Di sudut kebun yang sepi, tumbuhlah sebuah tanaman kacang polong bernama Pilo. Ia tampak biasa saja, dengan sulur-sulur kecil yang merambat mencari tumpuan. Daun-daunnya hijau segar, berkilau diterpa embun pagi. Namun, ada satu rahasia yang tidak pernah diketahui manusia: Pilo bisa mendengar.
Setiap pagi, Pilo mendengar suara embun jatuh dari ujung daun seperti nada-nada lembut dari alat musik alam. Ia menyimak kicauan burung di kejauhan yang saling bersahutan, seolah menyapa dunia dengan riang. Ia juga mendengar derap langkah pemilik kebun yang membawa gembor air, langkah yang selalu diiringi gemerincing kecil suara air di dalamnya. Namun, yang paling Pilo sukai ialah suara gemericik air dari selang yang mengalir ke tanah. Bagi Pilo, suara itu merupakan lagu kehidupan aliran yang memberi kekuatan untuk terus tumbuh.
Suatu siang, Pilo mendengar suara gesekan selang yang diseret. Lalu, air yang biasanya mengalir ke dekat akarnya dipindahkan ke sisi lain kebun. Pilo mendengarkan dengan saksama. Tak ada lagi gemericik air di dekatnya. Tanah di sekitar akarnya mulai terasa kering, gersang. Ia menajamkan pendengarannya lebih jauh. Jauh di ujung kebun, samar-samar ia mendengar suara air menetes. Meski tubuhnya tak bisa bergerak, Pilo memutuskan untuk mencoba. Ia mengirim pesan diam-diam pada akarnya, “Ayo… kita harus menuju ke sana!”
Setiap malam, saat kebun sunyi dan hanya ada suara jangkrik, Pilo mendorong ujung akarnya sedikit lebih dalam, sedikit lebih jauh. Tanpa suara, tanpa hentakan, hanya gerakan lembut seperti bisikan tanah. Akarnya menjelajah, mencari-cari celah lembap yang memberi harapan.
Namun hari-hari berikutnya membawa tantangan. Angin kering berhembus, daun-daun di kebun mulai merunduk kelelahan. Musim kemarau datang lebih panjang dari biasanya. Embun pagi yang dulu sering ia dengar kini jarang muncul. Suara gemericik air pun makin jauh. Tanah di sekitar Pilo mulai retak-retak.
“Pilo…” bisik suara lemah dari rumput liar di dekatnya, “Kau juga kehausan?”
Pilo berusaha tersenyum lewat getaran kecil di daunnya. “Iya… tapi aku harus tetap mencari air. Kita tidak boleh menyerah.”
Rumput itu diam sejenak, lalu berkata, “Kalau kau menemukannya… bagikan sedikit untukku, ya?”
“Tentu” jawab Pilo lembut. Dalam hatinya, ia tahu waktu mereka tak banyak. Akarnya harus menemukan air sebelum semuanya terlambat.
Malam demi malam, Pilo terus merangkak di bawah tanah. Setiap kali ia mendengar suara air, ia menguatkan dirinya untuk merambat lebih jauh. Terkadang ia mendengar batu-batu kecil yang bergeser, atau cacing tanah yang bergumam pelan saat dilewati akarnya. “Pergilah, Pilo… semoga kau berhasil,” ucap salah satu cacing, seolah mengerti perjuangannya.
Hingga suatu pagi, setelah perjalanan panjang di bawah tanah yang kian gersang, ujung akarnya akhirnya menyentuh kelembapan. Air! Ia menyerap tetesan itu dengan penuh syukur. Energi segar merambat ke batangnya, mengaliri daun-daun yang mulai layu.
Di atas tanah, pemilik kebun datang dengan wajah heran. Ia melihat tanaman kacang polongnya menjalar menjauhi tiang penyangga, sulur-sulurnya meluncur ke arah tanah di mana selang air terletak. Pemilik kebun berjongkok, mengamati dengan saksama. “Aneh sekali… seakan kau bisa mendengar air, ya?” gumamnya sambil tersenyum.
Pilo diam saja. Ia tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Tapi daun-daunnya bergetar pelan tertiup angin pagi, seolah-olah tertawa kecil. Lalu diam-diam, ia mengirimkan air ke rumput kecil di dekatnya, menepati janji yang pernah ia ucapkan.
Di sudut kebun itu, rahasia Pilo tersimpan rapi, sebuah rahasia tentang keberanian, kesabaran, dan kemampuan mendengarkan dunia yang tak pernah diam.
(By: Alfina Dwi Aulia Latifa)




