Membeli Mi Ayam di Warung Soto
Oleh: Annisa Ramadhani
Ada satu hukum tidak tertulis yang gagal dipahami Kirani semester ini, yaitu iman seseorang mungkin tetap teguh, tetapi logikanya akan jatuh hingga titik nadir ketika ia sedang jatuh cinta. Sebagai mahasiswi yang terbiasa menyusun laporan dengan sistematika yang runtut, runtuhnya rasionalitas Kirani adalah sebuah ironi yang setara dengan tragedi besar. Semua bermula sejak pertemuan Kirani dengan Nathan. Kirani memutuskan untuk menyeberangi sungai berarus deras demi laki-laki yang sejak awal memiliki peta arah mata angin yang bertolak belakang dengan miliknya.
Sejak awal, perbedaan prinsip yang tak kasatmata, tetapi berdiri begitu tegap telah menghantui mereka. Mereka memang berada di bawah langit yang sama, tetapi memiliki penunjuk arah yang berbeda. Saat momentum perayaan tiba, selalu ada jeda sunyi di antara mereka. Sebuah pengingat bahwa mereka adalah dua keping puzzle dari kotak yang berbeda, sekeras apa pun keduanya dipaksa bersatu, lekukannya tidak akan pernah bertaut tepat. Namun, Kirani terlanjur jatuh hati. Sudah sering diingatkan bahwa hubungan mereka itu adalah sebuah anomali, tetapi Kirani memilih menutup mata hanya karena dirinya selalu membuat pembenaran dalam pikirannya. Seolah-olah perbedaan mendasar bisa disatukan hanya dengan perasaan saling suka.
Hubungan mereka kandas karena komunikasi yang tidak selaras menggerogoti fondasinya. Banyak kesalahpahaman yang terjadi antara mereka. Nathan memiliki keterbatasan dalam mengolah kata. Bahasanya sering terdengar mentah dan tajam. Diksi yang digunakannya pun kerap kurang tepat saat situasi memanas, “Kamu terlalu serius,” kerap menjadi narasi perbedaan mendasar sebagai tameng menghindari konflik.
Hubungan ini dari awal memang salah panggung karena kesalahpahaman ekspektasi. Persis seperti ketika seseorang mendatangi sebuah warung soto. Kirani hanya ingin memesan apa pun yang tersedia di menu demi mengisi perutnya, tetapi pemilik warung terlanjur ketakutan, merasa Kirani menuntut sebuah mangkuk mi ayam yang tak ada dalam menu. Nathan terlalu takut karena merasa tak bisa memenuhi permintaan yang sebenarnya tak diminta oleh Kirani. Tragisnya, Kirani adalah pihak yang selalu siap menghadapi kenyataan. Ia siap bertahan, tetapi ia juga sudah sangat siap untuk melangkah pergi jika memang harus selesai. Sayangnya, ia tidak pernah diberikan kejelasan ataupun dipilih untuk ditinggalkan. Ia digantung dalam ketidakpastian akibat penyampaian Nathan yang selalu mengambang, hingga akhirnya hubungan itu benar-benar usai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar