Jumat, 02 Mei 2025

Senyap di Tengah Keramaian

 Layar ponsel berpijar di tengah kegelapan kamar, menampilkan deretan wajah-wajah yang tersenyum lebar, berlatar belakang pesta yang meriah. "Pasti seru banget," gumam Riska, jari-jari lentiknya menelusuri reels Instagram. Foto dan video itu seakan mengejek kesunyian yang mencengkeram hatinya.

Riska, gadis Gen Z berusia 19 tahun, merasa asing di tengah hiruk-pikuk dunia maya. Di media sosial, hidupnya terlihat sempurna. Riska gemar mengunggah foto-foto dengan caption yang memperlihatkan kehidupan yang ceria dan menarik. Namun, di balik layar, Riska merasa sunyi dan hampa. Riska merasa kesepian di kampus. Ia memiliki banyak teman, tapi  hanya di dunia maya.

Saat berkumpul bersama, mereka lebih sibuk menatap ponsel, mengunggah cerita di  Instagram, atau mencari Wi-Fi yang kuat. Percakapan mereka pun terbatas pada komentar singkat tentang foto yang diunggah. Riska mencoba mencari kehangatan di dunia nyata. Dia ikut klub literasi, bergabung dengan komunitas pecinta film, bahkan mencoba menjalin  hubungan dekat dengan teman sekelasnya.

Namun, ketakutan menyergap ketika dia mulai membuka hati. "Nanti kalau aku dekat sama dia, dia akan ngeliat aku yang asli, yang sering merasa kesepian, yang takut mengungkapkan perasaan." Riska menunduk, menutup wajah dengan telapak tangan. Riska merasa terjebak dalam lingkaran kesepian yang membingungkan. Dunia maya memikat dengan kesan kehangatan dan kedekatan, namun menjauhkan dia dari hubungan yang sesungguhnya.

Suatu malam Riska mencoba menulis sebuah cerita tentang perasaan kesepian yang menyerangnya. Dia menulis tentang kerinduan will have deep conversations yang menyenangkan, tentang keinginan untuk berbagi perasaan dengan seseorang yang benar-benar mendengarkan. Riska mengunggah ceritanya di akun media sosial pribadinya. Dia tak mengharapkan respons apapun, hanya ingin mengeluarkan perasaan yang menumpuk dalam hatinya. Beberapa hari kemudian, Riska terkejut ketika mendapat pesan dari seseorang yang mengatakan merasa terhubung dengan ceritanya. Mereka bertukar pesan, berbagi perasaan, dan pengalaman, hingga terjalin pertemanan yang hangat.

Perlahan, Riska mulai merasa tak lagi kesepian. Ia mendapatkan teman baru yang mengerti perasaan dan kegelisahannya. Riska mulai mencintai dirinya sendiri, menerima kelemahan dan kekuatannya. Riska mulai menata kembali hubungannya dengan dunia maya. Dia tetap menikmati media sosial, tapi tak lagi terpaku padanya. Riska mencari kebahagiaan dalam hubungan nyata, dalam percakapan yang mendalam, dalam kehangatan persahabatan yang asli.

Riska menyadari bahwa kebahagiaan tak berada di balik layar, melainkan di dalam hubungan yang tulus dan bermakna.


Dibuat Oleh : Elisabeth Kansia Nona Isna dan Ade Ningsih S.P. Ngangka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Puisi Ada hari-hari yang tidak meminta dimengerti, hanya ingin dilewati tanpa kesimpulan. Aku belajar menghormatinya. Aku pernah per...