Kamis, 30 April 2026

 

Juangku 

 

Nampak sudah buku-buku menggunung,

Mata sayu, sendu, langkah terasa limbung.

Menuntut ilmu memang tidaklah mudah,

Tapi siapa yang tak ingin segera sudah? 

Niat, doa di sepertiga malam,

 

Langkah demi langkah kupastikan terarah.

Namun, siapa yang tahu?

Juangku terkadang penuh ragu,

Anganku seolah terlalu ingin dirindu.

 

Apakah badai yang memiliki waktu,

Menentukan sampai mana juangku akan berakhir.

 

Aku terdiam tanpa suara,

Mengingat senyum indah yang telah pergi ke surga,

Mengingat ia yang doanya sampai kini melindungiku.

 

Aku harus bisa…

Aku mampu…

Untuk ibu, ayah, dan masa depanku.

 

          Karya: Salwa Azzahra Muthi 


Kamis, 16 April 2026

 

                                                        Senja di Balik Jendela Lama

 Karya oleh: Arini Zakina

Langit senja itu berwarna jingga, seakan matahari enggan menutup hari. Arga duduk di samping jendela kayu yang mulai lapuk, senja memperhatikan jalan kecil di depan rumahnya sembari menikmati angin yang membawa aroma tanah basah. Ia telah tinggal di rumah sederhana itu selama lima tahun bersama neneknya setelah kedua orang tuanya pergi merantau ke kota lain.

Meskipun menjalani kehidupan yang sederhana, Arga merasa rumah tersebut penuh dengan kehangatan dan kenangan. Namun, di balik suasana tenang itu, ada rasa rindu yang kerap muncul, terutama saat ia melihat senja yang mengingatkannya pada momen bersama kedua orang tuanya.

Suara nenek memanggilnya dari dapur, mengganggu lamunannya. Arga segera membantu menyiapkan makan malam sambil menyampaikan bahwa ia akan menghadapi ujian keesokan harinya. Nenek memberikan saran agar ia belajar dengan baik dan tidak menyia-nyiakan peluang yang ada. Pada malam itu, Arga belajar dengan serius di kamarnya. Sesekali, ia menatap keluar jendela, berusaha tetap termotivasi. Ia menyadari bahwa harapan nenek dan orang tuanya ada di tangannya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia mampu meraih masa depan yang lebih baik meskipun harus terpisah dari orang tua.

Hari ujian berlangsung dengan cepat. Arga merasa cukup optimis mengenai hasil yang telah ia kerjakan. Suatu sore, ketika ia kembali duduk di dekat jendela seperti biasanya, ia mendengar suara kendaraan berhenti di depan rumah. Dengan rasa ingin tahu, ia keluar dan sangat terkejut melihat kedua orang tuanya berada di sana. Tanpa ragu, Arga langsung memeluk mereka dengan penuh emosi. Air mata yang selama ini terpendam akhirnya mengalir. Orang tuanya menjelaskan bahwa mereka sengaja pulang untuk menemuinya. Nenek yang menyaksikan adegan tersebut hanya tersenyum bahagia melihat keluarganya bersatu kembali.

Malam hari itu terasa istimewa. Mereka menikmati makan malam bersama sambil berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Arga menceritakan rutinitasnya di desa, cerita tentang sekolahnya, dan perjuangannya menghadapi ujian. Ayahnya memberikan pujian atas usaha Arga, sementara ibunya menatapnya dengan penuh kasih. Di saat tersebut, Arga merasakan kebahagiaan yang sederhana namun sangat berharga. Ia menyadari bahwa kehadiran keluarga adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Keesokan harinya, Arga kembali duduk di dekat jendela, memandangi senja yang perlahan menghilang. Namun kali ini, ia tidak merasakan kesendirian. Senja itu terasa lebih hangat, seolah membawa pengharapan baru. Ia mulai memahami bahwa hidup tidak hanya tentang kepemilikan, melainkan tentang menghargai setiap momen yang ada. Rumah sederhana, kasih sayang dari nenek, dan kehadiran orang tuanya menjadi sumber kekuatan bagi dirinya untuk terus melanjutkan langkah. Dengan senyum kecil, Arga memandang langit yang mulai gelap dan berbisik dalam hati, mengucapkan rasa syukur atas semua yang dimilikinya.


“DLH Kota Yogyakarta Gelar Bersih Sungai Code, Mahasiswa STIA “AAN” Turut Berpartisipasi”

  peserta kerja bakti membersihkan bantaran Sungai Code, Jumat (17/4/2026). Yogyakarta – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta mengge...