Sabtu, 04 April 2026

Review Novel, Penulis: Syta Syana Iscara

 

Review Novel Tragedi Pedang Keadilan (Samayou Yaiba / さまよう刃) karya Keigo Higashino


Sumber gambar: Google Images

 

Novel ini menceritakan perjalanan pembalasan dendam seorang ayah bernama Nagamine Shigeki. Ia adalah ayah dari Nagamine Ema yang menjadi korban pelecehan seksual sekaligus pembunuhan. Ema saat itu pergi menonton festival musim panas, tetapi ia tidak pernah pulang hingga mayatnya ditemukan di sungai. Di tengah proses penyelidikan, Nagamine Shigeki menerima telepon dari seseorang yang tidak dikenalnya. Orang tersebut memberikan alamat serta informasi mengenai para pelaku. 

Setelah mengetahui alamat tersebut, Shigeki menyusup ke apartemen sesuai dengan informasi dari penelepon tak dikenal itu. Di sana, ia menemukan beberapa tumpukan tape recorder yang berisi rekaman korban-korban pembunuhan, termasuk anaknya yang dieksekusi dengan cara tak lazim. Duka dan amarah Shigeki memuncak setelah melihat rekaman yang menggambarkan penderitaan anak semata wayangnya. Peristiwa tragis tersebut menyulut emosi dan dendam dalam diri Shigeki. Ia bahkan tidak segan mengadili pelaku dengan tangannya sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh fakta bahwa para pelaku masih di bawah umur. Sesuai dengan ketentuan hukum di Jepang, pelaku anak di bawah umur hukumannya jauh lebih ringan. Oleh karena itu, Shigeki bersikeras menemukan pelaku sebelum polisi menemukannya. Ia merasa tidak adil jika pelaku mendapatkan hukuman yang ringan.

Novel ini merupakan novel misteri yang sangat realistis dalam aspek kasusnya, hukum yang berjalan, serta dampak psikologis bagi korban dan pelaku. Dibandingkan dengan beberapa novel karya Keigo Higashino lainnya, novel ini lebih mudah dibaca dan bahasanya tidak terlalu berat. Hal ini karena beberapa novel terjemahan terkadang memiliki perbedaan makna yang sulit dipahami.

Dalam buku ini, saya sangat mengapresiasi bagaimana penulis menonjolkan dampak dari meninggalnya Ema yang mampu mengubah sang ayah menjadi sedemikian rupa. Suasana yang digambarkan juga begitu menegangkan, seolah-olah pembaca ikut terlibat dalam proses pengejaran para pelaku. Selain itu, pembaca juga diajak melihat berbagai sudut pandang mengenai hukum pidana anak yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.


 Penulis: Syta Syana Iscara





 

Mahasiswa Belajar Membaca Arah

 

 Di bawah lampu ruang baca yang redup,

 kami menatap lembar kebijakan dengan tekun,

 mencari makna di balik setiap huruf, 

 yang menentukan masa depan kampung dan kebun.


 Kami belajar bahwa satu keputusan,

 bisa mengubah harga di pasar,

 bisa membuat petani tersenyum syukur, 

 atau justru membuat hidup semakin sukar. 


 Mahasiswa tidak boleh buta arah, 

 tidak cukup hanya tahu teori dan definisi,

 kami harus berani bertanya dengan gagah,

 ketika kebijakan kehilangan empati dan nurani.


 Mahasiswa bukan hanya penghafal teori, 

 bukan sekadar pemburu nilai tinggi, 

 kami adalah generasi yang peduli, 

 pada masa depan bangsa dan demokrasi. 


 Karya: Anisa Nurrokhimah 

  Tantang Adrenalin di Goa Kayu Ayu, Angkatan Arunaka Dharma Mapala AGNY Perdalam Teknik Caving Sumber: Dokumentasi Mapala AGNY Yogyakarta, ...