Jumat, 12 Desember 2025

“Jam Dinding yang Bernapas”

Di sebuah rumah tua yang terletak di ujung kebun pala, tergantung sebuah jam dinding tua berwarna coklat kusam. Tidak ada yang istimewa dari jam itu—sampai kau berdiri tepat di hadapannya dan menutup mata selama lima detik.

 

Saat detik kelima berlalu, jam itu mulai... bernapas.

Pelan, seperti seseorang yang baru bangun dari tidur panjang. Napasnya terdengar seperti desir kain tua yang disentuh angin.

 

Raya, cucu pemilik rumah itu, adalah orang pertama yang menyadarinya.

Malam itu, ketika listrik padam, ia berjalan melewati ruang tengah hanya dengan cahaya lilin. Lilin itu tiba-tiba meredup, seolah takut pada sesuatu. Raya berhenti.

Ia mendengar tarikan napas—panjang, berat, dan teratur—dari arah dinding.

 

Jam itu perlahan bergetar… lalu berbicara.

Suara tuanya terdengar menggema seperti kayu retak.

“Waktu yang kaulihat di wajahku… bukan waktumu.”

 

Raya merinding.

“Apa maksudmu?”

 

Detik jam berhenti. Jarumnya tidak bergerak, namun sang jam tetap menghela napas.

“Aku menyimpan waktu yang hilang. Waktu yang manusia buang tanpa sadar. Setiap penyesalan, setiap niat yang gagal, setiap rencana yang hanya tinggal angan—semua itu menjadi milikku.”

 

Raya menelan ludah.

“Lalu… kenapa kau bicara padaku?”

 

Jam itu menghembuskan napas yang lebih berat.

“Karena kau punya menit yang ingin kautarik kembali.”

Raya langsung paham: menit di mana ia terlambat meminta maaf pada ibunya sebelum kepergian terakhir.

Sesuatu yang selalu menghantuinya.

“Bisakah… aku mengambilnya kembali?” suara Raya gemetar.

 

Jam itu tidak menjawab dengan kata-kata.

Jarumnya bergerak mundur dengan cepat—tik-tik-tik-tik—seperti seseorang yang sedang menata ulang kenangan. Ruangan mendadak dipenuhi aroma bunga melati yang dulu sering dipakai ibunya.

 

Lilin di tangan Raya padam.

 

Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di ruang tamu.

Ia berdiri di dapur terang dengan aroma sayur sop. Ibunya sedang memotong wortel, tersenyum seperti hari biasa. Senyum yang sudah lama hilang.

 

Raya tahu ia hanya diberi satu menit.

Satu menit untuk melakukan hal yang tak pernah sempat ia lakukan.

Ia memeluk ibunya dari belakang.

“Aku pulang, Bu… maaf kalau selama ini aku terlambat.”

Ibunya tertawa kecil. “Kamu kenapa tiba-tiba sedih begitu?”

Raya tidak menjawab. Ia hanya memeluk lebih erat.

Ketika menit itu habis, semua cahaya runtuh seperti pasir.

Raya kembali berdiri di depan jam dinding yang kini diam, tidak bernapas lagi.

Jarum jam menunjukkan waktu yang sama seperti tadi pertama kali ia melihatnya.

Namun kali ini Raya tersenyum.

 

Ia tidak mendapatkan ibunya kembali—tapi ia mendapatkan waktu yang tidak lagi menusuk.

 

Jam itu berderak pelan, lalu bisikannya memudar:

“Waktu yang dipulangkan… tidak akan hilang.”

 

 Oleh: Eviani candran D.P

 


Sumatera Dilanda Banjir dan Longsor: Evakuasi Terhambat, Korban Terus Bertambah

 


(Sumber foto: Google)

Yogyakarta, 7 Desember 2025 - Bencana banjir dan longsor melanda sebagian besar wilayah Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat). Laporan terbaru menunjukkan bahwa musibah ini menimbulkan dampak yang sangat besar bagi masyarakat di ketiga provinsi tersebut. Situasi ini membuat berbagai pihak meningkatkan kewaspadaan karena kondisi di lapangan masih berubah-ubah dan memerlukan penanganan cepat.

Jumlah korban jiwa terus bertambah dan kini telah mencapai 940 orang. Selain itu, ratusan warga masih belum diketahui keberadaannya, dengan jumlah orang hilang tercatat sebanyak 276 jiwa. Ribuan korban lainnya mengalami luka-luka dan masih dalam proses penanganan medis. Tingginya jumlah korban ini menunjukkan besarnya bencana yang terjadi selama beberapa hari terakhir, serta sulitnya proses evakuasi yang dilakukan di daerah-daerah terpencil.

Kerusakan terhadap permukiman warga juga tidak kalah parah. Sekitar 147 ribu rumah mengalami kerusakan, mulai dari rusak ringan hingga hancur total. Kondisi ini menyebabkan banyak keluarga harus meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengungsi ke lokasi yang dianggap lebih aman. Banyak pengungsi masih membutuhkan bantuan seperti makanan, air bersih, selimut, serta layanan kesehatan yang memadai.

Secara geografis, bencana ini berdampak pada 52 kabupaten/kota. Kabupaten Agam di Sumatera Barat menjadi wilayah dengan jumlah korban meninggal tertinggi, sementara Aceh Utara mencatat jumlah pengungsi terbesar, mencapai lebih dari 300 ribu orang. Besarnya angka pengungsian ini dipengaruhi oleh kerusakan pemukiman dan meluasnya area terdampak banjir.

Proses evakuasi hingga saat ini masih berlangsung. Petugas terus mencoba membuka akses ke daerah-daerah yang terisolasi akibat jalanan tertutup material longsor. Kondisi infrastruktur juga masih belum pulih sepenuhnya. Listrik dan jaringan komunikasi di sejumlah wilayah masih belum stabil sehingga menghambat proses penyaluran bantuan yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Upaya pembersihan material bencana, pendataan ulang, serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi para pengungsi menjadi fokus utama pemerintah dan relawan. Situasi di lapangan menunjukkan bahwa proses pemulihan masih membutuhkan waktu panjang, mengingat luasnya wilayah terdampak dan banyaknya warga yang harus dibantu. Para petugas juga terus mengingatkan warga untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan yang bisa terjadi akibat kondisi cuaca yang belum sepenuhnya membaik.

Reporter: Eviani candran D.P


Kebersamaan yang Indah

Kebersamaan yang Indah Karya: Dhini Setyawati  Manusia tak hidup seorang diri, Tumbuh bersama dalam lingkaran sesama. Saling menyapa, saling...