Dies
Natalis STIA AAN Yogyakarta Tekankan Nilai Luhur Notokusumo di Era Digital
Yogyakarta, 16 Juni 2026—STIA AAN Yogyakarta menggelar Dies Natalis ke-47 dengan tema “Transformasi Administrasi Digital Berbasis Nilai Luhur Notokusumo”. Tema tersebut menjadi refleksi bagi kampus dalam menghadapi perkembangan teknologi digital yang semakin pesat tanpa melepaskan nilai-nilai luhur Notokusumo yang menjadi identitas dan fondasi utama institusi.
Ketua Yayasan Notokusumo menjelaskan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, menuntut mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang kini semakin masif, bahkan digunakan di berbagai sektor. Menurutnya, mahasiswa perlu dibekali kemampuan menguasai teknologi agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. “Mahasiswa harus memiliki kemampuan mengoperasikan teknologi, tetapi juga mampu mengantisipasi berbagai risiko yang menyertainya, terutama terkait keamanan data,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa perkembangan AI tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga tantangan. Salah satu tantangan yang perlu diwaspadai adalah rendahnya kesadaran terhadap keamanan data. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami risiko penggunaan teknologi, termasuk ancaman terhadap data pribadi maupun institusi.
Dalam kesempatan yang sama, Yayasan Notokusumo juga menjelaskan makna di balik Notokusumo yang menjadi dasar nilai kampus. Nama tersebut berasal dari dua kata, yakni noto yang berarti menata atau mengelola dan kusumo yang merujuk pada anak-anak bangsa. Melalui filosofi tersebut, perguruan tinggi diharapkan mampu membentuk generasi penerus yang cerdas, berkarakter, dan siap menjadi pemimpin bangsa.
Menurut Yayasan Notokusumo, pendidikan tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga pada pembentukan karakter. Karena itu, nilai-nilai budi pekerti luhur yang diwariskan melalui Notokusumo tetap relevan untuk diterapkan di tengah perkembangan teknologi digital.
Selain penguasaan teknologi, Yayasan Notokusumo juga menyoroti fenomena degradasi moral yang muncul akibat penggunaan teknologi yang tidak disertai kesadaran etis. Sikap tidak sopan dalam berkomunikasi, penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab, hingga konflik yang dipicu oleh media digital menjadi tantangan yang perlu dihadapi bersama. “Dalam memanfaatkan teknologi, tetap harus berdasarkan nilai-nilai luhur yang dapat diterima oleh masyarakat. Jangan menganggap bahwa apa yang disampaikan melalui media digital tidak memiliki dampak karena dampaknya bisa sangat luas,” jelasnya.
Menanggapi tantangan tersebut, Ketua STIA AAN Yogyakarta, Happy Susanto, menegaskan pentingnya penyusunan panduan etika digital bagi mahasiswa. Menurutnya, transformasi digital harus diimbangi dengan penguatan nilai dan moral agar mahasiswa tidak hanya unggul dalam penguasaan teknologi, tetapi juga memiliki integritas. “Perlu ada panduan etika, nilai, dan moral dalam menggunakan media sosial maupun perangkat digital. Apa yang dilakukan mahasiswa juga menjadi tanggung jawab perguruan tinggi,” katanya. Ketua STIA AAN Yogyakarta, Happy Susanto, juga menambahkan juga bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mendidik calon pemimpin bangsa yang berkualitas dan berintegritas. Oleh sebab itu, nilai dan moral perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan di era digital.
Sebagai bagian dari transformasi digital, STIA AAN juga meluncurkan situs web AANews. Platform tersebut diharapkan menjadi media edukasi sekaligus ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan, pandangan, dan karya tulis mereka. “AANews diharapkan dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan pikiran dan gagasannya, baik mengenai kegiatan kampus maupun isu-isu nasional yang menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Melalui tema Dies Natalis tahun ini, STIA AAN menegaskan bahwa transformasi digital bukan hanya tentang pemanfaatan teknologi, melainkan juga tentang menjaga nilai luhur Notokusumo sebagai fondasi dalam membentuk generasi yang cerdas, beretika, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.
Reporter: Mahda Okta Azzahra

