Sabtu, 04 April 2026


Mahasiswa Belajar Membaca Arah

 Karya: Anisa Nurrokhimah 


 Di bawah lampu ruang baca yang redup,

 kami menatap lembar kebijakan dengan tekun,

 mencari makna di balik setiap huruf, 

 yang menentukan masa depan kampung dan kebun.


 Kami belajar bahwa satu keputusan,

 bisa mengubah harga di pasar,

 bisa membuat petani tersenyum syukur, 

 atau justru membuat hidup semakin sukar. 


 Mahasiswa tidak boleh buta arah, 

 tidak cukup hanya tahu teori dan definisi,

 kami harus berani bertanya dengan gagah,

 ketika kebijakan kehilangan empati dan nurani.


 Mahasiswa bukan hanya penghafal teori, 

 bukan sekadar pemburu nilai tinggi, 

 kami adalah generasi yang peduli, 

 pada masa depan bangsa dan demokrasi. 

 

Di Balik Lembar Peraturan

karya: Novita Fitriani

Di sudut kantin Fakultas Ilmu Sosial yang ramai oleh tawa dan suara peralatan makan, Aris memilih duduk agak menjauh. Bukan karena ia sendiri, tetapi karena pikirannya sedang tenggelam pada layar laptopnya. Ia tidak membuka media sosial atau berita viral, melainkan membaca draf Peraturan Daerah tentang tata ruang kota.

Keningnya sedikit berkerut saat menelusuri pasal demi pasal, mencoba memahami makna di balik bahasa hukum yang rumit.

“Ris, kamu serius baca itu?” tanya Bimo sambil duduk di depannya dan menyodorkan kopi.

“Iya,” jawab Aris singkat.

Bimo menghela napas. “Buat apa? Itu kan sudah disahkan. Nggak bakal berubah juga.” Aris menutup laptopnya perlahan.

“Justru karena sudah disahkan, Bim. Dari sini kelihatan kalau zonasi baru bisa menggusur komunitas kreatif di pinggiran kota studio kecil, ruang seni, sampai UMKM.”

Bimo terdiam. Selama ini ia hanya tahu isu itu dari media sosial. “Kamu tahu dari mana?”

Aris tersenyum tipis. “Dari membaca, bukan sekadar scroll.”

Hari-hari berikutnya, Aris mulai mengajak beberapa temannya berdiskusi. Awalnya hanya obrolan santai setelah kelas, tapi lama-kelamaan berkembang menjadi kelompok belajar. Mereka mencetak dokumen, menandai bagian penting, dan membagi tugas membaca.

Kini, mereka tidak hanya membahas apa yang salah, tetapi juga mengapa hal itu terjadi dan apa yang bisa dilakukan.

“Ada celah di sini,” ujar Aris suatu sore.

“Pasal ini belum sinkron. Bisa jadi bahan judicial review atau masuk lewat Perwali.” Diskusi mereka berubah arah dari keluhan menjadi strategi.

Di perpustakaan, mereka mulai menyusun policy brief. Prosesnya tidak mudah. Mereka harus mencari data, membandingkan kebijakan kota lain, dan merumuskan solusi yang masuk akal.

Beberapa kali mereka merasa buntu.

“Ini berat banget, kita cuma mahasiswa,” kata salah satu dari mereka. Aris menjawab pelan, “Justru karena kita mahasiswa. Kita punya waktu belajar dan belum terikat kepentingan.” Kalimat itu cukup untuk membuat mereka bertahan.

Saat hari audiensi tiba, mereka datang dengan pakaian rapi dan dokumen di tangan bukan spanduk. Awalnya dipandang biasa saja, tetapi suasana berubah saat Aris mulai berbicara. Ia menjelaskan dampak ekonomi, potensi hilangnya pekerjaan, hingga contoh kebijakan kota lain dengan tenang dan jelas.

Kepala dinas yang mendengar mulai mencatat.

“Kalian berbeda,” katanya. “Biasanya datang hanya untuk protes. Kalian datang dengan solusi.”

Malamnya, Aris kembali ke perpustakaan. Ia menatap dokumen yang dulu terasa berat, kini terasa bermakna. Ia sadar, melek kebijakan bukan soal terlihat pintar, tapi tentang kepedulian dan keberanian untuk terlibat.

Ia tersenyum pelan. Besok masih ada skripsi dan deadline, tapi ia merasa lebih tenang. Ia bukan lagi sekadar mahasiswa yang mengejar gelar, melainkan warga yang tahu bagaimana menggunakan suaranya.

Di luar, kota tetap berjalan seperti biasa. Namun dalam dirinya, arah telah berubah seperti kompas yang akhirnya menemukan tujuan.

Pesan Moral:

Melek kebijakan publik bukan sekadar mengikuti berita, tetapi memahami isi, dampak, serta cara berpartisipasi dengan cerdas. Kritik yang bermakna lahir dari pemahaman, dan perubahan sering dimulai dari langkah kecil yang konsisten.

 

  Mahasiswa Sadar Kebijakan Publik   Burung terbang di pagi hari, Hinggap sebentar di atas dahan, Jangan hanya pintar sendiri, Pah...