Jumat, 22 Mei 2026

 

Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri, Tradisi Penuh Makna yang Terus Dijaga Warga Parangtritis

 

Foto: Instagram/@dinparbantul

Bantul, 17 Mei 2026—Ratusan warga Dusun Mancingan, Parangtritis, Kretek, Bantul, menggelar upacara adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri pada Selasa, 12 Mei 2026, di kawasan Pantai Parangtritis hingga Pantai Parangkusumo. Tradisi tahunan tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas panen raya sekaligus doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan warga. 

Sejak siang hari, peserta kirab mulai bergerak dari kawasan Joglo Parangtritis menuju Pantai Parangkusumo dengan membawa berbagai perlengkapan adat, hasil bumi, sesajen, serta simbol budaya. Iring-iringan warga yang mengenakan beragam busana tradisional berjalan menyusuri bibir pantai dalam suasana budaya yang kental. 

Tradisi ini rutin dilaksanakan masyarakat Mancingan setelah musim panen raya. Bagi warga, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Tuhan atas limpahan rezeki dari tanah dan laut, sekaligus memohon kehidupan yang aman, tenteram, dan berkecukupan pada masa mendatang. 

Berbagai unsur dalam upacara mengandung filosofi tersendiri. Persembahan hasil pertanian yang dibawa dalam prosesi melambangkan penghormatan manusia terhadap alam sebagai sumber penghidupan. Kehadiran simbol Dewi Sri juga mempertegas harapan masyarakat akan keberlanjutan kesuburan lahan pertanian serta kesejahteraan warga.

Setelah menempuh perjalanan menuju kawasan Parangkusumo, seluruh sesajen didoakan bersama sebelum dilaksanakan prosesi pelarungan ke laut. Momen tersebut menjadi puncak ritual yang sarat makna spiritual dan kebersamaan. 

Lebih dari sekadar tradisi adat, Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri juga mencerminkan kuatnya solidaritas masyarakat Mancingan. Persiapan kegiatan melibatkan banyak warga melalui berbagai tahapan, seperti musyawaraj kampung, doa bersama, hingga gotong royong dalam menyiapkan kebutuhan upacara. Nilai kebersamaan dan saling membantu masih menjadi fondasi utama yang dipertahankan hingga kini.

 Pelaksanaan ritual ini juga menarik perhatian masyarakat luas. Warga sekitar maupun pengunjung tampak memadati area prosesi untuk menyaksikan jalannya kirab hingga pelarungan sesaji. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki potensi untuk memperkuat identitas kawasan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. 

Bagi masyarakat, menjaga Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri berarti menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai leluhur yang telah diwariskan lintas generasi. Tradisi yang terus berlangsung selama puluhan tahun ini menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Reporter: Novita Fitriani 


Kamis, 21 Mei 2026

 

Tingkatkan Profesionalisme di Era Digital, LPM SUPER JIMO Gelar Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut

Sumber: dokumentasi panitia


Yogyakarta, 3 Mei 2026 — Di tengah arus informasi digital yang kian deras, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Super JIMO STIA AAN Yogyakarta mengambil langkah strategis untuk memperkuat kualitas jurnalis kampus. Bertempat di Kampus STIA AAN Yogyakarta, LPM Super JIMO berhasil menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut (PJTL) pada Sabtu, 18 April 2026.

Mengusung tema “Penguatan Jurnalisme Mahasiswa di Era Digital: Akurasi, Etika, dan Profesionalisme”, kegiatan ini bertujuan membekali jurnalis mahasiswa agar tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga tetap teguh menjaga integritas dan etika jurnalistik di tengah tantangan zaman.

Puncak acara ditandai dengan penyampaian materi oleh praktisi jurnalistik eksternal, Sarjoko S. Dalam sesinya yang bertajuk “Overhaul Journalism: Mengapa dan Bagaimana Menjadi Jurnalis di Era Rebutan Perhatian”, ia membedah strategi bertahan bagi jurnalis di masa kini tanpa mengorbankan kualitas demi sekadar clickbait.

Setelah pemaparan materi, para peserta ditantang untuk menuangkan gagasan melalui sesi pembuatan mind mapping dan presentasi singkat sebagai bentuk implementasi langsung dari ilmu yang diperoleh.

Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Ketua STIA AAN Yogyakarta, Bapak Happy Susanto, S.Sos., M.A., M.P.A., serta dihadiri oleh Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Humas, Ibu RR. Elisabeth Anggraeni Eksi Wahyuni, S.IP., M.P.A.

Ketua Pelaksana PJTL, Azkia Samrotul Fuadi, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran acara yang dipersiapkan melalui rapat rutin mingguan.

“Saya sangat terkesan dengan antusiasme peserta yang tinggi. Mereka aktif berdiskusi dan bertanya, menunjukkan semangat kuat untuk berkembang. Harapannya, langkah positif ini membawa manfaat bagi kita semua dan ke depannya acara bisa lebih kreatif lagi,” ujar Azkia.

Bagi para anggota LPM Super JIMO, kegiatan ini menjadi pengalaman yang berkesan. Annisa Dwi Maharani, salah satu peserta, mengaku memperoleh banyak ilmu baru yang sangat aplikatif.

“Seru dan menyenangkan! Ini pertama kalinya kami ikut kegiatan PJTL. Kami jadi tahu proses jurnalistik yang lebih mendalam, dan ilmu ini pasti sangat berguna untuk memajukan LPM ke depannya,” ujar Annisa.

Hal senada disampaikan oleh Tanti Trianingsih. Sebagai anggota baru, ia merasa PJTL menjadi wadah untuk memahami dinamika dunia jurnalistik yang sesungguhnya.

“Materi tentang teknik investigasi dan etika media benar-benar membuka mata saya. Saya berharap LPM terus menjadi ruang kreatif yang inklusif dan kritis, serta ke depannya bisa menghadirkan lebih banyak praktisi ahli atau studi lapangan agar kami memiliki gambaran nyata tantangan jurnalis di lapangan,” ujar Tanti.

Melalui suksesnya penyelenggaraan PJTL ini, LPM Super JIMO diharapkan semakin solid secara internal dan terus berani menyuarakan kebenaran melalui karya jurnalistik yang berkualitas dan kredibel.

 

Reporter: Zahra Eka Putri Roseva



  Milad ke-24 BEM STIA AAN Yogyakarta: Dari Solidaritas Menuju Aksi, BEM Tegaskan Peran sebagai Katalis Perubahan Sumber: dokumentasi panit...