Kamis, 27 November 2025

“Lebih dari Sekadar Pelatihan, Alam Mendidik Persaudaraan Menguatkan”


Yogyakarta – Pada tanggal 16–21 November 2025, Mapala “AGNY” melaksanakan kegiatan DIKSAR atau yang biasa disebut “Special Camp”. DIKSAR dalam kegiatan Mapala merupakan singkatan dari Pendidikan Dasar, yang merupakan tahap awal atau pelatihan dasar yang wajib diikuti calon anggota Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) ”AGNY” sebelum resmi dilantik menjadi anggota. Pada tahun ini, Mapala “AGNY” mengambil tema special camp “Dilatih oleh Alam, Dikuatkan oleh Persaudaraan”. ”Alasan pengambilan tema ini karena melihat antusiasme dan kekompakan calon anggota baru pada angkatan ini”, ujar Karolus Engfaldus Talrim selaku Ketua Panitia Special Camp XXIX.

Pada tahun ini, Mapala “AGNY” memilih lokasi yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang biasanya dilaksanakan di daerah Purworejo. Untuk tahun ini, pelaksanaan special camp dilaksanakan di Bukit Sikunci, Krajan, Pulosaren, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Persiapan special camp dimulai sejak akhir bulan Agustus karena banyak rangkaian latihan serta materi-materi yang akan diimplementasikan di lapangan nantinya. ”Saat survei lokasi tersebut, ditemukan beberapa ular di sekitar wilayah itu, sehingga dalam persiapannya kami menambahkan materi tentang terkait bagaimana cara menghadapi situasi jika peserta bertemu ular”, ujar Ika Wijayanti selaku Ketua Umum Mapala“AGNY”.

”Tujuan DIKSAR ini yaitu untuk melatih dan membentuk karakter yang tangguh, berjiwa petualang, serta belajar survive dan navigasi dalam bertahan hidup di hutan”, ujar Karolus Engfaldus Talrim. Ketua Umum Mapala AGNY, Ika Wijayanti juga menjelaskan dalam pelaksanaan special camp ini terdapat beberapa tantangan yang dihadapi, yaitu mulai dari persiapan karena panitia hanya terdiri atas beberapa orang sementara peserta cukup banyak sehingga memerlukan persiapan ekstra dengan keterbatasan sumber daya manusia. Beberapa kendala seperti kebingungan terkait alat-alat yang diperlukan karena jumlahnya banyak membuat panitia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk meminjam alat ke Mapala lain. Selain itu, kegiatan ini berlangsung bersamaan dengan kegiatan LDK di kampus sehingga sebagian anggota Mapala mengikuti kepanitiaan LDK, menyebabkan semakin sedikit anggota yang terlibat dalam pencarian kebutuhan kegiatan ini. Pada saat pelaksanaan, para peserta juga disambut hujan sehingga jalur menjadi licin dan menyebabkan beberapa peserta terpeleset. Hujan yang membasahi mereka juga menyebabkan barang bawaan menjadi lebih berat saat perjalanan pulang, 

Eva Nur Habibah, salah satu peserta Special Camp XXIX membagikan kesannya setelah mengikuti kegiatan ini. ”Pengalaman paling berkesan dari kegiatan ini adalah kekompakan kami, karena di sana kami saling membantu dan saling menjaga satu sama lain”. Kegiatan ini juga menjadi wadah pembelajaran, dan dalam kegiatan ini banyak ilmu yang dapat digunakan dalam kegiatan Mapala ke depannya.

Reporter: Aprillia Nanda Rahayu

 

 

 

 

Anak Rantau

Aku pergi dengan rindu yang belum sempat selesai,

meninggalkan pintu rumah yang perlahan menutup sunyi.

Di saku kecilku, kusimpan doa Ibu,

di langkahku kutahan gemetar harapan Ayah.


Di kota asing,

aku belajar memeluk sepi tanpa suara.

Kadang hanya dinding kamar

yang tahu beratnya air mata.

 

Ada hari-hari ketika aku ingin pulang,

menyerah pada jarak yang terasa tak berujung.

Namun, aku ingat,

ada mimpi yang menunggu untuk diwujudkan.

 

Namun, aku bertahan

sebab masa depan, tidak tumbuh dari menyerah.

Aku anak rantau,

yang menyulam mimpi dari jarak dan luka.


Dan suatu hari,

aku pulang membawa kemenangan,

serta nama keluarga

yang kutinggikan dengan perjuangan.

Karya: Umi Ida Jauhariyah

 

 

 Puisi Ada hari-hari yang tidak meminta dimengerti, hanya ingin dilewati tanpa kesimpulan. Aku belajar menghormatinya. Aku pernah per...