Sabtu, 04 April 2026

 

BEM STIA “AAN” Yogyakarta Gelar Kajian Ramadan dan Buka Bersama


KEBERSAMAAN RAMADHAN: Suasana hangat saat civitas akademika STIA "AAN" Yogyakarta melakukan foto bersama usai kajian. (Dokumentasi: BEM STIA "AAN" Yogyakarta)

 

Yogyakarta, 28 Februari 2026 – Badan Eksekutif  Mahasiswa (BEM) STIA “AAN” Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan kajian Ramadan yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama di Ruang 12 dan 13 Kampus STIA. Mengusung tema “Tebarkan Kebaikan, Raih Kebersamaan, dan Raih Keberkahan di Bulan Ramadan,” acara ini dihadiri oleh anggota BEM serta civitas akademika kampus, termasuk dosen dan karyawan STIA “AAN” Yogyakarta, dalam suasana penuh kebersamaan.

 

Kajian ini menghadirkan penceramah Dr. Suyanto, S.Ag., M.S.I., M.Pd. yang menyampaikan materi mengenai pentingnya memanfaatkan bulan Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas diri, memperbanyak amal kebaikan, serta menjaga hubungan baik dengan sesama. Ketua panitia menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih karena bulan Ramadan merupakan waktu yang tepat bagi mahasiswa untuk memperbaiki diri sekaligus mempererat kebersamaan dalam organisasi. “Ramadan merupakan momen yang tepat untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya. Peserta lainnya juga menilai bahwa kegiatan tersebut memberikan banyak manfaat.

Melalui kegiatan kajian dan buka puasa bersama ini, diharapkan kebersamaan antaranggota BEM dan civitas akademika STIA “AAN” Yogyakarta semakin kuat. Semangat menebarkan kebaikan pun diharapkan tidak berhenti di bulan Ramadan, melainkan terus terjaga dalam setiap kegiatan organisasi ke depan.

 

Reporter: Naila Nur Arifah


 

Review Novel Tragedi Pedang Keadilan (Samayou Yaiba / さまよう刃) karya Keigo Higashino


Sumber gambar: Google Images

 

Novel ini menceritakan perjalanan pembalasan dendam seorang ayah bernama Nagamine Shigeki. Ia adalah ayah dari Nagamine Ema yang menjadi korban pelecehan seksual sekaligus pembunuhan. Ema saat itu pergi menonton festival musim panas, tetapi ia tidak pernah pulang hingga mayatnya ditemukan di sungai. Di tengah proses penyelidikan, Nagamine Shigeki menerima telepon dari seseorang yang tidak dikenalnya. Orang tersebut memberikan alamat serta informasi mengenai para pelaku. 

Setelah mengetahui alamat tersebut, Shigeki menyusup ke apartemen sesuai dengan informasi dari penelepon tak dikenal itu. Di sana, ia menemukan beberapa tumpukan tape recorder yang berisi rekaman korban-korban pembunuhan, termasuk anaknya yang dieksekusi dengan cara tak lazim. Duka dan amarah Shigeki memuncak setelah melihat rekaman yang menggambarkan penderitaan anak semata wayangnya. Peristiwa tragis tersebut menyulut emosi dan dendam dalam diri Shigeki. Ia bahkan tidak segan mengadili pelaku dengan tangannya sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh fakta bahwa para pelaku masih di bawah umur. Sesuai dengan ketentuan hukum di Jepang, pelaku anak di bawah umur hukumannya jauh lebih ringan. Oleh karena itu, Shigeki bersikeras menemukan pelaku sebelum polisi menemukannya. Ia merasa tidak adil jika pelaku mendapatkan hukuman yang ringan.

Novel ini merupakan novel misteri yang sangat realistis dalam aspek kasusnya, hukum yang berjalan, serta dampak psikologis bagi korban dan pelaku. Dibandingkan dengan beberapa novel karya Keigo Higashino lainnya, novel ini lebih mudah dibaca dan bahasanya tidak terlalu berat. Hal ini karena beberapa novel terjemahan terkadang memiliki perbedaan makna yang sulit dipahami.

Dalam buku ini, saya sangat mengapresiasi bagaimana penulis menonjolkan dampak dari meninggalnya Ema yang mampu mengubah sang ayah menjadi sedemikian rupa. Suasana yang digambarkan juga begitu menegangkan, seolah-olah pembaca ikut terlibat dalam proses pengejaran para pelaku. Selain itu, pembaca juga diajak melihat berbagai sudut pandang mengenai hukum pidana anak yang menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.


 Penulis: Syta Syana Iscara




  Mahasiswa Sadar Kebijakan Publik   Burung terbang di pagi hari, Hinggap sebentar di atas dahan, Jangan hanya pintar sendiri, Pah...