Minggu, 14 Desember 2025

Perayaan Milad ke-13 dan Launching Buletin Vol. 19 LPM Super JIMO Berlangsung Meriah dan Penuh Makna di Puri Mataram

 

Sumber: Dok. Panitia Milad LPM

Yogyakarta, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Super JIMO Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi “AAN” Yogyakarta kembali merayakan Milad ke-13 dan Launching Buletin Intens Vol. 19 bertempat di Puri Mataram. Acara istimewa ini mengusung tema “Tetap Menulis, Tetap Ada. 13 Tahun Super JIMO Bertahan Karena Makna”, serta tema Launching Buletin “Generasi Bertanya, Negeri Menjawab”, yang mencerminkan ruang dialog kritis antara generasi muda dan isu–isu kebangsaan yang terus berkembang.

Ketua Panitia, Amanda Rahmawati, menjelaskan bahwa kedua tema tersebut mencerminkan perjalanan panjang LPM Super JIMO sekaligus semangat baru dalam dunia literasi kampus. “Makna acara ini bukan hanya perayaan ulang tahun organisasi, tetapi kesempatan untuk menjalin silaturahmi dengan alumni, dosen, dan sesama anggota LPM” ungkapnya. Agar acara dapat berlangsung dengan baik, panitia melakukan persiapan secara intensif. Amanda menjelaskan bahwa setiap minggu panitia mengadakan rapat rutin. “Kami benar-benar memaksimalkan persiapan. Setiap minggu kami rapat supaya pada hari H semuanya berjalan lancar,” ujarnya.

Acara dimulai dengan sesi sambutan dari Ketua STIA “AAN” dan Pimpinan Umum LPM Super JIMO, kemudian dilanjutkan dengan bedah buletin sebagai agenda utama yang dilakukan oleh Divisi Keredaksian. Selanjutnya momen pemotongan kue menjadi simbol perayaan usia ke-13 LPM Super JIMO, menandai perjalanan panjang organisasi pers mahasiswa. Sebagai ketua panitia. Amanda mengungkapkan rasa bangganya, “Aku senang bisa ikut merayakan dan terlibat langsung. Dua acara ini sangat penting bagi LPM, dan menjadi kebanggaan tersendiri buat aku,” tuturnya.

Salah satu anggota baru LPM Super JIMO tahun 2025, Salsa Nabila Suwarno, turut membagikan kesan pertamanya mengikuti milad dan launching buletin. “Kesan saya sangat baik dan menyenangkan. Acaranya sederhana, tetapi justru itu yang membuat suasana terasa dekat dan hangat. Saya juga bangga bisa ikut melihat langsung semangat dan kerja keras teman-teman dalam menerbitkan buletin,” ujarnya. Ia juga berharap kegiatan ini dapat terus berkembang dan melibatkan lebih banyak anggota. “Semoga acaranya bisa dipertahankan dan dibuat lebih ramai. Untuk buletinnya, semoga terus konsisten terbit sebagai wadah berbagi cerita dan karya. Saya berharap organisasi ini semakin maju ke depannya.”

Amanda juga menyampaikan harapannya agar Perayaan Milad dan Launching Buletin Vol. 19 menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya. “Semoga tahun depan acaranya bisa lebih baik dan menghadirkan inovasi baru yang berbeda,” katanya. PerayaanMmilad ke-13 dan Launching Buletin Vol. 19 menjadi bukti bahwa LPM Super JIMO terus tumbuh, berdiri, dan berkarya. Dengan semangat luar biasa dan tidak mudah pantang menyerah, organisasi ini berkomitmen untuk terus menjadi ruang kreatif, ruang belajar, dan ruang berproses bagi mahasiswa yang mencintai dunia literasi dan jurnalistik.

Reporter: Nana Lestari

 

 


Jumat, 12 Desember 2025

“Jam Dinding yang Bernapas”

Di sebuah rumah tua yang terletak di ujung kebun pala, tergantung sebuah jam dinding tua berwarna coklat kusam. Tidak ada yang istimewa dari jam itu—sampai kau berdiri tepat di hadapannya dan menutup mata selama lima detik.

 

Saat detik kelima berlalu, jam itu mulai... bernapas.

Pelan, seperti seseorang yang baru bangun dari tidur panjang. Napasnya terdengar seperti desir kain tua yang disentuh angin.

 

Raya, cucu pemilik rumah itu, adalah orang pertama yang menyadarinya.

Malam itu, ketika listrik padam, ia berjalan melewati ruang tengah hanya dengan cahaya lilin. Lilin itu tiba-tiba meredup, seolah takut pada sesuatu. Raya berhenti.

Ia mendengar tarikan napas—panjang, berat, dan teratur—dari arah dinding.

 

Jam itu perlahan bergetar… lalu berbicara.

Suara tuanya terdengar menggema seperti kayu retak.

“Waktu yang kaulihat di wajahku… bukan waktumu.”

 

Raya merinding.

“Apa maksudmu?”

 

Detik jam berhenti. Jarumnya tidak bergerak, namun sang jam tetap menghela napas.

“Aku menyimpan waktu yang hilang. Waktu yang manusia buang tanpa sadar. Setiap penyesalan, setiap niat yang gagal, setiap rencana yang hanya tinggal angan—semua itu menjadi milikku.”

 

Raya menelan ludah.

“Lalu… kenapa kau bicara padaku?”

 

Jam itu menghembuskan napas yang lebih berat.

“Karena kau punya menit yang ingin kautarik kembali.”

Raya langsung paham: menit di mana ia terlambat meminta maaf pada ibunya sebelum kepergian terakhir.

Sesuatu yang selalu menghantuinya.

“Bisakah… aku mengambilnya kembali?” suara Raya gemetar.

 

Jam itu tidak menjawab dengan kata-kata.

Jarumnya bergerak mundur dengan cepat—tik-tik-tik-tik—seperti seseorang yang sedang menata ulang kenangan. Ruangan mendadak dipenuhi aroma bunga melati yang dulu sering dipakai ibunya.

 

Lilin di tangan Raya padam.

 

Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di ruang tamu.

Ia berdiri di dapur terang dengan aroma sayur sop. Ibunya sedang memotong wortel, tersenyum seperti hari biasa. Senyum yang sudah lama hilang.

 

Raya tahu ia hanya diberi satu menit.

Satu menit untuk melakukan hal yang tak pernah sempat ia lakukan.

Ia memeluk ibunya dari belakang.

“Aku pulang, Bu… maaf kalau selama ini aku terlambat.”

Ibunya tertawa kecil. “Kamu kenapa tiba-tiba sedih begitu?”

Raya tidak menjawab. Ia hanya memeluk lebih erat.

Ketika menit itu habis, semua cahaya runtuh seperti pasir.

Raya kembali berdiri di depan jam dinding yang kini diam, tidak bernapas lagi.

Jarum jam menunjukkan waktu yang sama seperti tadi pertama kali ia melihatnya.

Namun kali ini Raya tersenyum.

 

Ia tidak mendapatkan ibunya kembali—tapi ia mendapatkan waktu yang tidak lagi menusuk.

 

Jam itu berderak pelan, lalu bisikannya memudar:

“Waktu yang dipulangkan… tidak akan hilang.”

 

 Oleh: Eviani candran D.P

 


 Puisi Ada hari-hari yang tidak meminta dimengerti, hanya ingin dilewati tanpa kesimpulan. Aku belajar menghormatinya. Aku pernah per...