Senin, 03 Agustus 2026

 

Membeli Mi Ayam di Warung Soto

Oleh: Annisa Ramadhani

Ada satu hukum tidak tertulis yang gagal dipahami Kirani semester ini, yaitu iman seseorang mungkin tetap teguh, tetapi logikanya akan jatuh hingga titik nadir ketika ia sedang jatuh cinta. Sebagai mahasiswi yang terbiasa menyusun laporan dengan sistematika yang runtut, runtuhnya rasionalitas Kirani adalah sebuah ironi yang setara dengan tragedi besar. Semua bermula sejak pertemuan Kirani dengan Nathan. Kirani memutuskan untuk menyeberangi sungai berarus deras demi laki-laki yang sejak awal memiliki peta arah mata angin yang bertolak belakang dengan miliknya.

Sejak awal, perbedaan prinsip yang tak kasatmata, tetapi berdiri begitu tegap telah menghantui mereka. Mereka memang berada di bawah langit yang sama, tetapi memiliki penunjuk arah yang berbeda. Saat momentum perayaan tiba, selalu ada jeda sunyi di antara mereka. Sebuah pengingat bahwa mereka adalah dua keping puzzle dari kotak yang berbeda, sekeras apa pun keduanya dipaksa bersatu, lekukannya tidak akan pernah bertaut tepat. Namun, Kirani terlanjur jatuh hati. Sudah sering diingatkan bahwa hubungan mereka itu adalah sebuah anomali, tetapi Kirani memilih menutup mata hanya karena dirinya selalu membuat pembenaran dalam pikirannya. Seolah-olah perbedaan mendasar bisa disatukan hanya dengan perasaan saling suka.

Hubungan mereka kandas karena komunikasi yang tidak selaras menggerogoti fondasinya. Banyak kesalahpahaman yang terjadi antara mereka. Nathan memiliki keterbatasan dalam mengolah kata. Bahasanya sering terdengar mentah dan tajam. Diksi yang digunakannya pun kerap kurang tepat saat situasi memanas, “Kamu terlalu serius,” kerap menjadi narasi perbedaan mendasar sebagai tameng menghindari konflik.

Hubungan ini dari awal memang salah panggung karena kesalahpahaman ekspektasi. Persis seperti ketika seseorang mendatangi sebuah warung soto. Kirani hanya ingin memesan apa pun yang tersedia di menu demi mengisi perutnya, tetapi pemilik warung terlanjur ketakutan, merasa Kirani menuntut sebuah mangkuk mi ayam yang tak ada dalam menu. Nathan terlalu takut karena merasa tak bisa memenuhi permintaan yang sebenarnya tak diminta oleh Kirani. Tragisnya, Kirani adalah pihak yang selalu siap menghadapi kenyataan. Ia siap bertahan, tetapi ia juga sudah sangat siap untuk melangkah pergi jika memang harus selesai. Sayangnya, ia tidak pernah diberikan kejelasan ataupun dipilih untuk ditinggalkan. Ia digantung dalam ketidakpastian akibat penyampaian Nathan yang selalu mengambang, hingga akhirnya hubungan itu benar-benar usai.

Minggu, 05 Juli 2026

 

Menggali Potensi di Momen Dies Natalis, Dua Mahasiswi STIA AAN Yogyakarta Bagikan Kunci Sukses


 

Sumber: Dokumentasi LPM Super Jimo


Yogyakarta, 16 Juni 2026 – Perayaan Dies Natalis ke-47 Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi AAN Yogyakarta tidak hanya menjadi momentum refleksi bagi institusi, tetapi juga menjadi Ajang apresiasi bagi mahasiswa yang memiliki bakat dan prestasi luar biasa. Dalam rangkaian acara tersebut, dua mahasiswi berprestasi, Khoirine Moriesta Nuraini dan Vrisca Nabatiola Hindriani, berkesempatan membagikan kisah perjuangan serta kiat sukses mereka dalam menggali potensi diri di tengah dinamika perkuliahan.

Mahasiswi berprestasi, Khoirine Moriesta atau yang akrab disapa Rista, menjelaskan bahwa konsistensi dalam berproses merupakan kunci utama bagi mahasiswa untuk berkembang. Menurutnya, langkah awal yang paling krusial dalam menggali potensi diri adalah mengenali minat pribadi sejak dini. “Tips dari saya, yang pertama, kita harus mencari tahu dulu apa kesukaan kalian, lalu fokus pada bidang tersebut. Ketika teman-teman sudah berani mencoba, teruslah mencoba tanpa memikirkan hasilnya terlebih dahulu,” ujarnya penuh semangat. Ia menambahkan bahwa hasil akhir maupun capaian prestasi yang diraih nantinya hanyalah bonus dari proses belajar. Hal utama yang harus ditanamkan oleh setiap mahasiswa adalah keberanian untuk memulai serta komitmen untuk mengoptimalkan potensi diri semaksimal mungkin.

Senada dengan prinsip Rista mengenai keberanian untuk mencoba, cerita inspiratif lain datang dari Vrisca Nabatiola Hindriani, mahasiswi program studi S1 Administrasi Publik. Selain berprestasi di bidang akademik, Vrisca turut memeriahkan acara dengan menampilkan kemampuan olah vokalnya yang memukau lewat olah vokal dalam rangkaian Dies Natalis tersebut. Vrisca menceritakan bahwa kecintaannya pada dunia tarik suara bermula dari sebuah momen tidak terduga saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Saat itu, ia memberanikan diri mengikuti lomba menyanyi untuk pertama kalinya meskipun sempat diliputi rasa tidak percaya diri. “Waktu itu aku benar-benar tidak yakin, bahkan mungkin suaraku saat itu fals. Namun, ternyata di momen itu saya malah berhasil meraih juara pertama dan mewakili kabupaten untuk maju ke tingkat provinsi,” kenangnya.

Pengalaman berharga tersebut mendorong Vrisca untuk menyadari bahwa menyanyi merupakan passion yang perlu terus dikembangkan. Sejak saat itu, ia terus berkomitmen untuk mendalami dunia seni musik hingga mampu berprestasi di tingkat perguruan tinggi. Melalui kisah inspiratif Rista dan Vrisca, seluruh mahasiswa, khususnya di lingkungan STIA AAN Yogyakarta, diharapkan dapat termotivasi untuk terus menggali potensi diri. Transformasi dan prestasi mahasiswa diharapkan tidak hanya tercermin dalam penguasaan akademik, tetapi juga berani keluar dari zona nyaman demi meraih masa depan yang gemilang.

 

Reporter: Annisa Ramadhani



  Lebih dari Sekadar Tempat Tinggal, Rumah Singgah YKI DIY Jadi Ruang Harapan Pasien Kanker (Sumber: Tim Liputan STIA AAN Yogyakarta)   Yo...