Oleh: Arinta Eka Putri
Di sudut kota yang tak pernah lelap
Berdiri kokoh gedung-gedung tinggi menantang langit
Sementara, di bayang-bayangnya
Berjejer rapat kardus-kardus menua
Rumah bagi mereka yang terlupa
Setiap pagi kaki-kaki bergegas
Mengejar waktu dalam balutan jas dan dasi
Tak sempat menoleh pada nenek tua
Yang mengais rezeki di antara sampah kota
Tangannya yang keriput masih teguh bekerja
Anak-anak berlarian di trotoar
Bukan mengejar layangan atau bermain kelereng
Tapi mengejar recehan dari lampu merah ke lampu merah
Sementara teman sebaya mereka
Duduk nyaman di bangku sekolah
Di warung kopi pinggir jalan
Para bapak berdebat tentang politik dan ekonomi
Mengutuk kemiskinan dan ketidakadilan
Namun, lupa menatap cermin
Yang memantulkan sikap kita sendiri
Kemanusiaan bukan sekadar kata
Yang indah diucap dalam pidato
Ia adalah tindakan nyata
Mengulurkan tangan pada sesama
Menghapus batas antara ‘mereka’ dan ‘kita’
Di manakah letak keadilan
Ketika sebagian orang membuang makanan
Sementara yang lain mengais sisa
Di manakah rasa kemanusiaan
Ketika kita sibuk menimbun harta
Tapi lupa berbagi dengan sesama
Bangunlah dari tidur panjang
Lepaskan topeng kepalsuan
Mari kita bangun negeri ini
Dengan kasih dan kepedulian
Dalam detak jantung kemanusiaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar