Kamis, 04 April 2024

“Kejutan Hari Raya Idul Fitri”

 

Mentari pagi baru saja menyapa bumi, memancarkan sinar kehangatan. Di sebuah kota besar di Pulau Jawa hidup seorang anak perempuan yang bernama Fara. Fara adalah seorang mahasiswa yang telah merantau jauh untuk menempuh pendidikan. Setiap tahun saat Idul Fitri tiba Fara selalu merindukan suasana hangat dan kebersamaan di rumah bersama keluarganya.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Fara memiliki rencana spesial. Fara memutuskan untuk pulang ke kampung halaman tanpa memberitahu siapapun, termasuk keluargannya. Fara berencana untuk pulang ke kampung halaman saat malam takbiran menjelang Idul Fitri. Fara memesan tiket Kereta Api untuk kembali pulang ke kampung halamannya.

Saat hari dimana waktunya Fara bertolak ke kampung halamannya semua menjadi terasa begitu menyenangkan, bahkan diperjalananpun Fara sudah tidak sabar untuk cepat sampai. Setelah sampai di Stasiun Kota pada dini hari, Fara dengan cepat menuju taksi online yang sudah dipesannya untuk mengantarkan dirinya ke rumah orang tuanya tinggal.

Fara melangkahkan kakinya menuju salah satu mobil yang diperkirakan itu adalah taksi online yang dipesannya.

“Dengan Pak Rusdi?” tanya Fara kepada sang supir yang celingak-celinguk mencari keberadaan penumpangnya.

“Oh iya, Mbak Fara ya?” sapa Pak Rusdi “Ayo, Mbak masuk mobil, kopernya biar saya simpan di bagasi belakang”.

“Terima kasih, Pak” Fara menyerahkan kopernya lalu masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.

Ketika mobil sudah dijalankan oleh Pak Rusdi, suasana di dalam mobil amat sangat begitu senyap hanya terdengar lantunan takbiran yang berasal dari setiap masjid di kota kelahirannya

“Mbak Fara baru pulang dari rantauan ya? Mepet sekali dengan Idul Fitri” tanya Pak Rusdi, suaranya memecahkan kesunyian dalam mobil.

“Iya Pak, sengaja. Sudah lama saya tidak pulang”.

“Lebih baik begitu Mbak. Orang tua pasti menunggu kehadiran anaknya, seramainya orang berkunjung ke rumah pasti orang tua tetap menantikan kunjungan dan kepulangan dari anaknya”

“Iya Pak. Ini saja saya sengaja tidak memberitahu orang rumah kalau tahun ini ingin pulang” jawab Fara sambil tersenyum.

“Oh, kalo kata anak muda sekarang prank ya Mbak?”

“Nggeh, Pak”

“Pasti si Ibuk sama Bapaknya seneng nih tahu anaknya pulang, selamat berkumpul dengan keluarga ya Mbak”

“Baik, Pak. Bapak juga selamat berkumpul dengan keluarga ya Pak”

“Nggeh, Mbak”

Ketika sudah sampai di depan rumahnya dan tidak lupa Fara berterimakasih kepada Pak Rudi. Dengan hati yang berdebar-debar, Fara mencoba melangkah menuju halaman rumah dan mengetuk pintu rumahnya. Siapa sangka yang membuka pintu adalah ibunya.

“Ibu” Panggil Fara.

“Fara. Ya Allah, Nduk, kamu kenapa gak bilang ibu dulu kalo mau pulang?” dengan tergopoh-gopoh ibunya menghampiri Fara, memeluknya dengan erat.

“Sengaja Ibu, kejutan!”

“Kamu ini. Dah, ayok masuk dingin di luar. Ayahmu masih tidur sana bangunin, pasti kaget kalo tahu anaknya ini tiba-tiba pulang” Titah Ibunya.

Fara menuju kamar Orang Tuanya untuk membangunkan Ayahnya, dengan pelan Fara mengguncang tubuh Ayahnya agar terjaga. “Ayah. Fara pulang” tepuk Fara pelan pada bahu ayahnya.

Tak lama ayahnya terjaga “Fara. Ya Allah, Nduk. Akhirnya kamu pulang, Ayah kira kamu gak akan pulang” Ayah langsung memeluk Fara dengan erat, melepaskan pelukan menelisik anaknya lalu memeluknya kembali seolah-olah masih tidak percaya bahwa anak perempuannya sekarang berada dalam dekapannya.

“Ayah. Fara bawa sesuatu buat Ayah sama Ibu” Fara memberikan satu set setelan pakaian kepada kedua orang tuanya

“Kamu pulang aja Ibu sudah senang, tapi makasih ya Nduk bajunya” Ibunya ikut bergabung bersama Ayah dan Fara “Wah, bagus sekali. Kamu pinter milihnya” Ibunya berdiri untuk mencoba mencocokkan pakaiannya pada tubuhnya sambil berlenggak-lenggok.

“Ayah juga suka sama kokonya. Wah, Ibu coupel an kita” seru Ayah antusias. Ayah berdiri bergabung dengan Ibu untuk mencocokkan pakaiannya. Mereka berdua berlenggak-lenggok bak model didepan Fara.

“Kayak muda lagi kita Ayah pake barang samaan” Ayah dan Ibunya berjingkrak-jingkrak kesenangan. Fara yang melihat hal itu tertawa merasa terhibur dengan tingkah orang tuanya.

Keesokan paginya, di pagi Hari Raya Idul Fitri yang cerah serta lantunan takbir berkumandang di penjuru Negeri. Setelah Sholat Ied para saudara mulai berdatangan berkunjung, Fara berserta sanak-saudaranya sedang berkumpul di ruang tamu. Mereka berkumpul dengan suasana hangat dan bahagia karena dapat berkumpul dengan anggota keluarga yang lengkap.

Fara merasakan kebahagiaan yang luar biasa, hari itu merupakan hari paling bahagia bagi Fara karna dapat melihat senyum orang tuanya dan Fara dapat memastikan bahwa mereka baik-baik saja selama Fara tinggal pergi merantau. Fara berfikir bahwa pulang saat Hari Raya adalah keputusan yang sangat tepat, dengan begitu Fara dapat makan bersama, bercanda gurau, dan saling berbagi cerita pada keluarga serta saudaranya hingga sang fajar datang. Kejutan yang Fara lakukan pada Idul Fitri tahun ini menjadi kenangan indah yang akan selalu dikenang oleh dirinya dan keluarganya. Hingga saat itu, kehadiran Fara selalu dinantikan kepulangannya setiap tahun saat Hari Raya Idul Fitri tiba.

“Dan untuk siapapun yang pulang untuk Merayakan Idul Fitri, selamat berkumpul dengan keluarga yang tersayang dan semoga amalan yang dikumpulkan selama Bulan Ramadhan dapat diterima dan bermanfaat bagi siapapun.  Untuk itu Saya Ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah, Minal ’Aidin Wal-Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin”


Penulis : Desvana Aulia Dian Safitri

Jumat, 29 Maret 2024

“Kisah Keberanian Aisyah"

 

Di sebuah desa kecil di pinggiran kota, hiduplah seorang gadis muda bernama Aisyah. Dia terkenal akan kebaikannya, selalu membantu siapa saja yang membutuhkan. Di akhir bulan Maret, desa mereka diterpa hujan yang tak kunjung reda. Sungai yang biasanya tenang, kini mengamuk tak terkendali, mengancam akan meluap dan merendam desa.

 

Pada suatu sore, ketika langit masih mendung dan hujan turun dengan lembut, Aisyah mendengar kabar bahwa bendungan di hulu sungai mulai retak. Jika bendungan itu jebol, desa mereka akan tenggelam dalam waktu singkat. Tanpa pikir panjang, Aisyah berlari ke rumah kepala desa, Pak Dharma, untuk memberitahu tentang bahaya yang mengancam.

 

Dengan cepat, Pak Dharma mengumpulkan warga desa. Mereka merencanakan untuk membuat barikade sementara dengan karung berisi pasir di sepanjang tepi sungai. Aisyah, dengan semangat juang yang membara, memimpin para pemuda desa dalam usaha ini. Meskipun hujan deras dan angin kencang, mereka bekerja bahu membahu tanpa kenal lelah.

 

Malam itu, saat mereka masih sibuk memperkuat pertahanan desa, tiba-tiba air sungai mulai naik dengan cepat. Semua warga panik, tetapi Aisyah dengan tenang mengarahkan mereka untuk tetap berfokus pada tugas. Berkat usaha keras mereka, aliran sungai berhasil dialihkan, dan desa terselamatkan dari bencana yang nyaris terjadi.

 

Keesokan harinya, matahari kembali bersinar. Warga desa bersyukur atas keajaiban yang terjadi. Mereka berterima kasih kepada Aisyah, yang telah mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan desa. Pak Dharma, dengan mata berkaca-kaca, memeluk Aisyah erat. "Kau telah menunjukkan keberanian yang luar biasa, anak muda. Kau telah menyelamatkan desa kita," ujarnya dengan suara bergetar.

 

Sejak hari itu, Aisyah tidak hanya dikenal sebagai gadis baik hati, tetapi juga sebagai pahlawan desa. Ceritanya tersebar dari satu desa ke desa lain, menginspirasi banyak orang untuk selalu berbuat baik dan berani menghadapi masalah, tidak peduli seberapa besar tantangannya. Akhir bulan Maret itu, menjadi akhir yang penuh harapan, mengajarkan kepada mereka semua tentang kekuatan kebersamaan dan keberanian untuk menghadapi segala rintangan.

 

 

 

Penulis: Maria Samantha Deliano Tiara Hokeng

  Linger Vellichor In the Quiet of Fleeting Echoes We were twin flames once, or so they said.   Your name still rests at the top...