Senin, 03 Agustus 2026

 

Saka Kalpataru Kwarcab Sleman Pelajari Budidaya Hidroponik untuk Mendukung Pertanian Ramah Lingkungan


Sumber: Saka Kalpataru Sleman

 

Sleman — Saka Kalpataru Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Sleman menggelar kegiatan pembelajaran budidaya tanaman hidroponik di Teras Ponik pada Sabtu (11/7/2026). Kegiatan ini diikuti oleh calon anggota, anggota, dan Dewan Saka Kalpataru sebagai upaya meningkatkan pengetahuan serta keterampilan di bidang pelestarian lingkungan hidup.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kak Dhimas selaku pengelola Teras Ponik serta Kak Restuti selaku Pinsaka Saka Kalpataru Sleman beserta jajaran pengurus. Acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kak Restuti.

Dalam sambutannya, Kak Restuti menyampaikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa hidroponik merupakan salah satu metode budidaya tanaman yang efisien karena tidak membutuhkan lahan yang luas serta lebih hemat dalam penggunaan air.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta memperoleh penjelasan mengenai konsep dasar hidroponik, mulai dari manfaat, jenis media tanam, proses penyemaian, perawatan tanaman, 

hingga teknik pemanenan. Tidak hanya menerima materi, peserta juga diajak melakukan praktik secara langsung sehingga pemahaman mereka terhadap proses tersebut semakin baik.

Melalui pengalaman tersebut, anggota Saka Kalpataru diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat. Budidaya hidroponik dinilai sebagai salah satu alternatif untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus mengurangi keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan.

Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan melalui penerapan pertanian berkelanjutan. Dengan memadukan teori dan praktik, peserta diharapkan semakin memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana yang memberikan manfaat bagi kehidupan.

Melalui program pembelajaran seperti ini, Saka Kalpataru Kwarcab Sleman terus berkomitmen membentuk Pramuka yang berwawasan lingkungan, berkarakter, serta mampu menjadi agen perubahan dalam mengajak masyarakat menerapkan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.


Reporter: Muhamad Farhan Aditya


 

Membeli Mi Ayam di Warung Soto

Oleh: Annisa Ramadhani

Ada satu hukum tidak tertulis yang gagal dipahami Kirani semester ini, yaitu iman seseorang mungkin tetap teguh, tetapi logikanya akan jatuh hingga titik nadir ketika ia sedang jatuh cinta. Sebagai mahasiswi yang terbiasa menyusun laporan dengan sistematika yang runtut, runtuhnya rasionalitas Kirani adalah sebuah ironi yang setara dengan tragedi besar. Semua bermula sejak pertemuan Kirani dengan Nathan. Kirani memutuskan untuk menyeberangi sungai berarus deras demi laki-laki yang sejak awal memiliki peta arah mata angin yang bertolak belakang dengan miliknya.

Sejak awal, perbedaan prinsip yang tak kasatmata, tetapi berdiri begitu tegap telah menghantui mereka. Mereka memang berada di bawah langit yang sama, tetapi memiliki penunjuk arah yang berbeda. Saat momentum perayaan tiba, selalu ada jeda sunyi di antara mereka. Sebuah pengingat bahwa mereka adalah dua keping puzzle dari kotak yang berbeda, sekeras apa pun keduanya dipaksa bersatu, lekukannya tidak akan pernah bertaut tepat. Namun, Kirani terlanjur jatuh hati. Sudah sering diingatkan bahwa hubungan mereka itu adalah sebuah anomali, tetapi Kirani memilih menutup mata hanya karena dirinya selalu membuat pembenaran dalam pikirannya. Seolah-olah perbedaan mendasar bisa disatukan hanya dengan perasaan saling suka.

Hubungan mereka kandas karena komunikasi yang tidak selaras menggerogoti fondasinya. Banyak kesalahpahaman yang terjadi antara mereka. Nathan memiliki keterbatasan dalam mengolah kata. Bahasanya sering terdengar mentah dan tajam. Diksi yang digunakannya pun kerap kurang tepat saat situasi memanas, “Kamu terlalu serius,” kerap menjadi narasi perbedaan mendasar sebagai tameng menghindari konflik.

Hubungan ini dari awal memang salah panggung karena kesalahpahaman ekspektasi. Persis seperti ketika seseorang mendatangi sebuah warung soto. Kirani hanya ingin memesan apa pun yang tersedia di menu demi mengisi perutnya, tetapi pemilik warung terlanjur ketakutan, merasa Kirani menuntut sebuah mangkuk mi ayam yang tak ada dalam menu. Nathan terlalu takut karena merasa tak bisa memenuhi permintaan yang sebenarnya tak diminta oleh Kirani. Tragisnya, Kirani adalah pihak yang selalu siap menghadapi kenyataan. Ia siap bertahan, tetapi ia juga sudah sangat siap untuk melangkah pergi jika memang harus selesai. Sayangnya, ia tidak pernah diberikan kejelasan ataupun dipilih untuk ditinggalkan. Ia digantung dalam ketidakpastian akibat penyampaian Nathan yang selalu mengambang, hingga akhirnya hubungan itu benar-benar usai.

  Lebih dari Sekadar Tempat Tinggal, Rumah Singgah YKI DIY Jadi Ruang Harapan Pasien Kanker (Sumber: Tim Liputan STIA AAN Yogyakarta)   Yo...