Jumat, 15 Mei 2026

 

           

Retak yang Menolak Hancur

 

Di pundaknya merayap letih yang tak kunjung usai,

Memikul langit yang ia tahu, barangkali terlalu berat untuk disangga.

Kakinya bergetar di atas titian yang mulai retak,

Namun ia menolak menoleh,  apalagi berbalik arah ke titik mula.

 

Ia paham betul, jemarinya hanyalah ranting yang rapuh,

Sedang dunia adalah badai yang gemar mematahkan apa saja.

Ada ketakutan yang bersembunyi di balik helai napasnya,

Tentang pelik yang tak terpahami, tentang jalan yang kian buta.

 

Namun, di dalam dadanya ada api yang keras kepala,

Sebuah tekad yang lahir dari rahim harapan—harapan sederhana.

Ia tak punya sayap, tapi ia terus belajar cara terbang,

Menantang jerat duka dengan seluruh tenaga yang tersisa.

 

Sebab baginya, menyerah adalah kematian sebelum waktunya,

Maka ia memilih terus berjalan, meski dengan langkah yang terluka.

Ia adalah anomali di tengah musim yang dingin,

Bunga yang memaksa mekar tepat di jantung batu yang asing.

 

                              Karya: Ajeng Putri

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

              Retak yang Menolak Hancur   Di pundaknya merayap letih yang tak kunjung usai, Memikul langit yang ia tahu, barangkali terlal...