Di
sebuah rumah tua yang terletak di ujung kebun pala, tergantung sebuah jam
dinding tua berwarna coklat kusam. Tidak ada yang istimewa dari jam
itu—sampai kau berdiri tepat di hadapannya dan menutup mata selama lima detik.
Saat detik kelima berlalu, jam
itu mulai... bernapas.
Pelan, seperti seseorang yang
baru bangun dari tidur panjang. Napasnya terdengar seperti desir kain tua yang
disentuh angin.
Raya, cucu pemilik rumah itu,
adalah orang pertama yang menyadarinya.
Malam itu, ketika listrik padam,
ia berjalan melewati ruang tengah hanya dengan cahaya lilin. Lilin
itu tiba-tiba meredup, seolah takut pada sesuatu. Raya berhenti.
Ia mendengar tarikan napas—panjang,
berat, dan teratur—dari arah dinding.
Jam itu perlahan bergetar… lalu
berbicara.
Suara tuanya terdengar menggema
seperti kayu retak.
“Waktu yang kaulihat di wajahku…
bukan waktumu.”
Raya merinding.
“Apa maksudmu?”
Detik jam berhenti. Jarumnya
tidak bergerak, namun sang jam tetap menghela napas.
“Aku menyimpan waktu yang hilang.
Waktu yang manusia buang tanpa sadar. Setiap penyesalan, setiap niat yang
gagal, setiap rencana yang hanya tinggal angan—semua itu menjadi milikku.”
Raya menelan ludah.
“Lalu… kenapa kau bicara padaku?”
Jam itu menghembuskan napas yang
lebih berat.
“Karena kau punya menit yang
ingin kautarik kembali.”
Raya langsung paham: menit di
mana ia terlambat meminta maaf pada ibunya sebelum kepergian terakhir.
Sesuatu yang selalu
menghantuinya.
“Bisakah… aku mengambilnya
kembali?” suara Raya gemetar.
Jam itu tidak menjawab dengan
kata-kata.
Jarumnya bergerak mundur dengan
cepat—tik-tik-tik-tik—seperti seseorang yang sedang menata ulang kenangan.
Ruangan mendadak dipenuhi aroma bunga melati yang dulu sering dipakai ibunya.
Lilin di tangan Raya padam.
Ketika ia membuka mata, ia tidak
lagi berada di ruang tamu.
Ia berdiri di dapur terang dengan
aroma sayur sop. Ibunya sedang memotong wortel, tersenyum seperti hari biasa. Senyum
yang sudah lama hilang.
Raya tahu ia hanya diberi satu
menit.
Satu menit untuk melakukan hal
yang tak pernah sempat ia lakukan.
Ia memeluk ibunya dari belakang.
“Aku pulang, Bu… maaf kalau
selama ini aku terlambat.”
Ibunya tertawa kecil. “Kamu
kenapa tiba-tiba sedih begitu?”
Raya tidak menjawab. Ia hanya
memeluk lebih erat.
Ketika menit itu habis, semua
cahaya runtuh seperti pasir.
Raya kembali berdiri di depan jam
dinding yang kini diam, tidak bernapas lagi.
Jarum jam menunjukkan waktu yang
sama seperti tadi pertama kali ia melihatnya.
Namun kali ini Raya tersenyum.
Ia tidak mendapatkan ibunya
kembali—tapi ia mendapatkan waktu yang tidak lagi menusuk.
Jam itu berderak pelan, lalu
bisikannya memudar:
“Waktu yang dipulangkan… tidak
akan hilang.”