Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri, Tradisi Penuh Makna yang Terus Dijaga Warga Parangtritis
Bantul, 17 Mei 2026—Ratusan warga Dusun Mancingan, Parangtritis, Kretek, Bantul, menggelar upacara adat Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri pada Selasa, 12 Mei 2026, di kawasan Pantai Parangtritis hingga Pantai Parangkusumo. Tradisi tahunan tersebut menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas panen raya sekaligus doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan warga.
Sejak siang hari, peserta kirab mulai bergerak dari kawasan Joglo Parangtritis menuju Pantai Parangkusumo dengan membawa berbagai perlengkapan adat, hasil bumi, sesajen, serta simbol budaya. Iring-iringan warga yang mengenakan beragam busana tradisional berjalan menyusuri bibir pantai dalam suasana budaya yang kental.
Tradisi ini rutin dilaksanakan masyarakat Mancingan setelah musim panen raya. Bagi warga, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Tuhan atas limpahan rezeki dari tanah dan laut, sekaligus memohon kehidupan yang aman, tenteram, dan berkecukupan pada masa mendatang.
Berbagai unsur dalam upacara mengandung filosofi tersendiri. Persembahan hasil pertanian yang dibawa dalam prosesi melambangkan penghormatan manusia terhadap alam sebagai sumber penghidupan. Kehadiran simbol Dewi Sri juga mempertegas harapan masyarakat akan keberlanjutan kesuburan lahan pertanian serta kesejahteraan warga.
Setelah menempuh perjalanan menuju kawasan Parangkusumo, seluruh sesajen didoakan bersama sebelum dilaksanakan prosesi pelarungan ke laut. Momen tersebut menjadi puncak ritual yang sarat makna spiritual dan kebersamaan.
Lebih dari sekadar tradisi adat, Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri juga mencerminkan kuatnya solidaritas masyarakat Mancingan. Persiapan kegiatan melibatkan banyak warga melalui berbagai tahapan, seperti musyawaraj kampung, doa bersama, hingga gotong royong dalam menyiapkan kebutuhan upacara. Nilai kebersamaan dan saling membantu masih menjadi fondasi utama yang dipertahankan hingga kini.
Pelaksanaan ritual ini juga menarik perhatian masyarakat luas. Warga sekitar maupun pengunjung tampak memadati area prosesi untuk menyaksikan jalannya kirab hingga pelarungan sesaji. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki potensi untuk memperkuat identitas kawasan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.
Bagi masyarakat, menjaga Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri berarti menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai leluhur yang telah diwariskan lintas generasi. Tradisi yang terus berlangsung selama puluhan tahun ini menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Reporter: Novita Fitriani

