Rabu, 23 Juli 2025

Rahasia di Balik Daun

Di sudut kebun yang sepi, tumbuhlah sebuah tanaman kacang polong bernama Pilo. Ia tampak biasa saja, dengan sulur-sulur kecil yang merambat mencari tumpuan. Daun-daunnya hijau segar, berkilau diterpa embun pagi. Namun, ada satu rahasia yang tidak pernah diketahui manusia: Pilo bisa mendengar.

Setiap pagi, Pilo mendengar suara embun jatuh dari ujung daun seperti nada-nada lembut dari alat musik alam. Ia menyimak kicauan burung di kejauhan yang saling bersahutan, seolah menyapa dunia dengan riang. Ia juga mendengar derap langkah pemilik kebun yang membawa gembor air, langkah yang selalu diiringi gemerincing kecil suara air di dalamnya. Namun, yang paling Pilo sukai ialah suara gemericik air dari selang yang mengalir ke tanah. Bagi Pilo, suara itu merupakan lagu kehidupan aliran yang memberi kekuatan untuk terus tumbuh.

Suatu siang, Pilo mendengar suara gesekan selang yang diseret. Lalu, air yang biasanya mengalir ke dekat akarnya dipindahkan ke sisi lain kebun. Pilo mendengarkan dengan saksama. Tak ada lagi gemericik air di dekatnya. Tanah di sekitar akarnya mulai terasa kering, gersang. Ia menajamkan pendengarannya lebih jauh. Jauh di ujung kebun, samar-samar ia mendengar suara air menetes. Meski tubuhnya tak bisa bergerak, Pilo memutuskan untuk mencoba. Ia mengirim pesan diam-diam pada akarnya, “Ayo… kita harus menuju ke sana!

Setiap malam, saat kebun sunyi dan hanya ada suara jangkrik, Pilo mendorong ujung akarnya sedikit lebih dalam, sedikit lebih jauh. Tanpa suara, tanpa hentakan, hanya gerakan lembut seperti bisikan tanah. Akarnya menjelajah, mencari-cari celah lembap yang memberi harapan.

Namun hari-hari berikutnya membawa tantangan. Angin kering berhembus, daun-daun di kebun mulai merunduk kelelahan. Musim kemarau datang lebih panjang dari biasanya. Embun pagi yang dulu sering ia dengar kini jarang muncul. Suara gemericik air pun makin jauh. Tanah di sekitar Pilo mulai retak-retak.

“Pilo…” bisik suara lemah dari rumput liar di dekatnya, “Kau juga kehausan?”

Pilo berusaha tersenyum lewat getaran kecil di daunnya. “Iya… tapi aku harus tetap mencari air. Kita tidak boleh menyerah.”

Rumput itu diam sejenak, lalu berkata, “Kalau kau menemukannya… bagikan sedikit untukku, ya?”

“Tentu” jawab Pilo lembut. Dalam hatinya, ia tahu waktu mereka tak banyak. Akarnya harus menemukan air sebelum semuanya terlambat.

Malam demi malam, Pilo terus merangkak di bawah tanah. Setiap kali ia mendengar suara air, ia menguatkan dirinya untuk merambat lebih jauh. Terkadang ia mendengar batu-batu kecil yang bergeser, atau cacing tanah yang bergumam pelan saat dilewati akarnya. “Pergilah, Pilo… semoga kau berhasil,” ucap salah satu cacing, seolah mengerti perjuangannya.

Hingga suatu pagi, setelah perjalanan panjang di bawah tanah yang kian gersang, ujung akarnya akhirnya menyentuh kelembapan. Air! Ia menyerap tetesan itu dengan penuh syukur. Energi segar merambat ke batangnya, mengaliri daun-daun yang mulai layu.

Di atas tanah, pemilik kebun datang dengan wajah heran. Ia melihat tanaman kacang polongnya menjalar menjauhi tiang penyangga, sulur-sulurnya meluncur ke arah tanah di mana selang air terletak. Pemilik kebun berjongkok, mengamati dengan saksama. “Aneh sekali… seakan kau bisa mendengar air, ya?” gumamnya sambil tersenyum.

Pilo diam saja. Ia tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Tapi daun-daunnya bergetar pelan tertiup angin pagi, seolah-olah tertawa kecil. Lalu diam-diam, ia mengirimkan air ke rumput kecil di dekatnya, menepati janji yang pernah ia ucapkan.

Di sudut kebun itu, rahasia Pilo tersimpan rapi, sebuah rahasia tentang keberanian, kesabaran, dan kemampuan mendengarkan dunia yang tak pernah diam.

(By: Alfina Dwi Aulia Latifa)

 

 

 

Minggu, 13 Juli 2025

Kontingen Sleman Suguhkan Kisah Roro Jonggrang di Perkemahan Wirakarya DIY 2025

 



Sumber: SAKA KOMINFO SLEMAN

KULON PROGO  -  Pentas seni menjadi salah satu momen yang paling dinanti dalam menyemarakkan rangkaian kegiatan Perkemahan Wirakarya Daerah Tahun 2025. Kegiatan ini digelar pada Sabtu, 5 Juli 2025 di Kampung Pramuka Sokoraja, Wijimulyo, Nanggulan, Kulon Progo.

Kontingen Cabang (Koncab) Sleman menampilkan pertunjukan yang memukau dengan membawakan kisah legendaris Roro Jonggrang yang telah dikenal luas di masyarakat Yogyakarta.

Kisah Roro Jonggrang disuguhkan dengan penampilan yang atraktif dan penuh energi. Tidak hanya menghibur, penampilan ini menjadi simbol budaya Yogyakarta yang dikemas melalui perpaduan gerak, tari, dan musik yang selaras serta harmonis. Setiap adegan disuguhkan dengan ekspresi mendalam, penghayatan kuat, serta kostum yang luar biasa, menjadikan penampilan tersebut sebagai sarana pelestarian budaya  yang sarat nilai-nilai luhur warisan nenek moyang.

Persiapan dimulai sejak jauh hari, yaitu dengan merancang alur cerita, membagi peran, menyusun naskah, menyiapkan properti, serta menyusun jadwal latihan. Latihan rutin, gladi kotor, hingga gladi bersih menjadi kunci untuk menyempurnakan dan menyukseskan penampilan menjelang hari-H.

Namun, jalan menuju panggung tidak selalu mulus. Koncab Sleman menghadapi berbagai tantangan. Meskipun demikian, semangat untuk tampil dan melestarikan budaya tetap membakar seluruh tim.

 

Sumber: Pramuka DIY

Sebagai penutup, Koncab Sleman menghadirkan flashmob yang sontak menggugah semangat penonton serta memperkuat pertunjukan dalam memeriahkan suasana malam itu.

Tepuk tangan yang meriah menjadi bukti keberhasilan mereka dalam mengangkat budaya Kabupaten Sleman hal ini diharapkan menjadi wujud nyata bahwa berkarya dan mencintai budaya dapat menjadi ruang untuk menyuarakan nilai-nilai budi pekerti yang mengakar kuat dalam jiwa Pramuka, khususnya di kalangan generasi muda Pramuka Sleman.

 

Reporter : Muhamad Farhan Aditya

 


PENDAKIAN SLAYER ANGKATAN XXVIII SUKSES DIGELAR DI GUNUNG LAWU ‘’BUKTIKAN SOLIDARITAS DAN KETANGGUHAN ‘’

 


Yogyakarta - Gunung Lawu via Cetho, Gumeng, Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar, Jawa Tengah. 17-20 Juni 2025, Kegiatan Pendakian Slayer Angkatan XXVIII yang dilaksanakan oleh Mapala AGNY telah berlangsung dengan lancar dan penuh semangat. Pendakian yang dilaksanakan selama empat hari, mulai dari tanggal 17 hingga 20 Juni 2025, mengambil jalur Cetho sebagai rute utama menuju Puncak Gunung Lawu.

Pendakian slayer ini merupakan kegiatan wajib bagi anggota muda sebagai syarat pengambilan nomor anggota dan simbolisasi perubahan status keanggotan. Dalam tradisinya, peserta yang telah menyelesaikan pendakian ini akan mengganti slayer mereka dari warna oranye menjadi ungu, yang menandakan bahwa mereka telah menjadi anggota penuh dan berhasil menyelesaikan rangkaian pendidikan lanjutan.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, manajemen waktu dalam pendakian kali ini mengalami perubahan yang signifikan. Jika biasanya pendakian ditempuh dalam waktu dua hari satu malam, kali ini dilaksanakan selama tiga hari satu malam. Keputusan tersebut terbukti tepat, karena waktu tempuh pendakian justru menjadi lebih efisien. Dengan waktu istirahat yang cukup, peserta mampu melakukan perjalanan naik dan turun gunung dengan lebih cepat dan dalam kondisi prima.

‘’Menurut saya untuk pendakian slayer kali ini Alhamdulillah berjalan dengan baik, jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya manajemen waktu kami sedikit berbeda, biasanya kami menghabiskan waktu dua hari satu malam. Namun, karena istirahat kami cukup sehingga meskipun harinya lebih lama, tapi waktu yang digunakan untuk naik dan turun gunung lebih cepat dari biasanya’’,  ujar Ika Wijayanti selaku Ketua Umum Mapala AGNY.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pembuktian fisik dan mental, tetapi juga menjadi momen sakral yang mempererat solidaritas dan jiwa korsa antaranggota. Dengan semangat kebersamaan, para peserta berhasil menuntaskan pekerjaannya hingga puncak, membawa pulang bukan hanya slayer ungu tetapi juga dengan semangat baru, wawasan serta pengalaman berharga yang tak ternilai.

Reporter : Shelmita Putri Anjani

 

 

Sabtu, 05 Juli 2025

IKAPELAMAKU DIY Rayakan Milad ke-55 dan Hari Pattimura dengan Semangat ”Kalesang Hidop Orang Sudara”

 


Yogyakarta - Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Maluku (IKAPELAMAKU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merayakan milad organisasi yang ke-55 tahun sekaligus memperingati Hari Pattimura dalam acara bertajuk Kalesang Hidop Orang Sudara” pada  Sabtu, 21 juni 2025. Acara ini menjadi ajang silaturahmi, refleksi sejarah, dan penguatan identitas budaya Maluku di tanah rantau.

Meskipun Hari Pattimura resmi diperingati setiap 15 Mei, IKAPELAMAKU DIY sengaja menggabungkannya dengan milad organisasi untuk memperkuat makna perjuangan dan kebersamaan. Tema ”Kalesang Hidop Orang Sudara” (Hidup Rukun Bersama Saudara) dipilih sebagai pengingat pentingnya persatuan dalam keberagaman, terutama bagi mahasiswa Maluku yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta.

Acara dibuka dengan sambutan dari M. Hatta Tausikal selaku Ketua IKAPELAMAKU DIY, menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai kebersamaan dan melanjutkan semangat kepahlawanan Pattimura dalam bentuk kontribusi nyata di dunia pendidikan. ”Kami ingin mahasiswa Maluku tidak hanya sukses secara akademik, tetapi juga aktif membangun jaringan dan melestarikan budaya,” ujarnya.

Rangkaian acara diisi dengan talkshow bertema ”Pattimura dan Relevansi Perjuangannya bagi Pemuda Maluku Masa Kini”, menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi dan tokoh masyarakat Maluku. Selain itu, pertunjukan budaya turut memeriahkan acara, seperti Tarian Cakalele, lagu-lagu daerah Maluku, serta pembacaan puisi bertema perjuangan. Peserta terlihat antusias, terutama saat menyaksikan penampilan kolaborasi musik tradisional dan modern yang menyatukan generasi muda dengan akar budayanya.

Kehadiran perwakilan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Super JIMO STIA "AAN" Yogyakarta menambah semarak acara. Salah satu anggota LPM yang hadir menyatakan, ”Acara seperti ini penting untuk mendokumentasikan dinamika mahasiswa daerah sekaligus mempromosikan budaya Maluku kepada masyarakat luas”, ujarnya.

Perayaan milad ke-55 IKAPELAMAKU DIY dan Hari Pattimura tidak hanya menjadi ajang refleksi, tetapi juga menjadi sumber motivasi bagi generasi muda Maluku. Melalui kolaborasi, edukasi, dan pelestarian budaya, mereka membuktikan bahwa semangat Pattimura tetap hidup dalam setiap langkah perjuangan masa kini.

Reporter : Miranti

Kegiatan PKM STIA “AAN” Yogyakarta 2025: Wujud Nyata Mahasiswa dalam Memberdayakan Masyarakat Dusun Bibis

 

Yogyakarta — STIA "AAN" Yogyakarta kembali menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) tahun 2025 yang berlangsung selama tiga hari, tepatnya pada 21–23 Juni 2025. Kegiatan yang bertempat di Padukuhan Bibis, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo ini sukses dilaksanakan dengan melibatkan sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIA "AAN" Yogyakarta sebagai pelaksana kegiatan.

Ketua Panitia PKM 2025, Fajar Nur Anasti, menjelaskan bahwa kegiatan PKM ini merupakan bentuk implementasi dari semangat mahasiswa untuk turun langsung ke masyarakat dalam upaya pelatihan, sosialisasi, dan pemberdayaan masyarakat desa. "PKM ini mirip dengan program KKN, tetapi hanya berlangsung selama tiga hari. Tujuan utamanya ialah memberdayakan masyarakat Padukuhan Bibis agar mampu memanfaatkan bahan pangan lokal menjadi sebuah produk yang bernilai jual," ujar Fajar.

Fajar juga menyampaikan bahwa kegiatan ini disambut baik oleh masyarakat setempat. Audiens dalam kegiatan ini terdiri atas warga Padukuhan Bibis serta staf dan pamong Kalurahan Hargowilis. Ia menambahkan, bahwa meskipun terdapat kendala kecil dalam pelaksanaan, hal tersebut tidak mengganggu jalannya kegiatan secara keseluruhan. "Kegiatannya berjalan sangat lancar dan sesuai harapan. Masyarakat sangat antusias dan menerima kami dengan hangat," imbuhnya.

Di balik kesuksesan pelaksanaan kegiatan PKM 2025, Fajar juga membagikan kesan pribadinya. "Saya sangat senang dan bangga bisa melaksanakan kegiatan ini dengan baik. Momen ini menjadi pengalaman berharga karena kami dapat bercengkerama, bertukar cerita, dan mengenal masyarakat lebih dekat. Semoga kegiatan ini menjadi wadah yang bermanfaat, tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi panitia. Harapannya, ke depan PKM bisa lebih baik dan lebih inovatif dari tahun ke tahun," tutup Fajar.

Presiden BEM STIA "AAN" Yogyakarta, Muhammad Ibnu Qushoy, turut memberikan tanggapannya terkait kegiatan PKM 2025 ini. Ia menyampaikan rasa bangganya melihat semangat dan kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat. "Sebagai Presiden BEM, saya merasa sangat bangga dan terinspirasi melihat antusiasme teman-teman mahasiswa. Ini membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga peduli terhadap kondisi sosial masyarakat, khususnya di Kulon Progo."

Ibnu menambahkan bahwa pelaksanaan PKM tahun ini menunjukkan peningkatan signifikan dari berbagai aspek. "Dari segi perencanaan, pelaksanaan, hingga dampaknya terhadap masyarakat, semua meningkat. Mahasiswa benar-benar berperan sebagai agen perubahan melalui pendampingan dan pemberian solusi nyata terhadap permasalahan lokal," ujarnya.

Sebagai penutup, Ibnu mengajak seluruh mahasiswa untuk terus menjaga semangat pengabdian. "Jangan jadikan PKM hanya sebagai agenda tahunan, tapi jadikan sebagai bagian dari karakter kita sebagai insan akademik yang kritis dan solutif. Melalui PKM, kita belajar memberi sekaligus memahami realitas sosial. Ke depan, saya berharap PKM bisa menjangkau lebih banyak wilayah dan kelompok masyarakat, serta terus meningkatkan kualitas programnya, termasuk aspek keberlanjutan pasca pengabdian," pungkasnya.

 

Kegiatan PKM STIA "AAN" 2025 ini membuktikan bahwa semangat gotong royong dan kontribusi nyata mahasiswa tetap hidup, menjadi jembatan antara dunia akademik dan kebutuhan nyata masyarakat.

 

Reporter: Mutia Zahra Kinehru

 

 


Kebersamaan yang Indah

Kebersamaan yang Indah Karya: Dhini Setyawati  Manusia tak hidup seorang diri, Tumbuh bersama dalam lingkaran sesama. Saling menyapa, saling...