Selasa, 11 Juni 2024

Jalan Sehat STIA “AAN” Yogyakarta Meriahkan Dies Natalis Ke-45

 

STIA “AAN” Yogyakarta menyelenggarakan jalan sehat pada Sabtu, 8 Juni 2024 sebagai salah satu rangkaian Dies Natalis Ke-45. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh mahasiswa, dosen, karyawan dan warga sekitar. Kegiatan ini bertujuan untuk menyemarakkan suasana dan mempererat hubungan.

Pada acara jalan sehat ini panitia telah menyiapkan berbagai hadiah, seperti sepeda, mesin cuci, dan puluhan hadiah hiburan lainnya bagi peserta yang beruntung. Selain itu juga terdapat berbagai stand yang menjual makanan dan minuman. Mulai dari ekado ayam yang lezat, cilok yang gurih, es choco bliss yang menyegarkan, hingga siomay ayam yang menggugah selera.

Acara jalan sehat dibuka dengan sambutan hangat dari ketua STIA “AAN”, Bapak Happy Susanto, S. Sos, M.A., M.P.A. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam memeriahkan acara jalan sehat.

Pukul 07.45 WIB, peserta memulai perjalanan dari kampus STIA “AAN”. Rute jalan sehat mengambil arah menuju STIMARYO, melewati Jalan Magelang, Jalan Karangwaru Lor, dan melintasi kedai takoyaki di sebelah kiri jalan. Perjalanan berakhir di kampus STIA  “AAN”, di mana peserta dapat menikmati suasana meriah dan kesempatan untuk memenangkan hadiah yang menarik.

Pada kesempatan tersebut, seorang mahasiswa baru STIA “AAN” juga berbagi alasan ketertarikannya dalam mengikuti acara jalan sehat tersebut. Menurutnya, selain tertarik dengan hadiah-hadiah menarik yang ditawarkan, ini merupakan pengalaman pertamanya sebagai mahasiswa baru dalam merayakan Dies Natalis kampus. Acara ini dianggapnya sebagai ajang untuk mempererat silaturahmi dengan para kakak tingkat dan alumni kampus.

"Saya senang sekali, acara yang diadakan sangat seru, hiburan yang diberikan sangat menghibur," ucap Vani.

Harapannya, acara tersebut dapat menjadi wadah untuk mempererat silaturahmi antara kampus dengan para alumni dan masyarakat sekitar.

"Dengan acara ini, semoga bisa menjadi tempat untuk mempererat silaturahmi antara kampus dengan alumni dan masyarakat sekitar," ujarnya.

Dalam kesan dan pesannya, mahasiswa tersebut menyampaikan harapannya agar acara Dies Natalis Ke-45 ini membawa berkah dan kebahagiaan bagi semua partisipan yang hadir. Ia juga berharap acara ini menjadi simbol kekeluargaan bagi seluruh orang, baik mahasiswa, alumni, maupun masyarakat sekitar. Ia juga berharap agar acara ini dapat dilaksanakan dengan skala yang lebih besar di masa mendatang dengan partisipasi peserta yang lebih banyak dan antusias.

 


Reporter

Anggie Drasandy

Aprillia Nanda Rahayu



Jumat, 24 Mei 2024

Kehangatan Gedhong Patehan

 Di pagi yang cerah, Davis melangkah dengan semangat di tengah keramaian kota Yogyakarta. Hatinya berdebar kencang, karena hari ini dia akan mengunjungi Gedhong Patehan, sebuah tempat budaya yang selalu membuatnya penasaran sejak lama. Meski sudah bertahun-tahun tinggal di Yogyakarta, ini adalah pertama kalinya Davis mengunjungi tempat itu.

Perjalanan menuju Gedhong Patehan tidaklah sulit. Davis mengikuti petunjuk dengan teliti, menyusuri jalan-jalan yang ramai dengan kendaraan dan pedagang kaki lima yang sibuk. Setelah beberapa waktu, bangunan bersejarah yang megah mulai terlihat dari kejauhan, memancarkan aura yang khas.

Sesampainya di Gedhong Patehan, Davis merasa seperti masuk ke dalam sebuah kisah dongeng. Bangunan-bangunan bersejarah dengan arsitektur tradisional Jawa mengelilingi lapangan terbuka yang luas. Suasana tenang dan damai membuatnya merasa seolah waktu berputar mundur ke masa lalu yang penuh kejayaan. 

Davis berjalan-jalan di sekitar Gedhong Patehan, memperhatikan setiap detail dengan penuh kagum. Dia melihat gambar-gambar yang menggambarkan tokoh-tokoh legendaris, lukisan-lukisan yang memperlihatkan keindahan alam dan kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa tempo dulu, serta berbagai benda adat-istiadat yang dipajang dengan indah.

Tak hanya itu, Davis juga terpesona dengan pertunjukan seni yang digelar di Gedhong Patehan. Ada tarian-tarian tradisional yang menggugah hati, musik-musik klasik yang merdu, dan cerita-cerita rakyat yang disampaikan dengan penuh semangat. Dia merasa bahwa setiap gerakan dan nada yang dihasilkan oleh para seniman adalah ungkapan kekayaan budaya yang harus dilestarikan.

Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, Davis duduk di bawah pohon besar di sudut Gedhong Patehan. Dia merenung, merenungkan betapa beruntungnya dirinya bisa melihat langsung keindahan tempat ini. Di sanalah dia menyadari bahwa kekayaan budaya bukanlah sekadar warisan dari masa lalu, tapi juga sebuah harta yang harus dijaga dan dihargai oleh generasi-generasi mendatang.

Dengan hati yang penuh rasa syukur, Davis meninggalkan Gedhong Patehan. Namun, kenangan akan pengalaman indahnya di tempat itu akan selalu terpatri dalam ingatannya. Dari hari itu, dia berjanji untuk selalu menghargai dan mempromosikan kekayaan budaya Indonesia, agar tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi yang terus bergerak maju.


Penulis : Rokhim

  Tantang Adrenalin di Goa Kayu Ayu, Angkatan Arunaka Dharma Mapala AGNY Perdalam Teknik Caving Sumber: Dokumentasi Mapala AGNY Yogyakarta, ...