Kamis, 30 April 2026

 

Rumah dalam Langit

 

Sunyi…

Tak bersuara ia sama sekali,

Berbisik apalagi…

 

Dalam rengkuhnya kami hidup tak kekurangan,

Dalam genggamnya kami dijaga dua puluh empat jam.

Tidakkah ia merasa lelah,

Meski usia, siapalah yang mengira.

 

Tapi, tak sedikit yang kian menyakiti,

Hanya terhitung yang tahu balas budi.

Tubuhnya digores monster besar bergigi tajam,

Tubuhnya dikikir besi, pisau, dan sembilu tajam.

Terpaku, terantai…

Rambut hijaunya telah digunduli,

Berganti pasir, tanah, dan kerikil.

 

Ia sudah sering menangis,

Air matanya selalu membendung bak lautan.

Tapi, siapa yang peduli?

Tak ada yang mengaku salah,

Semua merasa benar dan hanya menganggap takdir alam.

 

Sampai kapan?

Sampai ia melepas kita dari rengkuhnya?

Sampai ia tak lagi mau menjadi rumah?

 

          Karya: Salwa Azzahra Muthi  

 

Juangku 

 

Nampak sudah buku-buku menggunung,

Mata sayu, sendu, langkah terasa limbung.

Menuntut ilmu memang tidaklah mudah,

Tapi siapa yang tak ingin segera sudah? 

Niat, doa di sepertiga malam,

 

Langkah demi langkah kupastikan terarah.

Namun, siapa yang tahu?

Juangku terkadang penuh ragu,

Anganku seolah terlalu ingin dirindu.

 

Apakah badai yang memiliki waktu,

Menentukan sampai mana juangku akan berakhir.

 

Aku terdiam tanpa suara,

Mengingat senyum indah yang telah pergi ke surga,

Mengingat ia yang doanya sampai kini melindungiku.

 

Aku harus bisa…

Aku mampu…

Untuk ibu, ayah, dan masa depanku.

 

          Karya: Salwa Azzahra Muthi 


  Tantang Adrenalin di Goa Kayu Ayu, Angkatan Arunaka Dharma Mapala AGNY Perdalam Teknik Caving Sumber: Dokumentasi Mapala AGNY Yogyakarta, ...