Minggu, 05 Juli 2026

 

 

Peran Kampung Literasi Wijaya Kusuma dalam Mengembangkan Literasi, Seni, dan Pemberdayaan Masyarakat



Sumber: Dokumentasi Tim Liputan STIA AAN Yogyakarta, 2026.

 

Yogyakarta, 17 Juni 2026 — Kampung Literasi Wijaya Kusuma yang berlokasi di Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, menjadi salah satu ruang belajar masyarakat yang berperan dalam mengembangkan literasi, seni, dan pemberdayaan masyarakat. Berawal dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang didirikan pada 2009, lembaga ini berkembang menjadi Kampung Literasi Wijaya Kusuma setelah memperoleh penghargaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2018.

Pengelola Kampung Literasi Wijaya Kusuma, Hastuti, menjelaskan bahwa kampung literasi hadir sebagai wadah pengembangan enam literasi dasar, yaitu literasi baca tulis, numerasi, finansial, sains dan teknologi, budaya, serta keluarga. Program tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat secara aktif.

Salah satu program yang dijalankan adalah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Wijaya Kusuma yang dapat diikuti secara gratis. Kegiatan ini didukung dana Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik, termasuk penyediaan alat tulis. Selain itu, terdapat Sekolah Keterampilan Wijaya Kusuma yang menjadi sarana pengembangan keterampilan dan literasi finansial masyarakat.

Dalam bidang seni budaya, Kampung Literasi Wijaya Kusuma mengelola Sanggar Wijaya Kusuma yang menyelenggarakan kelas tari dan karawitan. Kelas tari dibagi menjadi kategori anak-anak serta remaja hingga dewasa. Latihan rutin dilaksanakan setiap Sabtu pukul 15.30–17.00 WIB untuk kelas kecil dan Minggu pukul 14.30–16.00 WIB untuk kelas besar.

Pelatih tari, Retno Vitrianingsih, S.Sn., mengungkapkan bahwa tantangan yang sering dihadapi adalah ketidakkonsistenan kehadiran peserta. “Terkadang anak-anak tidak rutin mengikuti latihan. Namun, yang bertahan biasanya memang memiliki keinginan kuat untuk belajar dan berkembang,” ujarnya. Menurut Retno, tujuan utama pendirian sanggar tari adalah untuk melestarikan budaya daerah atau nguri-uri kabudayan.

Keberadaan sanggar tidak hanya menjadi sarana pembelajaran seni, tetapi juga membuka peluang bagi peserta untuk tampil dalam berbagai kegiatan. Hastuti menjelaskan bahwa kemampuan peserta yang semakin berkembang membuat mereka sering mendapat undangan tampil dalam acara tingkat kabupaten. “Karena kemampuan anak-anak sudah bagus, mereka diberi kesempatan tampil di berbagai acara kabupaten. Terakhir, mereka tampil di rumah dinas bupati dan kegiatan di Candi Loka,” ujarnya.

Manfaat tersebut juga dirasakan oleh para orang tua peserta. Ibu Rolis, orang tua peserta kelas besar, mengungkapkan rasa syukurnya atas keberadaan sanggar tari. “Kami pernah mengisi acara syawalan bersama Sri Sultan. Namun, itu bukan tujuan utama kami. Sebagai orang tua, kami sangat berterima kasih karena bakat dan hobi anak-anak dapat berkembang melalui kegiatan yang positif,” tuturnya.

Terkait pendanaan kegiatan, Ibu Nur Atika, orang tua peserta kelas kecil, menjelaskan bahwa kegiatan pentas yang berasal dari undangan biasanya telah memiliki anggaran dari penyelenggara. Namun, pencairan dana tidak selalu dilakukan sebelum kegiatan berlangsung. Sementara itu, untuk kegiatan mandiri seperti perlombaan, biaya keikutsertaan umumnya diupayakan secara swadaya oleh orang tua. Hal tersebut juga diamini oleh Ibu Ari yang mendampingi peserta kelas kecil dan kelas besar.

Melalui berbagai program yang dijalankan, Kampung Literasi Wijaya Kusuma membuktikan perannya tidak hanya sebagai pusat pengembangan literasi, tetapi juga sebagai wadah pelestarian seni budaya dan pemberdayaan masyarakat. Hastuti berharap kampung literasi ini dapat memiliki kostum tari sendiri sehingga tidak perlu lagi menyewa saat mengikuti berbagai pertunjukan. Dengan semangat kolaborasi dan pembinaan yang berkelanjutan, Kampung Literasi Wijaya Kusuma terus berupaya menciptakan ruang belajar yang mendukung pengembangan potensi generasi muda sekaligus memperkuat kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Reporter: Tim Liputan STIA AAN Yogyakarta

 

Rabu, 01 Juli 2026

 

                         Semarak Puncak Dies Natalis ke-47 STIA AAN Yogyakarta

 


Sumber: Dokumentasi LPM Super Jimo

 

Yogyakarta, 13 Juni 2026 – Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di ruang kelas 12 dan 13 STIA AAN Yogyakarta. Seluruh sivitas akademika berkumpul dalam perayaan Dies Natalis ke-47. Perayaan tahun ini menjadi lebih istimewa karena selain menjadi puncak rangkaian Dies Natalis, pihak kampus juga secara resmi meluncurkan website berita, yaitu aanews.id sebagai media informasi dan literasi digital bagi mahasiswa.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Notokusumo, pimpinan kampus, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta berbagai tamu undangan. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata dukungan terhadap perjalanan STIA AAN Yogyakarta yang telah memasuki usia ke-47 tahun.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Ketua STIA AAN Yogyakarta, Happy Susanto. Kemudian dilanjutkan oleh Ketua Yayasan dan tamu undangan lainnya yang turut menyampaikan ucapan selamat serta harapan bagi kemajuan STIA AAN Yogyakarta di masa mendatang.

Salah satu agenda utama dalam acara tersebut adalah peresmian website aanews.id. Peresmian dilakukan secara simbolis melalui pemutaran video berdurasi 1 menit 23 detik yang menampilkan berbagai fitur website baru aanews.id. Tepuk tangan hadirin mengiringi peluncuran tersebut dengan harapan aanews dapat menjadi wadah informasi yang mampu menjembatani komunikasi antara kampus dengan sivitas akademika maupun masyarakat luas.

Suasana acara semakin meriah dengan pemberian apresiasi dan penghargaan kepada mahasiswa berprestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi kampus atas dedikasi dan pencapaian mahasiswa yang telah mengharumkan nama STIA AAN Yogyakarta dalam berbagai ajang perlombaan.

Selain itu, hadirin disuguhkan berbagai penampilan menarik, mulai dari tarian hingga penampilan Band Kampus STIA AAN Yogyakarta yang berhasil menghibur seluruh peserta. Sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan kampus selama 47 tahun, dilakukan pula pemotongan tumpeng yang diwakili oleh Happy Susanto bersama Sri Utami.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, acara ditutup dengan pembacaan doa sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar STIA AAN Yogyakarta senantiasa memperoleh kemajuan dan keberkahan dalam menjalankan tugasnya sebagai institusi pendidikan.


Reporter: Siti Indriyanti 

  Lebih dari Sekadar Tempat Tinggal, Rumah Singgah YKI DIY Jadi Ruang Harapan Pasien Kanker (Sumber: Tim Liputan STIA AAN Yogyakarta)   Yo...