebut menilai bahwa interaksi di platform seperti X dan Instagram tidak hanya berhenti pada percakapan, tetapi juga dapat memengaruhi persepsi global terhadap Indonesia.

“Hal tersebut berpengaruh karena saya pernah melihat penelitian yang beredar di media sosial yang menyatakan bahwa penggemar Indonesia termasuk yang kasar. Kondisi tersebut dapat memengaruhi citra Indonesia,” tuturnya.

Untuk mencegah solidaritas berubah menjadi sumber konflik, ia menegaskan pentingnya warganet untuk menjaga batasan dalam berkomentar. Ia menyarankan agar masyarakat berkomentar secukupnya dan tidak keluar dari ranah yang semestinya. Hal ini penting agar tidak mengganggu hubungan diplomasi antarnegara.

Ia percaya bahwa ada manfaat dari bersuara maupun menahan diri. “Bersuara itu tidak ada salahnya untuk menengahi agar situasi lebih baik. Namun, pada saat yang sama, diam adalah emas,” pungkasnya. Pada akhirnya, solidaritas lintas negara di era digital bukan semata tentang siapa yang dibela, melainkan tentang bagaimana dukungan diberikan untuk mempertahankan solidaritas dan mempererat hubungan. Di tengah arus komunikasi global yang cepat, penting untuk berkomunikasi dengan bijak.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  LPM Super JIMO STIA ‘AAN’ Yogyakarta Dorong Mahasiswa Menulis Kritis dan Berintegritas melalui kegitan (Pelatihan Jurnalistik Tingkat Dasa...