Layar ponsel berpijar di tengah kegelapan kamar, menampilkan deretan wajah-wajah yang tersenyum lebar, berlatar belakang pesta yang meriah. "Pasti seru banget," gumam Riska, jari-jari lentiknya menelusuri reels Instagram. Foto dan video itu seakan mengejek kesunyian yang mencengkeram hatinya.
Riska, gadis Gen Z berusia 19 tahun,
merasa asing di tengah hiruk-pikuk dunia maya. Di media sosial, hidupnya
terlihat sempurna. Riska gemar mengunggah foto-foto dengan caption yang memperlihatkan kehidupan yang ceria dan menarik.
Namun, di balik layar, Riska merasa sunyi dan hampa. Riska merasa kesepian di
kampus. Ia memiliki banyak teman, tapi
hanya di dunia maya.
Saat berkumpul bersama, mereka lebih
sibuk menatap ponsel, mengunggah cerita di
Instagram, atau mencari Wi-Fi yang kuat. Percakapan mereka pun terbatas
pada komentar singkat tentang foto yang diunggah. Riska mencoba mencari
kehangatan di dunia nyata. Dia ikut klub literasi, bergabung dengan komunitas
pecinta film, bahkan mencoba menjalin
hubungan dekat dengan teman sekelasnya.
Namun, ketakutan menyergap ketika
dia mulai membuka hati. "Nanti kalau aku dekat sama dia, dia akan ngeliat
aku yang asli, yang sering merasa kesepian, yang takut mengungkapkan
perasaan." Riska menunduk, menutup wajah dengan telapak tangan. Riska
merasa terjebak dalam lingkaran kesepian yang membingungkan. Dunia maya memikat
dengan kesan kehangatan dan kedekatan, namun menjauhkan dia dari hubungan yang
sesungguhnya.
Suatu malam Riska mencoba menulis
sebuah cerita tentang perasaan kesepian yang menyerangnya. Dia menulis tentang
kerinduan will have deep conversations
yang menyenangkan, tentang keinginan untuk berbagi perasaan dengan seseorang
yang benar-benar mendengarkan. Riska mengunggah ceritanya di akun media sosial
pribadinya. Dia tak mengharapkan respons apapun, hanya ingin mengeluarkan
perasaan yang menumpuk dalam hatinya. Beberapa hari kemudian, Riska terkejut
ketika mendapat pesan dari seseorang yang mengatakan merasa terhubung dengan
ceritanya. Mereka bertukar pesan, berbagi perasaan, dan pengalaman, hingga
terjalin pertemanan yang hangat.
Perlahan, Riska mulai merasa tak
lagi kesepian. Ia mendapatkan teman baru yang mengerti perasaan dan
kegelisahannya. Riska mulai mencintai dirinya sendiri, menerima kelemahan dan
kekuatannya. Riska mulai menata kembali hubungannya dengan dunia maya. Dia
tetap menikmati media sosial, tapi tak lagi terpaku padanya. Riska mencari
kebahagiaan dalam hubungan nyata, dalam percakapan yang mendalam, dalam
kehangatan persahabatan yang asli.
Riska menyadari bahwa kebahagiaan
tak berada di balik layar, melainkan di dalam hubungan yang tulus dan bermakna.
Dibuat Oleh : Elisabeth Kansia Nona Isna dan Ade Ningsih S.P. Ngangka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar